Sejak awal tahun, TV ramai memberitakan tentang hilangnya pesawat terbang Adam-Air dan tenggelamnya kapal Senopati di Selat Madura. Baru aja tadi pagi saya liat berita terbaru (biasanya saya liat Reportase Pagi Trans TV dari pkl.5 subuh) yang masih memberitakan tentang itu. Pesawat terbang itu masih belum ditemukan jejaknya, sementara ada 11 orang penumpang kapal Senopati yang berhasil diselamatkan tim SAR.
Tiba-tiba aja tadi di bus saya teringat percakapan saya (lebih tepatnya sih dibilang "ngobrol ngaler ngidul", heu3x…) dengan 3 orang sahabat saya di kampus: Leny, Mira, dan Frieza, sewaktu makan siang bersama di kantin PEDCA kemarin. Berikut penggalan percakapan kami:
[Mira] Ih, kasian ya keluarga korban Adam-Air? Belum diketemuin juga ya di mana pesawat itu?
[Leny] Iya bener, kasian banget. Kebayang kalo misalnya keluarga kita yang jadi korban… hhh…
[Saya] Paling sedih tuh pas keluarga korban diwawancara. Ada korban yang baru lulus Akpol dan mau ditempatin di Polda Menado, pokonya bener-bener gak nyangka banget deh bakal kena musibah ini.
[Mira] Beneran jadi gak aman ya ke mana-mana tuh?
[Leny] Belakangan kan cuaca emang jadi buruk. Naik pesawat, takut badai. Naik kapal laut, bisa tenggelam…
[Mira] Di darat, kereta api anjlok. Jadi mesti naik apa coba?
[Saya] Jalan kaki aja. Itung-itung olahraga, heuheuheu…
[Mira] Tetep aja, jalan kaki… ya bisa ketabrak.
[Leny] Jadi, mesti gimana dong?
[Frieza] Mending diem di rumah aja, gimana?
[Mira] Di rumah, tetep aja bisa terjadi gempa. Hayo?
…
Percakapan berujung pada kesimpulan bahwa yang namanya ajal emang gak bisa ditebak. Maut selalu mengintai dan selalu menunggu untuk menjemput kita. Bisa jadi 1 menit lagi, 1 jam lagi, atau besok, kita udah "berpulang". Dan gak ada yang bisa menghindar dari ajal yang udah digariskan oleh Allah buat tiap manusia.
Saya jadi inget juga sama film Final Destination yang dibintangi Devon Sawa dan ada seri 2 & 3 nya itu. Sekumpulan anak muda yang menghindar dari maut dengan sekuat tenaga, tetapi pada akhirnya tetap aja maut menjemput mereka satu per satu dengan cara yang takterduga dan waktu yang gak diduga pula. Film-nya cukup mengerikan, tapi cukup seru.
Saya dengan sentimentalitas dan kemelankolisan yang saya miliki selalu saja merasa hati saya ikut berduka tiap kali reporter di berita-berita mewawancarai keluarga korban yang berharap-harap cemas menanti kabar. Dari sini, saya turut berdo’a, semoga saja tim SAR lekas menemukan lokasi jatuhnya pesawat Adam-Air itu. Semoga pula pihak keluarga diberikan ketabahan jika yang mereka terima nanti adalah kabar yang tidak diharapkan.
Berbicara soal kematian, masih saja saya sering merasa jengah… dan takut, mungkin. Bagaimanapun, saya berusaha menyadarkan diri saya bahwa takada manusia yang bisa menghindar dari takdir dan kematian, termasuk saya tentunya. Itu semua adalah rencana Alllah swt. Yang Maha Mengetahui.
Hanya saja, jika saya masih boleh meminta pada-Mu ya Rabb… Semoga ajal menjemput saya dengan cara yang baik dan saya berada dalam keadaan yang baik pula. Amin ya Rabbal ‘Alamin…
– Jatinangor, @ Chapter no.1, 04 Januari 2007, pkl. 08.05 WIB –