Be A Full Time Mother… Why Not???
Hmmh… Baru aja beberapa detik lalu saya selesai membaca blog seorang sahabat dan seorang teman saya (berturut-turut masing-masing adalah): Uti dan Haqiqie.
Seperti biasa, postingan-postingan blog yang biasa saya kunjungi ini saya transfer via flashdisk (buat Uti: Ada saran ga dikasih nama apa flashdisk merah mungil kesayanganku ini? :D) untuk saya baca di rumah. Kedua blog ini benar-benar bertolak belakang sekali, baik dari segi gaya penceritaan maupun topik yang dipilih oleh si blogger. Uti dengan topik ringan dan gaya penceritaan yang interaktif, komunikatif, diselingi humor dan sinisme serta argumen kuat yang kadang-kadang ngaco tapi sering banget bener… Haqiqie dengan topik yang lebih serius dan gaya penceritaan yang introvert, puitis romantis, dan rada-rada bernuansa kelam… Namun begitu, entah kenapa saya begitu menikmati proses pembacaan saya terhadap tulisan-tulisan kedua makhluk ini. Sepertinya di warnet besok saya akan banyak memberikan komentar di blog mereka nih. Tunggu saja ya, Uti, Haqi…
Tiba-tiba saja (ah, hidup memang penuh dengan "ketiba-tibaan"…), saya jadi ingin membuat sebuah tulisan yang terinspirasi dari postingan Uti di blognya yang berjudul "full time mother". Hihihi… secara gitu seorang Uti udah berpikir ke arah sono. Kaget pula diriku ini waktu kami berkunjung bareng ke Pasar Buku di Landmark 1 Februari lalu, dan buku yang bikin mata Uti berbinar-binar dengan mupeng adalah buku berjudul sama. Halah! Kapan atuh Ti dirimu beli itu buku? (Atow udah beli?? Pinjem…!) Btw, daku nyesel beli novel "Ei Tu Ze" tea. Asli gak sesuai harapan, hiks…
Apakah dirimu berpendapat sama Ti? Kalo daku jadi dirimu, pasti daku nyesel banget ga milih buku "Full Time Mother" dan malah beli "Ei Tu Ze".
Oke, cukup. Back to the topic… Tulisan Uti yang berjudul "full time mother" ini mengingatkan saya pada 2 sosok wanita yang saya kenal. Masing-masing telah menyandang dua gelar yang rata-rata diidam-idamkan kaum Hawa: gelar "istri" dan gelar "ibu". Tidak jauh-jauh, 2 wanita itu adalah kakak sulung dan kakak ipar saya. Kakak sulung saya sudah bergelar istri sejak 9 tahun yang lalu dan bergelar ibu setelah dikaruniai 2 orang putri, masing-masing berumur 8 tahun dan 2 bulan. Sementara itu, kakak ipar saya baru bergelar istri selama 2 tahun dan bergelar ibu setelah dikaruniai seorang putri yang baru berumur 10 bulan. Walaupun sama-sama menyandang 2 gelar itu, penyikapan keduanya dalam menjalani peran masing-masing sungguh berbeda. Yang satu benar-benar seorang "full time mother" yang tangguh sebagai seorang ibu rumah tangga, sedangkan yang satu lagi benar-benar seorang "part time mother" yang handal sebagai wanita karir.
Dengan melihat kehidupan sehari-hari mereka saja, saya sudah bisa memilah mana yang ingin -dan selayaknya- saya jadikan acuan jika kelak kedua gelar itu saya sandang. Saya sependapat dengan Uti yang menulis:
"kalo ngomongin tentang menjadi seorang ibu, hm.. terbayang kata2 berikut mengiringi: tanggung jawab, madrasah, sabar, kasih sayang, mulia. buat gw, tugas yang paling mulia buat seorang wanita adalah menjadi seorang pendidik, memastikan bahwa generasi setelahnya punya kualitas yang lebih baik, seengganya generasi yang lahir dari rahimnya sendiri."
Salut dengan Uti yang di usianya yang masih muda belia (belum 20 kan, Neng? :p) sudah merencanakan dengan matang akan menjadi ibu seperti apa dirinya kelak! Didoain Ti, didoain…
Yup, memang benar begitulah tugas dan kewajiban hakiki setiap wanita yang menyandang gelar "ibu". Dengan menjadi seorang "full time mother", peluang untuk memenuhi tugas dan kewajiban tersebut tentunya akan lebih besar, jika dilihat dari segi waktu yang dimiliki untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Bandingkan dengan seorang "part time mother" (ini sih istilah bikinan saya aja…) yang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, sehingga peluang untuk memenuhi tugas dan kewajibannya itu menjadi kecil. Padahal anak adalah titipan Illahi yang mesti dijaga, dididik, dan dibina. Siapakah penjaga, pendidik, dan pembina itu? Yang memegang peranan terbesar di sini adalah seorang ibu, setelah itu ayah, lalu sekolah, dan setelah itu barulah yang lainnya.
Menjadi seorang wanita karir memang membanggakan. Namun, menjadi seorang ibu yang penuh kasih, menyayangi dan disayangi putra-putrinya, serta mampu "membentuk" putra-putrinya menjadi generasi cerdas bermental baja dan berakhlak mulia tentu lebih membanggakan, bukan? Atau, ada di antara Anda yang malah ingin menjadi seorang wanita karir sekaligus seorang ibu yang seperti itu? Boleh saja, dan bisa saja, jika memang ada niat, tekad, ilmu, dan yang paling penting: realisasi.
Bagaimana dengan saya?
Hm…
Saya sih, seperti judul tulisan ini: "Be A Full Time Mother… Why Not???"
Pengennya sih begitu, baru sekadar niat dan tekad, sedangkan ilmu masih terlalu minim (harus banyak belajar lagi!) dan realisasi masih jauh dari pandangan (lah, calon suami alias calon "bapaknya anak-anak" aja belum menampakkan diri! ^_^).
Btw, harusnya sebelum saya bikin tulisan ini, saya bikin dulu tulisan berjudul "Jadi Istri Sholehah… Siapa Takut?" (waduh… tolong, MO saya kumat lagi! :D) atau "Jadi Suami Rosi Rosmala Dewi… Mengapa Tidak?". Heuheuheuheuheu… :))
NB:
Perlu dicatat di sini, saya membatasi istilah "part time mother" hanya pada para wanita karir yang bekerja di luar medan dakwah. Istilah "part time mother" sangat tidak cocok untuk ditempelkan di kening para ummahat yang bisa membagi waktu antara perjuangan dakwah dan kewajiban mereka terhadap suami serta putra-putri mereka! Bagi mereka, sepenuh hati saya merasa teramat kagum dan doa pun saya panjatkan:
"Semoga Allah memberkahi mereka dengan kebaikan di setiap hela napas dan tetesan peluh mereka…"
Amin ya rabbal ‘alamin.
– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 25 Februari 2007, selesai pkl.22.57 WIB –
(baru sempat diposting hari ini, Sabtu, 3 Maret 2007, gara-gara kerusakan yang terjadi pada flashdisk merah mungil kesayanganku, hiks… ^_^)