coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

Tiga!

Filed under: kata-kata bermakna — cherry-calosa at 9:01 pm on Wednesday, March 14, 2007

———————————————-
Lazuardi

Birumu masih beraroma luka
yang kian meretak
takjua menyenyumi dusta

Sementara peluh
masih setia kauhela dalam hitam
bergayut mendung
selipkan tangis muram

Lupakah dirimu akan imaji
yang berserakan di abumu, pikirku
hingga nyaris empat puluh bulan setengah
terloncati begitu saja
miskin makna

Bahkan,
Ingatanmu taktersingkap
untuk sekadar mengucap:
"Purnamakah rembulan malam ini?"

———————————————-

Mentari

Harap ibarat tuan rumah
pengundang singgah segala lara
dan pedih kesabaran,
itu katamu

Lalu berdosakah aku
jika kunanti berkas sinarmu
‘tuk sekadar mengada
usir rintik yang ditebar awan hitam?

———————————————

Kabut

Ingin kujelmakan ia
jadi hujan
biar gemuruh rindu selalu membadai
saat kemarau panjang tiba

Ya,
Sungguh ingin kukutuk ia
jadi hujan

Tapi segala damba
takkan pernah mewujud nyata
sebab yang mengabur
berbentuk pun takkuasa ia

——————————————-

Tiga! adalah 3 buah puisi yang terinspirasi dari 3 orang lelaki yang begitu berarti dalam hidup saya, yang memberi saya kebahagiaan dengan cara mereka masing-masing, dan juga… mengajari saya bagaimana menyikapi patah hati dengan bijaksana. Tiga! baru saya tulis 10 Maret lalu, tengah malam (gatau tuh, ada setan lewat atau gak ya pas saya bikin? heuheuheu… :p), saat tiba-tiba saya tersadar bahwa sudah cukup lama saya tidak bercakap-cakap dengan ketiganya.

Memang ketiganya sama-sama orang "super sibuk" dengan jadwal harian yang padat, akibatnya saya seringkali merasa segan untuk bertegur sapa, bahkan lewat SMS sekalipun ^_^ . Selalu terselip rasa khawatir bahwa saya hanya akan mengganggu atau mengusik "keasyikan" mereka dalam menjalani aktivitas mereka masing-masing ^_^ . Walaupun salah satu dari mereka pernah mengatakan bahwa kehadiran saya di hidupnya gak membuatnya terganggu, terbebani, atau tertekan, tetap saja rasa khawatir itu ada. Hmm… diriku… diriku…

Berhubung sebelumnya ada rikwes dari adik angkatan saya, Lina, agar saya bersedia menyumbangkan karya untuk dipublikasikan di majalah himpunan, saya pun menuangkan "kerinduan" saya pada ketiganya melalui puisi. Ternyata setelah Lina membacanya, ketiga puisi ini layak muat. Senangnya, gak nyangka soalnya bakal lolos seleksi! :) Lalu, kakak angkatan saya, Arie Darusman, juga meminta 1 dari puisi-puisi tersebut untuk dipublikasikan di booklet pribadinya yang beredar 2 bulan sekali di kalangan sivitas akademika jurusan kami. Wah, dobel deh senangnya! :)

"Lazuardi", "Mentari", dan "Kabut", mewakili tiap-tiap lelaki yang memang memiliki kepribadian seperti unsur-unsur alam itu.

"Lazuardi" berkisah tentang penantian panjang akan adanya suatu perubahan dan penumbuhan rasa kepedulian, tetapi keduanya takpernah terwujud.

"Mentari" berkisah tentang rasa bersalah karena terlalu banyak meminta, sehingga berujung pada kesalahpahaman yang tidak mengenakkan.

Terakhir, "Kabut" berkisah tentang harapan yang sia-sia karena yang diharapkan selalu dipenuhi ketidakjelasan.

Untuk ketiga lelaki yang jadi inspirator saya ini, petikan lirik lagu yang pas adalah: "Jangan kauberi harapan padaku… seperti ingin tapi tak ingin… Yang aku minta, tulus hatimu… bukan pura-pura…" ("Menghitung Hari versi 2" -Anda "Bunga").

Memang baik menjadi orang baik, tapi jika kebaikan itu menjadi "keterlaluan", masih akan baik-baik sajakah keadaan?

Yang saya syukuri, walaupun pernah ada "penyelewengan rasa" di antara kami (pada sang "Kabut" malah masih tetap berlangsung sampai sekarang, dan pernah pada satu waktu yang lampau, "penyelewengan rasa" itu terjadi pada ketiganya sekaligus!), ketiganya tetap menjadi sahabat terbaik saya hingga saat ini, dan saya sedang berusaha untuk menjaga agar selalu tetap demikian… sampai takdir berbicara lain, mungkin? :) Bagaimanapun, saya senantiasa berdo’a, semoga ketiganya lekas memperoleh kebahagiaan yang belum pernah (atau tidak akan pernah?) bisa saya berikan pada mereka… :)

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 14 Maret 2007, pkl.23.48 WIB – 

Futsal Putri Sasindo 04 Vs 06

Filed under: happy days — cherry-calosa at 4:57 pm on Sunday, March 4, 2007

Yeah…!

Akhirnya hari ini datang lagi! Pertandingan futsal putri antar angkatan ini emang udah jadi agenda rutin tahunan di Sastra Indonesia Unpad. Diadakan oleh Gelanggang Hima Sasindo dan tujuan utamanya murni sebagai hiburan (hahaha… :D). Tujuan sekundernya, katanya sih (kata dedengkot Gelanggang si Alfisyah dkk.) untuk menjalin keakraban dan mempererat silaturahmi antarangkatan, khususnya sesama mahasiswi.

Entah sejak kapan tradisi ini bermula. Yang jelas waktu saya masih mahasiswi baru yang mungil imut-imut (sekarang mah udah gak mungil tapi masih imut-imut, hihihi… :p) tradisi ini udah ada. Waktu itu nervous-nya minta ampun deh! Bayangin aja, diriku yang sangat cuek dan kuper soal persepakbolaan atau perfutsalan diminta main futsal??? Yang ada malah malu-maluin, heuheuheu…

Jadi inget, waktu itu saya dan teman-teman perempuan saya tanding futsal perdana lawan teteh-teteh angkatan 2002. Notabene para teteh yang cantik-cantik itu ukuran tubuhnya pastilah lebih "berisi" daripada kami-kami ini ^_^ Hasilnya? Kalah telak… hiks… hiks… Waktu itu teh, saya dan teman-teman masih jaim tea sebagai maba, dan memang yang nonton gak lain adalah senior-senior dari mulai angkatan 1998 sampe angkatan 2003. Numpuk semua menuhin pinggir lapangan Dekanat Fasa. Weleh… weleh…!

Lucunya, waktu tanding perdana itu saya malah belum bisa tendang bola yang mendekat ke arah saya atau yang dioper teman ke arah saya! Hahaha… sungguh memalukan, bukan? Teman-teman laki-laki saya yang jadi suporter di pinggir lapangan pun pada sibuk nahan ketawa plus garuk-garuk kepala, hihihi… Untungnya saya gak malu sendiri, karena ternyata teman-teman saya satu tim pun sama saja dengan saya :D

Alhamdulillah, tahun berikutnya sewaktu tanding dengan adik-adik perempuanku angkatan 2005, saya - juga teman-teman saya satu tim - udah gak separah itu lagi. Agak mendingan lah: bisa nendang bola, nerima operan teman satu tim, dan merebut bola dari lawan. Hasilnya, saya yang ditaro di bagian belakang mendampingi sang kiper biar gawang gak kebobolan, berhasil menahan serangan lawan dan operan saya pada teman saya membuahkan beberapa gol yang amat dahsyat! Ceritanya bangga gitu, walaupun bukan saya yang mencetak angka… :))

Hari ini, tepatnya pkl.15.30 WIB nanti, menurut jadwal, lawan kami adalah angkatan termuda di Sasindo, yaitu angkatan 2006. Kayaknya dunia jadi terbalik. Sekarang saya dan teman-teman yang menempati angkatan "lebih tua". Tentunya, gak boleh memalukan dong! Yup, pastinya…

Karena itu, siapa pun yang membaca tulisan ini, tolong doakan saya dan teman-teman yah! :)

Semoga kemenangan itu diraih oleh saya dan teman-teman saya. Setidaknya biarpun gak menang, tujuan sekunder untuk lebih mengakrabkan diri dengan adik-adikku yang masih pada mungil dan lucu-lucu itu bisa tercapai. Amin…

NB:
Buat dr. Narsis:
Setelah pertandingan ini, saya pengen buat tulisan yang gaya berceritanya meniru gaya berceritamu dalam melukiskan sekelumit cuplikan pertandingan basket di tulisan terakhirmu di blog dirimu ituh. Boleh ya…? Da bageur Pak Dokter mah… :D Abis lucu sigana. Sapatau pertandingan futsal ini lebih heboh dan lebih seru dari pertandingan basketmu itu, heuheuheu… :)) Lumayan kan Pak, buat nenangin otak dan hati yang ruwet? Gara-gara mikirin soal "eta" tea tah. (^^;)

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 5 Maret 2007, pkl.00.50 WIB –   

I Just Wanna Brighten Your Life!

Filed under: Music — cherry-calosa at 7:33 pm on Friday, March 2, 2007

I don’t wanna be adored
Don’t wanna be first in line
Or make myself heard
I’d like to bring a little light
To shine a light on your life
To make you feel loved

No, don’t wanna be the only one you know
I wanna be the place you call home

I lay myself down
To make it so,
but you don’t want to know
I give much more
Than I’d ever ask for

Will you see me in the end
Or is it just a waste of time
Trying to be your friend
Just shine, shine, shine
Shine a little light
Shine a light on my life
Warm me up again

Fool, I wonder if you know yourself at all
You know that it could be so simple

I lay myself down
To make it so,
but you don’t want to know
You take much more
Than I’d ever ask for

Say a word or two to brighten my day
Do you think that you could see your way

To lay yourself down
And make it so,
but you don’t want to know
You take much more
Than I’d ever ask for

"Hamburg Song"

by: Keane

- Jatinangor, @ Connect no.5, 3 Maret 2007, pkl.10.35 WIB –

Analisis Wacana Teks Berita (Tugas Mata Kuliah Stilistika)

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:27 pm on Friday, March 2, 2007

Perbandingan Liputan Hasil Rakor Penanggulangan Banjir Jakarta
dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat dan Kompas

oleh: Rosi Rosmala Dewi

Jika kita berbicara mengenai dunia jurnalistik, keberadaan wartawan sebagai si peliput dan sekaligus penulis berita tidak dapat dinomorduakan. Media cetak, khususnya surat kabar atau koran, menjadi salah satu ruang tempat dituliskannya hasil liputan mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara ini. Eriyanto (2006:36) memaparkan dua pandangan mengenai media itu sendiri. Pertama, media dapat dilihat sebagai saluran yang bebas dan netral, tempat semua pihak dan kepentingan dapat menyampaikan posisi dan pandangannya secara bebas. Kedua, media dapat dilihat sebagai subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya.

Idealnya, seorang wartawan selayaknya lebih mengedepankan fakta dan menghindari penilaian subjektif dalam menyajikan berita yang diliputnya. Namun, hal ini sukar dilakukan karena wartawan pun merupakan bagian dari kelompok atau kelas tertentu dalam masyarakat. Dengan demikian, pada dasarnya setiap wartawan memiliki nilai-nilai tertentu yang menjadi prinsip dalam proses peliputan dan penulisan berita yang dilakukannya. Walaupun wartawan terikat dengan kode etik dan aturan yang telah ditetapkan oleh media tempatnya bekerja, setiap wartawan tetap memiliki gaya penulisan (style) yang khas. 

Saya akan mencoba menganalisis serta melakukan perbandingan terhadap gaya penulisan wartawan surat kabar Pikiran Rakyat dengan wartawan surat kabar Kompas. Sebagai alat bantu, saya menggunakan ilmu analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis). Dalam analisis ini, saya mengambil salah satu dimensi dalam salah satu pendekatan analisis wacana kritis untuk dijadikan acuan. Dimensi tersebut adalah teks, dan yang diteliti adalah struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu.

Pikiran Rakyat dan Kompas edisi Minggu, 11 Februari 2007, menyuguhkan dua berita yang serupa (tapi taksama) seputar banjir Jakarta. Berita-berita tersebut sama-sama diletakkan pada halaman pertama, walaupun bukan merupakan judul utama. Berita yang disuguhkan dalam Pikiran Rakyat berjudul “Korban Banjir di Jakarta, Jabar dan Banten, 80 Tewas” dan “Situ dan Sungai Harus Diperbaiki”, sedangkan berita yang disuguhkan dalam Kompas berjudul “Korban Tewas Mencapai 80 Orang” dan “Daerah Hulu Segera Diperbaiki”. Setelah dilakukan perbandingan, ternyata kemiripan judul tersebut berbanding lurus dengan kesamaan peristiwa yang dijadikan berita.

Berita yang akan saya analisis adalah berita yang berjudul “Situ dan Sungai Harus Diperbaiki” (Pikiran Rakyat) dan “Daerah Hulu Segera Diperbaiki” (Kompas). Dari kedua judul tersebut, dapat dilihat bahwa fokus yang diambil keduanya berbeda. Pikiran Rakyat memfokuskan situ dan sungai sebagai objek pemberitaan, sedangkan Kompas memfokuskan daerah hulu sebagai objek pemberitaan. Lebih lanjut, berita Kompas tersebut memiliki subjudul “DAS Ciliwung dan Cisadane Akan Dibenahi”. Fokus pemberitaan Pikiran Rakyat lebih umum daripada fokus pemberitaan Kompas. Tampak jelas bahwa apabila ditinjau dari judul berita, walaupun bertolak dari peristiwa dan tema yang sama, Kompas menyuguhkan berita secara lebih terperinci daripada Pikiran Rakyat.

Selanjutnya, yang menarik untuk dipertanyakan adalah perihal foto para pejabat yang mengeluarkan pernyataan sehubungan dengan isi berita. Pikiran Rakyat memilih untuk meletakkan foto berwarna Wapres bersama Meneg, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Banten, dan Gubernur Jabar di halaman pertama, sedangkan Kompas memilih untuk meletakkannya di halaman 15 dengan warna hitam-putih. Selain itu, keterangan foto pada Kompas ditambahi dengan keterangan mengenai peserta rapat, hal-hal yang dibahas dalam rapat, dan kesepakatan yang dicapai. Di halaman pertama, Kompas memilih untuk menyuguhkan ringkasan hasil rapat berupa poin-poin dalam kotak tersendiri daripada meletakkan foto di sana.

Bisa jadi, dengan meletakkan foto di halaman pertama, Pikiran Rakyat bermaksud menarik keingintahuan pembaca untuk membaca lebih lanjut berita yang terkait dengan pejabat-pejabat yang terdapat dalam foto tersebut. Di lain pihak, Kompas lebih menonjolkan sisi lain untuk menarik keingintahuan pembaca, yaitu dengan suguhan ringkasan hasil rapat tadi. Dalam hal ini, dengan caranya masing-masing, keduanya dapat dikatakan telah berhasil mencapai maksud tersebut.

Masih mengenai teknik penyuguhan berita, Kompas memiliki ciri khas tersendiri, yaitu petikan quote atau kalimat kutipan yang dipentingkan dari pernyataan seorang tokoh dalam berita terkait. Di halaman 15, kalimat yang dikutip adalah pernyataan Gubernur Jabar, Danny Setiawan: “Pencegahan banjir di kawasan hilir memang tidak mungkin dilakukan kalau tidak secara terpadu memperbaiki terlebih dahulu di kawasan hulunya.” Kutipan tersebut yang dicetak tebal dan diletakkan di bagian tengah kolom. Adanya quote ini merupakan nilai tambah bagi Kompas dalam hal memanjakan pembaca.

Berkenaan dengan isi, pemilihan kalimat topik atau lead antara Kompas dan Pikiran Rakyat berbeda. Berikut isi paragraf pertama berita yang dibandingkan.

Pikiran Rakyat:
JAKARTA,  (PR).- Sungai-sungai dan situ di Jabar yang rusak dan dangkal segera akan diperbaiki dengan bantuan pemerintah pusat. Untuk memperbaiki situ dan sungai yang telah mengakibatkan Jakarta terendam banjir itu, pemerintah menyediakan dana Rp250 miliar. “Dananya sudah kita setujui melalui APBN,” ungkap Wakil Presiden (Wapres) M. Jusuf Kalla.

Kompas:                                                                                 JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten sepakat tahun ini segera memulai perbaikan lingkungan, khususnya di kawasan hulu yang selama ini menjadi resapan air, seperti di sekitar Puncak, Bogor, sampai di sepanjang daerah aliran sungai.

Pikiran Rakyat membuka berita dengan pernyataan Wapres, Jusuf Kalla, terkait dengan penyediaan dana dari pemerintah pusat untuk memperbaiki situ dan sungai di Jabar yang mengakibatkan Jakarta terendam banjir. Sementara itu, Kompas membuka berita dengan adanya kesepakatan untuk memulai perbaikan lingkungan di kawasan yang lebih spesifik (telah ditentukan). Pernyataan Wapres terkait dengan penyediaan dana tersebut baru dibahas Kompas di bagian tengah berita, tepatnya di paragraf keempat belas:

Wapres menambahkan, perbaikan lingkungan, di antaranya dengan reboisasi dan kebersihan sungai dan pembenahan sistem drainase di wilayah Jakarta. Di samping merevitalisasi 200 situ dengan dana sekitar Rp250 miliar berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Pemprov DKI Jakarta juga harus segera membangun pompa air dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari pompa air di Pluit, Jakarta Utara.

Dalam penjelasan sebelumnya, Kompas mengetengahkan kawasan yang akan menjadi prioritas perhatian pemerintah, faktor-faktor penyebab banjir, dan langkah-langkah penanggulangan banjir yang akan diambil oleh pemerintah pusat, Gubernur Jabar, dan Gubernur Banten. Masalah dana tidak diungkit-ungkit di bagian awal. Berbeda dengan Kompas, Pikiran Rakyat mengedepankan dana yang disediakan pemerintah pusat untuk memperbaiki situ dan sungai yang rusak dan dangkal dan alasan pemerintah menyetujui bantuan dana tersebut. Tentang penyebab banjir dan langkah-langkah yang akan ditempuh baru dibahas selanjutnya, itupun terkonsentrasi pada “janji-janji” Wapres dan tidak mengutip “janji-janji” yang diucapkan Gubernur Jabar dan Gubernur Banten.

Adakah maksud tertentu yang hendak dicapai oleh Pikiran Rakyat dengan kerangka penulisan seperti ini? Berikut adalah perbandingan diksi yang digunakan Pikiran Rakyat dan Kompas dalam melaporkan kembali ucapan Wapres seusai rakor.

Pikiran Rakyat:
Soal pos mana yang ditambahkan anggarannya, wapres tidak bersedia menjelaskan. Alasannya, menurut Jusuf Kalla, hal itu merupakan urusan internal pemerintah. “Intinya adalah apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan,” kata Jusuf Kalla kepada wartawan.
(paragraf 3)

Kompas:
Oleh karena itu, langkah yang diambil, lanjut Kalla, termasuk melaksanakan kesepakatan sebelumnya dengan Komisi V DPR, yaitu memperbaiki segala sesuatu yang bisa diperbaiki dan dikerjakan. Sebaliknya, tidak boleh mengerjakan sesuatu yang memang tidak boleh, seperti menguruk situ untuk dijadikan permukiman.
(paragraf 9)

Pikiran Rakyat mempergunakan diksi “wapres tidak bersedia menjelaskan” dan “hal itu merupakan urusan internal pemerintah” yang seolah-olah mempertunjukkan kearoganan dan sikap tertutup pemerintah pusat. Pada Kompas tidak ditemukan kesan ini. Kompas lebih mengutamakan pernyataan Wapres terkait langkah-langkah yang bisa dikerjakan dan larangan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak diperbolehkan.

Berkenaan dengan rapat koordinasi tentang pencegahan banjir, Pikiran Rakyat tidak membahas secara khusus tentang rakor tersebut. Yang dibahas secara khusus dan terperinci adalah peninjauan terhadap kawasan banjir yang dilakukan para pejabat sebelum rakor dimulai. Kompas justru melakukan hal yang sebaliknya. Berikut kutipannya. 

Pikiran Rakyat:
Sebelum rapat, wapres didampingi sejumlah pejabat terkait meninjau kawasan banjir di Jakarta, Banten, dan Jabar, lewat udara. Dengan menumpang 1 helikopter milik kepresidenan, dan 2 helikopter milik TNI AD, Wapres di antaranya didampingi Gubernur DKI, Gubernur Jabar Danny Setiawan dan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.
Bupati Bogor dan Bupati Tangerang, Ketua Bappenas Paskah Suzetta, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menneg LH Rachmat Witoelar, Menteri Kehutanan M.S. Kaban dan Menko Kesra Aburizal Bakrie, juga ikut dalam rombongan itu untuk melihat kondisi terakhir daerah-daerah yang tergenang banjir di DKI, Banten, dan Jawa Barat.
(paragraf 11-12)

Kompas:
Rapat koordinasi itu antara lain diikuti Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Boediono, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Hadir pula Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, dan Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, serta Wali Kota Bogor dan Tangerang. Sebelumnya, bersama sejumlah menteri, Wapres meninjau kawasan DAS Ciliwung dan Cisadane dengan menumpang helikopter.
(paragraf 6-7)

Dapat dilihat bahwa dalam Kompas hanya terdapat satu kalimat yang mengabarkan tentang peninjauan tersebut. Pikiran Rakyat memerinci diksi “sejumlah menteri” pada Kompas dengan cara menyebutkan nama mereka satu per satu. Selain itu, Pikiran Rakyat pun memerinci diksi “dengan menumpang helikopter” pada Kompas dengan diksi “dengan menumpang 1 helikopter milik kepresidenan, dan 2 helikopter milik TNI AD”. Mengenai para pejabat yang menjadi peserta rakor, Pikiran Rakyat sepertinya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting untuk diberitakan. Karenanya, detil mengenai rakor tidak terdapat dalam berita Pikiran Rakyat.

Yang menarik, Pikiran Rakyat dan Kompas pun memilih topik yang berbeda untuk mengakhiri berita ini. Berikut kutipannya.

Pikiran Rakyat:
“Sewaktu saya jadi menteri, masalah lingkungan hanya menjadi isu sampingan. Kini, masalah lingkungan harus menjadi pokok garapan pemerintah maupun masyarakat,” kata dia di saat diskusi masalah banjir di Jakarta, kemarin.
(paragraf 14)
Manajemen air, menurut Sarwono, sangat penting karena air akan menentukan masa depan bangsa. Dia mengharapkan pemda-pemda memelopori konservasi lingkungan untuk menciptakan sumber-sumber air bersih.
(paragraf 17)

Kompas:
Terhadap warga yang selama ini menghuni bantaran Sungai Ciliwung, Kalla juga meminta Sutiyoso tidak memaksa mereka pindah dan menggusur mereka jika tidak dipersiapkan terlebih dahulu rumah pengganti untuk disewakan kepada warga.
Pasalnya, persoalan yang ada di kawasan bantaran Sungai Ciliwung itu semata-mata bukan persoalan banjir, tetapi juga persoalan kemanusiaan, ekonomi, maupun sosial. “Jadi, tidak bisa asal gusur dan memindahkan secara paksa dalam keadaan seperti ini kalau belum dibangun rumah sewanya yang disiapkan,” ujar Wapres.
(paragraf 18-19)

Pikiran Rakyat memilih untuk mengakhiri berita dengan mengkritik dan menghimbau pemerintah (baik pemerintah pusat maupun pemda) melalui sosok mantan Menteri Lingkungan Hidup yang sekarang menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sarwono Kusumaatmadja. Kritikan dan himbauan tersebut ditutup dengan solusi cerdas dari Sarwono untuk menanggulangi banjir, yaitu manajemen air. Sementara itu, Kompas memilih untuk mengakhiri berita dengan pernyataan Wapres sehubungan dengan penyikapan pemerintah terhadap warga yang selama ini menghuni bantaran Sungai Ciliwung. Wapres sebagai wakil pemerintah pusat digambarkan Kompas sebagai sosok yang bijaksana dan amat memperhatikan kepentingan rakyat. Pikiran Rakyat tidak hendak menggembar-gemborkan hal ini dan tampak lebih tertarik untuk “mendesak” pemerintah agar lebih memperhatikan lingkungan hidup terkait masalah banjir yang melanda Jakarta.

Dengan memaknai teks berita, pembaca tidak hanya mengetahui apa yang diliput oleh media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa ke dalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu. Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi, tetapi dipandang sebagai politik berkomunikasi - suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang (Eriyanto, 2006:227). Hal ini merupakan bagian dari strategi wartawan. Peristiwa yang sama bisa jadi dipahami secara berbeda oleh wartawan yang berbeda, dan ini dapat diamati dari topik suatu pemberitaan.

Jika kedua berita tersebut dibaca secara netral dan dianggap sebagai paparan fakta-fakta belaka, niscaya tidak ada yang ganjil dalam proses penafsiran. Namun, jika penilaian subjektif atau interpretasi pribadi dipakai dalam proses penafsiran, ada beberapa kemungkinan penafsiran yang akan muncul. Demikian pula jika dilakukan pemaknaan yang mendalam dan menyeluruh pada teks berita. Perbandingan yang saya lakukan terhadap berita Pikiran Rakyat dan Kompas di atas pun tidak terlepas dari interpretasi saya sebagai pembaca. Saya baru sebatas meneropong teks berita dari sisi wartawan sebagai peliput berita dan pengolah berita, yang memanfaatkan bahasa sebagai sarana efektif untuk menginformasikan sesuatu, baik secara implisit maupun eksplisit. Bagaimanapun, idealnya media merupakan ruang bagi para wartawan untuk menyampaikan kebenaran.

Referensi:
Eriyanto. 2006. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS.

NB:

Buat Indro Karathan =p, hatur nuhun pisan nya atas pinjaman buku Eriyanto-nya. Nuhun… nuhun… Tenang Ndro, ngke ku abi disampulan sing rapi heula, heuheuheu… :D

– Jatinangor, @ Connect no.5, 3 Maret 2007, pkl.10.25 WIB –

Be A Full Time Mother… Why Not???

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 6:56 pm on Friday, March 2, 2007

Hmmh… Baru aja beberapa detik lalu saya selesai membaca blog seorang sahabat dan seorang teman saya (berturut-turut masing-masing adalah): Uti dan Haqiqie.
Seperti biasa, postingan-postingan blog yang biasa saya kunjungi ini saya transfer via flashdisk
(buat Uti: Ada saran ga dikasih nama apa flashdisk merah mungil kesayanganku ini? :D) untuk saya baca di rumah. Kedua blog ini benar-benar bertolak belakang sekali, baik dari segi gaya penceritaan maupun topik yang dipilih oleh si blogger. Uti dengan topik ringan dan gaya penceritaan yang interaktif, komunikatif, diselingi humor dan sinisme serta argumen kuat yang kadang-kadang ngaco tapi sering banget bener… Haqiqie dengan topik yang lebih serius dan gaya penceritaan yang introvert, puitis romantis, dan rada-rada bernuansa kelam… Namun begitu, entah kenapa saya begitu menikmati proses pembacaan saya terhadap tulisan-tulisan kedua makhluk ini. Sepertinya di warnet besok saya akan banyak memberikan komentar di blog mereka nih. Tunggu saja ya, Uti, Haqi…  :)
Tiba-tiba saja
(ah, hidup memang penuh dengan "ketiba-tibaan"…), saya jadi ingin membuat sebuah tulisan yang terinspirasi dari postingan Uti di blognya yang berjudul "full time mother". Hihihi… secara gitu seorang Uti udah berpikir ke arah sono. Kaget pula diriku ini waktu kami berkunjung bareng ke Pasar Buku di Landmark 1 Februari lalu, dan buku yang bikin mata Uti berbinar-binar dengan mupeng adalah buku berjudul sama. Halah! Kapan atuh Ti dirimu beli itu buku? (Atow udah beli?? Pinjem…!) Btw, daku nyesel beli novel "Ei Tu Ze" tea. Asli gak sesuai harapan, hiks… :( Apakah dirimu berpendapat sama Ti? Kalo daku jadi dirimu, pasti daku nyesel banget ga milih buku "Full Time Mother" dan malah beli "Ei Tu Ze".
Oke, cukup. Back to the topic… Tulisan Uti yang berjudul "full time mother" ini mengingatkan saya pada 2 sosok wanita yang saya kenal. Masing-masing telah menyandang dua gelar yang rata-rata diidam-idamkan kaum Hawa: gelar "istri" dan gelar "ibu". Tidak jauh-jauh, 2 wanita itu adalah kakak sulung dan kakak ipar saya. Kakak sulung saya sudah bergelar istri sejak 9 tahun yang lalu dan bergelar ibu setelah dikaruniai 2 orang putri, masing-masing berumur 8 tahun dan 2 bulan. Sementara itu, kakak ipar saya baru bergelar istri selama 2 tahun dan bergelar ibu setelah dikaruniai seorang putri yang baru berumur 10 bulan. Walaupun sama-sama menyandang 2 gelar itu, penyikapan keduanya dalam menjalani peran masing-masing sungguh berbeda. Yang satu benar-benar seorang "full time mother" yang tangguh sebagai seorang ibu rumah tangga, sedangkan yang satu lagi benar-benar seorang "part time mother" yang handal sebagai wanita karir.  
Dengan melihat kehidupan sehari-hari mereka saja, saya sudah bisa memilah mana yang ingin -dan selayaknya- saya jadikan acuan jika kelak kedua gelar itu saya sandang. Saya sependapat dengan Uti yang menulis:

"kalo ngomongin tentang menjadi seorang ibu, hm.. terbayang kata2 berikut mengiringi: tanggung jawab, madrasah, sabar, kasih sayang, mulia. buat gw, tugas yang paling mulia buat seorang wanita adalah menjadi seorang pendidik, memastikan bahwa generasi setelahnya punya kualitas yang lebih baik, seengganya generasi yang lahir dari rahimnya sendiri."

Salut dengan Uti yang di usianya yang masih muda belia (belum 20 kan, Neng? :p) sudah merencanakan dengan matang akan menjadi ibu seperti apa dirinya kelak! Didoain Ti, didoain…
Yup, memang benar begitulah tugas dan kewajiban hakiki setiap wanita yang menyandang gelar "ibu". Dengan menjadi seorang "full time mother", peluang untuk memenuhi tugas dan kewajiban tersebut tentunya akan lebih besar, jika dilihat dari segi waktu yang dimiliki untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Bandingkan dengan seorang "part time mother" (ini sih istilah bikinan saya aja…) yang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, sehingga peluang untuk memenuhi tugas dan kewajibannya itu menjadi kecil. Padahal anak adalah titipan Illahi yang mesti dijaga, dididik, dan dibina. Siapakah penjaga, pendidik, dan pembina itu? Yang memegang peranan terbesar di sini adalah seorang ibu, setelah itu ayah, lalu sekolah, dan setelah itu barulah yang lainnya.
Menjadi seorang wanita karir memang membanggakan. Namun, menjadi seorang ibu yang penuh kasih, menyayangi dan disayangi putra-putrinya, serta mampu "membentuk" putra-putrinya menjadi generasi cerdas bermental baja dan berakhlak mulia tentu lebih membanggakan, bukan? Atau, ada di antara Anda yang malah ingin menjadi seorang wanita karir sekaligus seorang ibu yang seperti itu? Boleh saja, dan bisa saja, jika memang ada niat, tekad, ilmu, dan yang paling penting: realisasi.
Bagaimana dengan saya?
Hm…
Saya sih, seperti judul tulisan ini: "Be A Full Time Mother… Why Not???"
Pengennya sih begitu, baru sekadar niat dan tekad, sedangkan ilmu masih terlalu minim (harus banyak belajar lagi!) dan realisasi masih jauh dari pandangan (lah, calon suami alias calon "bapaknya anak-anak" aja belum menampakkan diri! ^_^).
Btw, harusnya sebelum saya bikin tulisan ini, saya bikin dulu tulisan berjudul "Jadi Istri Sholehah… Siapa Takut?" (waduh… tolong, MO saya kumat lagi! :D) atau "Jadi Suami Rosi Rosmala Dewi… Mengapa Tidak?". Heuheuheuheuheu… :))

NB:
Perlu dicatat di sini, saya membatasi istilah "part time mother" hanya pada para wanita karir yang bekerja di luar medan dakwah. Istilah "part time mother" sangat tidak cocok untuk ditempelkan di kening para ummahat yang bisa membagi waktu antara perjuangan dakwah dan kewajiban mereka terhadap suami serta putra-putri mereka! Bagi mereka, sepenuh hati saya merasa teramat kagum dan doa pun saya panjatkan:
"Semoga Allah memberkahi mereka dengan kebaikan di setiap hela napas dan tetesan peluh mereka…"
Amin ya rabbal ‘alamin.

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 25 Februari 2007, selesai pkl.22.57 WIB – 

(baru sempat diposting hari ini, Sabtu, 3 Maret 2007, gara-gara kerusakan yang terjadi pada flashdisk merah mungil kesayanganku, hiks… ^_^)