Kupu-Kupu di Balik Kaca
Segala keindahan di bumi seolah hilang makna begitu labuhan mataku terhenti di wujudmu. Indah yang terindah dari semua keindahan yang terindah sekalipun. Duhai, kesempurnaan takterdefinisikan telah memahat rupamu sedemikian, hingga ketakjubanku meruah membuncah ke segala arah. Merah dan putih berpadu apik menggradasi di tiap helai mahkotamu yang tampak teramat rapuh—bisa setiap saat terlepas dari ikatan kuat kelopakmu, lalu gugur ke bawah dan mengering. Tangkaimu ramping sangat, tapi ia kuat menopang daunmu yang tebal dan kehijauan itu.
Ini tentangmu, Bunga.
Kau di sana. Aku di sini.
Kita terpisah, Bunga. Di antara kita terbentang jarak, takkunjung mendekat—untungnya jarak itu takjua menjauh. Kau takmengenalku, tapi kusangat mengenalmu. Aku takpeduli. Lirikan sesaatmu ke arahku berarti banyak, meski itu taksebanding dengan tatapan tanpa hentiku ke arahmu yang agaknya takberarti apapun bagimu. Aku takhirau. Kita takpernah bercakap sejak kau masih kuncup usia muda hingga memekar dalam kedewasaan. Aku takpikir. Duniaku yang takluas, hening, dan gersang, begitu jauh berseberangan dengan duniamu yang takberbatas dan penuh warna. Tak jadi masalah bagiku. Walaupun kau angkuh, keangkuhanmu menjelma keanggunan yang memesona bagiku. Ya, begitu sombongnya engkau setelah sadar akan kecantikanmu yang memabukkan. Namun, bagiku semua itu takpenting, Bunga. Yang penting adalah:
Aku tetap di sini. Kau tetap di sana.
Bunga, sejatinya iri aku pada Embun.
Dengan nyamannya ia bergayut mesra di helai-helai mahkotamu, setiap pagi. Ujung helai mahkotamu mengayun saat berat tetesnya membebani, lalu dengan sentakan halus ia terjun bebas ke tanah. Terserap hilang, memang, tapi ia sempat menatapimu sembari berucap selamat tinggal sebagai salam perpisahan. Ia pun telah sempat berenang-renang mengaliri ragamu. Akhir yang menyenangkan baginya, karena sebelum melenyap terserap tanah atau menjelma uap, ia sempat merasai nikmatnya bersamamu. Andai mungkin, kuingin mati setelah sempat kurasai semua itu.
Bisakah?
Iri juga aku pada Matahari.
Setiap pagi pula, dengan megah sinarnya—yang terlalu angkuh menurutku—ia menyapamu, menyenyumimu, membelai lembut tiap bagian tubuhmu. Kulihat kelopakmu mengembang menyambutnya. Kau balas tersenyum padanya, seakan kau Putri Tidur yang terbangunkan berkat kecupan Sang Pangeran. Geram aku dibuatnya, Bunga. Takrela kuhendak biarkan Matahari merajai pagimu. Seandainya bisa, kuingin tiap pagi kau terbangun berkat sentuhanku di tangkai sarimu.
Relakah engkau?
Aku juga iri pada Angin.
Ia gemar berhembus nakal meniupi tiap lekukmu. Sesekali kau mengangguk terkantuk, sekali waktu terkejut merunduk, di lain saat bergoyang menari. Kau tampak bahagia, Bunga. Ia benar-benar seperti penghibur yang baik kala kaulelah dalam jenuh. Meski pada suatu ketika ia dengan tanpa rasa kasihan mencerabut helai mahkotamu dari kelopak, menerbangkannya, lalu menjatuhkannya ke tanah untuk mengering dan mati, kau takmarah. Kau hanya menjerit sekali, entah jeritan marah atau rela atau pasrah. Jika saja kumampu alirkan kesejukan bagimu.
Takmarahkah engkau kala kulebih senang membuaimu dalam mimpi?
Duh, walaupun bentangan jarak takpernah menjauh di antara kita, tapi waktu jua yang berkuasa atas kita, Bunga. Ia menjadikanmu, menjadikanku, letih raga letih jiwa letih daya karena usia. Kita telah semakin menua. Helai mahkotamu taklagi subur berhimpitan, mulai menjarang karena sebagian besar telah mengering mati. Takada lagi gradasi merah-putih yang padu, hanya coklat busuk yang mewarnainya. Embun enggan bertualang lagi mengalirimu. Matahari kini menyapamu dengan ganas sinarnya. Angin terkadang bertiup kecil dengan semangat memakan habis tanda sisa usiamu. Segala berubah, taklagi sama.
Lalu aku?
Aku masih di sini, Bunga.
Mengagumimu tetap merupakan nikmat bagiku. Memujimu tetap takbosan kusahutkan. Inikah cinta yang tulus, Bunga? Atau ini hanya sebuah ketertarikan obsesif yang dipenuhi halusinasi?
Lihatlah kemari. Sayapku mulai mematah, Bunga. Taklagi bisa ia bantu menerbangkanku mengitari duniaku agar kubisa pandangimu dari beragam sudut yang tersedia. Lihat, mataku mulai mengabur, Bunga. Visualisasi ragamu kini hanya mampu kucipta dalam imaji. Lihatlah, Bunga, lihat kemari, lihat kesini.
Oh, jangan dulu mati, Bunga. Ke mana perginya segala keangkuhan, keanggunan, pesona, dan kecantikan yang kaubangga-banggakan itu? Kenapa hanya keluh yang kaulontarkan? Mana puji syukurmu pada Sang Maha yang menganugerahimu kesempatan mengada di dunia dengan segala kesempurnaan? Bunga, berhentilah meratapi saat menjelang ajalmu.
Tenanglah, percayalah padaku, kau tidak akan mati begitu saja, Bunga.
Tidak akan, sebelum kau sempat mengenalku, menatapku, bercakap denganku, sebelum dunia kita sempat menyatu, sebelum kusempat menjelma Embun, Matahari, dan Hujan bagimu, sebelum kau… sebelum aku… sebelum kita… sebelum….
Aku sekuat tenaga menabrak kata. Melihatmu di luar sana. Aku mengujar makna di luar kata, sebab bahasa adalah buta. Terhalang kata makna takterhingga. *)
Ini tentangmu, Bunga.
Bukan tentang siapa-siapa atau apa-apa.
Tentangmu saja. Hanya tentangmu.
Kaulah segala indah, segala sempurna, segala takjub, segala… ku! Takperlu kau mengerti, karena takpernah kau sadari adaku, dan takpernah peka kau mengeja beragam tanda—yang takhenti kupintal untukmu dalam diamku.
Bumi Hegarmanah, 17 Juni 2007
*) dikutip—dengan sedikit revisi—dari puisi “Kupu-Kupu Dibalik Kaca” karya Indra Sarathan
– Jatinangor, @ Connect no.6, 23 Juni 2007, pkl.11.39 WIB –