Tiga!
———————————————-
Lazuardi
Birumu masih beraroma luka
yang kian meretak
takjua menyenyumi dusta
Sementara peluh
masih setia kauhela dalam hitam
bergayut mendung
selipkan tangis muram
Lupakah dirimu akan imaji
yang berserakan di abumu, pikirku
hingga nyaris empat puluh bulan setengah
terloncati begitu saja
miskin makna
Bahkan,
Ingatanmu taktersingkap
untuk sekadar mengucap:
"Purnamakah rembulan malam ini?"
———————————————-
Mentari
Harap ibarat tuan rumah
pengundang singgah segala lara
dan pedih kesabaran,
itu katamu
Lalu berdosakah aku
jika kunanti berkas sinarmu
‘tuk sekadar mengada
usir rintik yang ditebar awan hitam?
———————————————
Kabut
Ingin kujelmakan ia
jadi hujan
biar gemuruh rindu selalu membadai
saat kemarau panjang tiba
Ya,
Sungguh ingin kukutuk ia
jadi hujan
Tapi segala damba
takkan pernah mewujud nyata
sebab yang mengabur
berbentuk pun takkuasa ia
——————————————-
Tiga! adalah 3 buah puisi yang terinspirasi dari 3 orang lelaki yang begitu berarti dalam hidup saya, yang memberi saya kebahagiaan dengan cara mereka masing-masing, dan juga… mengajari saya bagaimana menyikapi patah hati dengan bijaksana. Tiga! baru saya tulis 10 Maret lalu, tengah malam (gatau tuh, ada setan lewat atau gak ya pas saya bikin? heuheuheu… :p), saat tiba-tiba saya tersadar bahwa sudah cukup lama saya tidak bercakap-cakap dengan ketiganya.
Memang ketiganya sama-sama orang "super sibuk" dengan jadwal harian yang padat, akibatnya saya seringkali merasa segan untuk bertegur sapa, bahkan lewat SMS sekalipun ^_^ . Selalu terselip rasa khawatir bahwa saya hanya akan mengganggu atau mengusik "keasyikan" mereka dalam menjalani aktivitas mereka masing-masing ^_^ . Walaupun salah satu dari mereka pernah mengatakan bahwa kehadiran saya di hidupnya gak membuatnya terganggu, terbebani, atau tertekan, tetap saja rasa khawatir itu ada. Hmm… diriku… diriku…
Berhubung sebelumnya ada rikwes dari adik angkatan saya, Lina, agar saya bersedia menyumbangkan karya untuk dipublikasikan di majalah himpunan, saya pun menuangkan "kerinduan" saya pada ketiganya melalui puisi. Ternyata setelah Lina membacanya, ketiga puisi ini layak muat. Senangnya, gak nyangka soalnya bakal lolos seleksi!
Lalu, kakak angkatan saya, Arie Darusman, juga meminta 1 dari puisi-puisi tersebut untuk dipublikasikan di booklet pribadinya yang beredar 2 bulan sekali di kalangan sivitas akademika jurusan kami. Wah, dobel deh senangnya!
"Lazuardi", "Mentari", dan "Kabut", mewakili tiap-tiap lelaki yang memang memiliki kepribadian seperti unsur-unsur alam itu.
"Lazuardi" berkisah tentang penantian panjang akan adanya suatu perubahan dan penumbuhan rasa kepedulian, tetapi keduanya takpernah terwujud.
"Mentari" berkisah tentang rasa bersalah karena terlalu banyak meminta, sehingga berujung pada kesalahpahaman yang tidak mengenakkan.
Terakhir, "Kabut" berkisah tentang harapan yang sia-sia karena yang diharapkan selalu dipenuhi ketidakjelasan.
Untuk ketiga lelaki yang jadi inspirator saya ini, petikan lirik lagu yang pas adalah: "Jangan kauberi harapan padaku… seperti ingin tapi tak ingin… Yang aku minta, tulus hatimu… bukan pura-pura…" ("Menghitung Hari versi 2" -Anda "Bunga").
Memang baik menjadi orang baik, tapi jika kebaikan itu menjadi "keterlaluan", masih akan baik-baik sajakah keadaan?
Yang saya syukuri, walaupun pernah ada "penyelewengan rasa" di antara kami (pada sang "Kabut" malah masih tetap berlangsung sampai sekarang, dan pernah pada satu waktu yang lampau, "penyelewengan rasa" itu terjadi pada ketiganya sekaligus!), ketiganya tetap menjadi sahabat terbaik saya hingga saat ini, dan saya sedang berusaha untuk menjaga agar selalu tetap demikian… sampai takdir berbicara lain, mungkin?
Bagaimanapun, saya senantiasa berdo’a, semoga ketiganya lekas memperoleh kebahagiaan yang belum pernah (atau tidak akan pernah?) bisa saya berikan pada mereka…
– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 14 Maret 2007, pkl.23.48 WIB –