coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

dongeng sebelum tidur (Part 2)

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 5:47 pm on Monday, April 16, 2007

Alkisah…

Ada seorang putri takbernama yang sangat mencintai Sang Hujan.
Takpernah jemu ia membiarkan tubuhnya kuyup terbasahi Sang Hujan.
Ia gemar menari mengiringi irama Sang Hujan, takpernah henti.
Lengkungan garis senyuman menghiasi bibirnya senantiasa.
Gelak tawanya riuh terdengar ditingkahi Sang Hujan.
Kata-kata bagai mutiara mengalir lembut darinya, memuji Sang Hujan.

Sahabat-sahabatnya memanggilnya Putri Hujan.

Kerinduan pada Sang Hujan selalu melandanya kala kemarau tiba.
Namun, berkat sahabat-sahabatnya:
Sang Angin, Capung-Capung, dan Si Kucing,
Putri Hujan sedikit terhibur walau sepi menghampa dirinya.

Kala Sang Hujan belum jua menitik,
Sang Angin meniup-niupi raga Putri Hujan mengalirkan kesejukan.
Berkat Sang Angin, Sang Putri terpejam menetralisir rasa.
Capung-Capung mengajak Putri Hujan menjelajahi semesta.
Berkat mereka, Sang Putri terbang menginsafi beragam keindahan.
Si Kucing mendengkur manja di pangkuan Putri Hujan.
Berkat Si Kucing, Sang Putri tertidur memeluk kehangatan.
Sejenak, Sang Putri melupakan detak rindunya pada Sang Hujan.

Suatu kali, Putri Hujan menangis tersedu.
Baru kali ini ia memayungi diri, berdiam tanpa menari.
"Ada apa, Putri?" tanya Sang Angin.
"Kenapa takkaubiarkan Sang Hujan membasahimu?" timpal Capung-Capung.
"Apa Sang Hujan melukai hatimu, Putri?" cecar Si Kucing.
Putri Hujan takmenjawab segala tanya sahabat-sahabatnya.
Ia hanya berucap:
"Tolong sembunyikan aku dari pengindraan Sang Hujan!"
Lalu, Sang Angin sigap mengaburkan pandangan Sang Hujan pada Sang Putri.
Capung-Capung mengerubungi Sang Putri, membentuk tameng taktertembus.
Sementara Si Kucing melompat ke pangkuan Sang Putri, minta didekap.

Sang Hujan terheran-heran mendapati satu pencintanya melenyap.
Ia merasa teramat sangat kehilangan.
Di antara sekian banyak pencintanya,
hanya Putri Hujan yang selalu setia bermain-main dengannya.
Rindu Sang Hujan menyesak pada sosok Putri Hujan,
pada liuk tubuh Sang Putri saat menari,
pada manis senyum Sang Putri saat berseri,
pada riuh tawa Sang Putri saat tergelak,
pada pujian memabukkan Sang Putri saat merayu.

Bertanya Sang Hujan di mana Sang Putri
pada Sang Angin:
Takada jawab.
Lalu pada Capung-Capung:
Hanya bisu.
Pada Sang Kucing:
Geraman marah mendesis.
Sang Hujan kebingungan.
Ia pun menepi,
menyerahkan hari pada Sang Mentari.

Dengan megah sinarnya, Sang Mentari menyapa Putri Hujan.
Sang Angin bertiup sepoi, Capung-Capung beterbangan, Si Kucing berlari kesana kemari.
Mereka meminta Sang Mentari menemani Sang Putri.
Sang Mentari menyanggupi dengan senyum bijaknya.
Perlahan disekanya bulir air mata Sang Putri, menguapkannya.
"Ada yang bisa kubantu, Putri?" tanya Sang Mentari.
Putri Hujan mendongak, terkaget-kaget mendapati hadirnya Sang Mentari.
"Apa yang telah terjadi? Berceritalah padaku." bujuk Sang Mentari.

Putri Hujan berbaring di basah rerumputan.
Ia mengulurkan kedua tangannya ke arah Sang Mentari.
"Tolong aku, Mentari." katanya.
Sang Mentari sejenak menghela napas, lalu bertanya:
"Masih tentang kekasihmu kah?"
"Ya."
Kemudian Sang Putri berkisah, lirih.

Selesai Sang Putri berkisah, tiba-tiba Sang Mentari bersinar gelisah.
Mata Sang Putri nyaris terbutakan oleh panasnya,
jika saja Sang Mentari tidak lekas bersembunyi di balik Sang Kabut.
"Mentari?" panggil Sang Putri.
"Ya, aku di sini, Putri." jawab Sang Mentari dari balik persembunyian.
"Bisakah kau membantuku?" tanya Sang Putri.
Sang Mentari takmenjawab.
"Mentari? Tolonglah…" pinta Sang Putri dengan mata berkaca.
Yang terdengar hanya hening.

Sang Kabut menghampiri Sang Mentari yang diam-diam memanggil.
Putri Hujan terlonjak,
menyadari Sang Mentari sudah akan beranjak pergi.
"Mentari…?"
Sang Mentari memalingkan wajah, lalu berkata:
"Maaf, aku takingin terlibat."
Sang Putri terhenyak.
"Mentari… kau mau pergi?"
Sang Mentari mempersilakan Sang Kabut menggantikan posisinya.
Sinarnya kian meredup, hingga tinggal setitik,
lalu sayup ia berbisik lemah sebelum benar-benar berlalu:
"Maaf, aku benar-benar takbisa membantumu, Putri."

Sang Putri tertegun.
"Bosankah kau mendengar keluhku, Mentari?"
Sang Mentari takmenghentikan langkah.
"Mentari, aku takbisa melihat sinarmu."
"Jangan panggil aku lagi, Putri. Jangan pernah lagi…"
Sang Mentari pun berlalu, menyisakan tanya Sang Putri:
"Tapi Mentari, mengapa?"
Sang Mentari sudah telanjur berlalu.
"Mengapa? Mengapa? Mengapa? MENGAPA?" jerit Sang Putri.

Suara Putri Hujan tenggelam dalam pekat Sang Kabut.

…bersambung…

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 16 April 2007, selesai pkl.05.46 WIB –   



4 Comments »

180

   Donny

April 17, 2007 @ 8:12 am

Mungkin sang mentari harus ditimpuk dulu…;))

181

   RuN-T

April 18, 2007 @ 8:51 pm

Tiada kita pernah tahu hidup di dunia. Mungkin dinda terlalu istimewa. Hingga rasa tertelan ludah. Tak sempat ucap tertakut hilap. Salam kenal Donny timpuk saja dirimu sendiri.

182

   baRLy

June 9, 2007 @ 9:38 pm

kek..kek..kek, kok main timpuk-timpukkan siH?

dewasa dikit napaH?!

183

   rosi

June 13, 2007 @ 5:37 pm

Iya, gak dewasa banget. Harusnya dijitak aja :p

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>