coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

Kupu-Kupu di Balik Kaca

Filed under: pengennya teh nulis cerpen, tapi jadinya?? — cherry-calosa at 9:41 pm on Friday, June 22, 2007

  Segala keindahan di bumi seolah hilang makna begitu labuhan mataku terhenti di wujudmu. Indah yang terindah dari semua keindahan yang terindah sekalipun. Duhai, kesempurnaan takterdefinisikan telah memahat rupamu sedemikian, hingga ketakjubanku meruah membuncah ke segala arah. Merah dan putih berpadu apik menggradasi di tiap helai mahkotamu yang tampak teramat rapuh—bisa setiap saat terlepas dari ikatan kuat kelopakmu, lalu gugur ke bawah dan mengering. Tangkaimu ramping sangat, tapi ia kuat menopang daunmu yang tebal dan kehijauan itu.

Ini tentangmu, Bunga.

Kau di sana. Aku di sini.
Kita terpisah, Bunga. Di antara kita terbentang jarak, takkunjung mendekat—untungnya jarak itu takjua menjauh. Kau takmengenalku, tapi kusangat mengenalmu. Aku takpeduli. Lirikan sesaatmu ke arahku berarti banyak, meski itu taksebanding dengan tatapan tanpa hentiku ke arahmu yang agaknya takberarti apapun bagimu. Aku takhirau. Kita takpernah bercakap sejak kau masih kuncup usia muda hingga memekar dalam kedewasaan. Aku takpikir. Duniaku yang takluas, hening, dan gersang, begitu jauh berseberangan dengan duniamu yang takberbatas dan penuh warna. Tak jadi masalah bagiku. Walaupun kau angkuh, keangkuhanmu menjelma keanggunan yang memesona bagiku. Ya, begitu sombongnya engkau setelah sadar akan kecantikanmu yang memabukkan. Namun, bagiku semua itu takpenting, Bunga. Yang penting adalah:

Aku tetap di sini. Kau tetap di sana.

Bunga, sejatinya iri aku pada Embun.
Dengan nyamannya ia bergayut mesra di helai-helai mahkotamu, setiap pagi. Ujung helai mahkotamu mengayun saat berat tetesnya membebani, lalu dengan sentakan halus ia terjun bebas ke tanah. Terserap hilang, memang, tapi ia sempat menatapimu sembari berucap selamat tinggal sebagai salam perpisahan. Ia pun telah sempat berenang-renang mengaliri ragamu. Akhir yang menyenangkan baginya, karena sebelum melenyap terserap tanah atau menjelma uap, ia sempat merasai nikmatnya bersamamu. Andai mungkin, kuingin mati setelah sempat kurasai semua itu.

Bisakah?

Iri juga aku pada Matahari.
Setiap pagi pula, dengan megah sinarnya—yang terlalu angkuh menurutku—ia menyapamu, menyenyumimu, membelai lembut tiap bagian tubuhmu. Kulihat kelopakmu mengembang menyambutnya. Kau balas tersenyum padanya, seakan kau Putri Tidur yang terbangunkan berkat kecupan Sang Pangeran. Geram aku dibuatnya, Bunga. Takrela kuhendak biarkan Matahari merajai pagimu. Seandainya bisa, kuingin tiap pagi kau terbangun berkat sentuhanku di tangkai sarimu.

Relakah engkau?

Aku juga iri pada Angin.
Ia gemar berhembus nakal meniupi tiap lekukmu. Sesekali kau mengangguk terkantuk, sekali waktu terkejut merunduk, di lain saat bergoyang menari. Kau tampak bahagia, Bunga. Ia benar-benar seperti penghibur yang baik kala kaulelah dalam jenuh. Meski pada suatu ketika ia dengan tanpa rasa kasihan mencerabut helai mahkotamu dari kelopak, menerbangkannya, lalu menjatuhkannya ke tanah untuk mengering dan mati, kau takmarah. Kau hanya menjerit sekali, entah jeritan marah atau rela atau pasrah. Jika saja kumampu alirkan kesejukan bagimu.

Takmarahkah engkau kala kulebih senang membuaimu dalam mimpi?

Duh, walaupun bentangan jarak takpernah menjauh di antara kita, tapi waktu jua yang berkuasa atas kita, Bunga. Ia menjadikanmu, menjadikanku, letih raga letih jiwa letih daya karena usia. Kita telah semakin menua. Helai mahkotamu taklagi subur berhimpitan, mulai menjarang karena sebagian besar telah mengering mati. Takada lagi gradasi merah-putih yang padu, hanya coklat busuk yang mewarnainya. Embun enggan bertualang lagi mengalirimu. Matahari kini menyapamu dengan ganas sinarnya. Angin terkadang bertiup kecil dengan semangat memakan habis tanda sisa usiamu. Segala berubah, taklagi sama.

Lalu aku?

Aku masih di sini, Bunga.
Mengagumimu tetap merupakan nikmat bagiku. Memujimu tetap takbosan kusahutkan. Inikah cinta yang tulus, Bunga? Atau ini hanya sebuah ketertarikan obsesif yang dipenuhi halusinasi?

Lihatlah kemari. Sayapku mulai mematah, Bunga. Taklagi bisa ia bantu menerbangkanku mengitari duniaku agar kubisa pandangimu dari beragam sudut yang tersedia. Lihat, mataku mulai mengabur, Bunga. Visualisasi ragamu kini hanya mampu kucipta dalam imaji. Lihatlah, Bunga, lihat kemari, lihat kesini.

Oh, jangan dulu mati, Bunga. Ke mana perginya segala keangkuhan, keanggunan, pesona, dan kecantikan yang kaubangga-banggakan itu? Kenapa hanya keluh yang kaulontarkan? Mana puji syukurmu pada Sang Maha yang menganugerahimu kesempatan mengada di dunia dengan segala kesempurnaan? Bunga, berhentilah meratapi saat menjelang ajalmu.

Tenanglah, percayalah padaku, kau tidak akan mati begitu saja, Bunga.
Tidak akan, sebelum kau sempat mengenalku, menatapku, bercakap denganku, sebelum dunia kita sempat menyatu, sebelum kusempat menjelma Embun, Matahari, dan Hujan bagimu, sebelum kau… sebelum aku… sebelum kita… sebelum….

Aku sekuat tenaga menabrak kata. Melihatmu di luar sana. Aku mengujar makna di luar kata, sebab bahasa adalah buta. Terhalang kata makna takterhingga. *)
Ini tentangmu, Bunga.
Bukan tentang siapa-siapa atau apa-apa.
Tentangmu saja. Hanya tentangmu.

Kaulah segala indah, segala sempurna, segala takjub, segala… ku! Takperlu kau mengerti, karena takpernah kau sadari adaku, dan takpernah peka kau mengeja beragam tanda—yang takhenti kupintal untukmu dalam diamku.

Bumi Hegarmanah, 17 Juni 2007   

*) dikutip—dengan sedikit revisi—dari puisi “Kupu-Kupu Dibalik Kaca” karya Indra Sarathan

– Jatinangor, @ Connect no.6, 23 Juni 2007, pkl.11.39 WIB –

Rosi Sendiri di Hari yang Cerah: Lirik tentang Jiwa yang Sepi

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 5:36 pm on Wednesday, June 13, 2007

Coba baca dan resapi baik-baik lirik lagu berikut ini*:

biar Sally mencariku   
biarkan dia terbang jauh   
dalam hatinya hanya satu 
jauh hatinya hanya ku
 
katakan kutakkan datang   
pastikan kutakkan kembali   
lalu biarkan dia menangis   
lalu biarkan dia pergi   

Sally kauselalu sendiri   
sampai kapan pun sendiri   
hingga kaulelah menanti   
hingga kaulelah menangis

Lalu, gantilah nama Sally menjadi Rosi:

biar Rosi mencariku   
biarkan dia terbang jauh   
dalam hatinya hanya satu 
jauh hatinya hanya ku
 
katakan kutakkan datang   
pastikan kutakkan kembali   
lalu biarkan dia menangis   
lalu biarkan dia pergi   

Rosi kauselalu sendiri   
sampai kapan pun sendiri   
hingga kaulelah menanti   
hingga kaulelah menangis

Memang malang nasib si Rosi:

Terus-menerus terbang mencari arti.
Selalu mendarat di satu perhentian.
Perhentian yang sama.
Yang taklagi ingat dan peduli.
Yang terlanjur membeku.
Yang penuh dendam penuh benci.
Yang kering gersang takberbunga.
Yang disinari bulan setengah.

Sebuah akhir yang bukan akhir.

Menanti di perhentian senada detakan detik.
Detik terus berdetak.
Menanti yang sama.
Yang taksudi datang jumpai.
Yang takniat kembali miliki.
Yang taktersentuh tangkap buliran air mata.
Yang takberbalik lambai selamat tinggal.

Sebuah awal dari kisah takberawal.

Selalu sendiri.

Di pagi yang cerah.

::pagi::
::biar kusendiri::

Di siang yang mendung.

::jangan kaumendekat::
::wahai matahari::

Di sore yang muram.

::dingin hati yang bersedih::

Di malam yang kelam.

::takbegitu tenang::

Selalu sendiri.

::mulai terabaikan::

Hujan menitik lalu mereda.

::hari yang cerah::
::untuk jiwa yang sepi::

Matahari menyorot lalu membenam.

::begitu terang::
::untuk cinta yang mati::

Kabut menyelimut lalu mengabur.

::kucoba bertahan::
::dan takbisa::

Selalu sendiri.

::biru langit kelabuku::
::takbegitu luas::
::seperti memudar::

Takkunjung kelelahan menyapa.
Menanti.

::kini t’lah terulang lagi::

Tanpa tahu penantian apa yang dinanti.

::di hari yang cerah::
::dia telah pergi::

Takjua menguap air di mata.
Menangis.

::mencoba melawan::

Tangis yang taklagi ditangisi.

::kulepas::

Selalu sendiri.

::semua telah hilang::

Sendiri selalu.

::semua telah…::

[Lalu sebentar lagi purnama pun melenyap berganti pagi...

... malam nanti entah purnama 'kan menampak atau tak?]

[Rosi mencari arti... menanti... menangis...

... selalu sendiri ...

  ... Rosi sendiri selalu.]

Nasib si Rosi memang malang.
Begitulah si Rosi…

<kuperuntukkan
bagi sesosok manusia
yang sesaat lagi pergi 
entah kembali atau tak,
tapi ini diri tetap takletih
terbang mencari,
diam menanti,
coba takmenangisi,
dan setia menyendiri>

Catatan Bawah:
* dari lirik "Sally Sendiri" Peterpan
:: dari lirik "Hari yang Cerah" Peterpan

– Jatinangor, @ Connect no.12, 14 Juni 2007, pkl.07.35 WIB –