coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

My FinaL DecisioN

Filed under: Music — cherry-calosa at 4:56 pm on Friday, January 12, 2007

I finally run with my finger
Breathing without any expectation
That’s you who left me, beneath hope and meanness
And now I fall into the bar of your enchantment

This is not the way you hold me, you drive away
This is not the way you stole my heart, you push me to your cleft

I fell so immortal
I’ll walk I live with my decision
To forget you

"Hope, Meanness, & Decision"

by: Homogenic

www.homogenicworld.com

– Jatinangor, @ Chapter no.13, 13 Januari 2007, pkl. 07.58 WIB –



2 Comments »

159

   Donny

January 16, 2007 @ 7:38 am

Pengalaman saya mengatakan…”Melupakan bukan langkah yang bijaksana…” :) Semakin keras dirimu berusaha melupakan, semakin menjadi ‘dia’ dalam bayangan dirimu.

Pengalaman saya juga mengatakan…”Bahkan jika dia ada dihadapanmu, berbicara denganmu, curhat kepadamu, kamu masih tetap bisa berbahagia dengan perasaan yang netral, kuncinya satu…bahwa dia juga milik yang Maha Pencinta, maka kembalikanlah setiap urusan kepadaNya.” :)

160

   rosi

January 18, 2007 @ 7:00 pm

Tentang “melupakan” itu memang demikian adanya. Pengalaman saya dengan beberapa manusia pun mengatakan begitu.

“My Final Decision” di sini bukan “melupakan” dalam arti “melupakan beliau seutuhnya” atau “menyingkirkan beliau dari pikiran”, tapi berarti “melupakan beliau sebagai manusia yang jadi pusat segala harap saya”.

Kini, saya sedang berusaha untuk mengingatnya sebagai “manusia biasa yang singgah dalam kehidupan saya, dan entah kapan berlalu”.
Itu saja.

Bagi saya, kenetralan itu sulit untuk diwujudkan. Jika saya sudah menganggap seseorang tidak netral lagi, akan butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengubahnya kembali netral. Demikian juga yang terjadi antara saya dan beliau.

Jika beliau ada di hadapan saya, berbicara kepada saya, curhat kepada saya, mengajak saya bercanda, tertawa, berbagi tentang apa saja, bahkan mengenai calon pendampingnya, mungkin akan terlihat bahwa sikap yang saya tunjukkan sangat netral. Namun, dalam diri ini, sebenar-benarnya segala rasa tetap saja bercampur aduk.

Banyak orang mengatakan saya terlalu pengecut dengan tidak berusaha membuat beliau setidaknya mengetahui “ketidaknetralan” yang telah terjadi. Dalam diri saya selalu muncul pertanyaan: Perlukah semua itu? Yang terpenting, setelahnya, masih dapatkah saya yang seadanya ini membuatnya bahagia?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang. Lalu diri ini selalu menjawab itu semua tidak perlu. Mungkin benar saya terlalu pengecut. Tapi, saya selalu saja berpikir, jika beliau sudah cukup merasa bahagia dengan “kenetralan” yang terjalin di antara kami, dengan adanya saya di hidup dia sebagai tempat berbagi, dengan mengetahui bahwa saya selalu mendoakan yang terbaik untuknya, maka saya pun sudah cukup senang.

Mengertikah dirimu? Kata-kata saya pabaliut kieu… :D
Allah memang Maha Pencinta dan juga Maha Pembolak-Balik Hati. Saya selalu yakini itu. Karenanya, dengan keputusan ini, bukan berarti saya mengenyahkan peran Allah dalam hal ini. Biarkan saja takdir Allah berjalan atas kami, apapun kami jadinya nanti…

Dan saya masih terus dihembus angin, menari dengan jutaan capung… :)

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>