coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

Menanggapi Obrolan Donny - BaRLy

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 7:06 pm on Monday, January 29, 2007

Mau nimbrung di percakapan Kang Donny & K’baRLy di blog Kang Donny, boleh ga? Harus boleh! Heuheuheu… :D Tulisan yang Kang Donny buat berjudul Saya dan Polemik Poligami. Berikut percakapan sang penulis dan K’BaRLy di bagian Comments:

<baRLy> Tulisannya menarik dan ilmiYah. Tapi gimana kaLo gak perLu berpihak pada pRo atau kontra. kan hukumnya boLeh, gak perLu di bikin jadi pro pada sesuatu yang boleh atau kontra pada sesuatu yang Boleh. Mampu ya Lakuin, gak mampu ya beLajar yang banyak dan jadikan diri supaya mampu nantinya. hehehe… (kan BoLeh)

<Donny> Justru karena boleh, makanya saya pro..:D ILmiah? Horeee, ada juga yang nyebut tulisan saya ilmiah…;))

<baRLy> Yang Penting jangan pengen istrinya masuk SuRga (karena bersedia diPoligami). tapi suaminya maLah masuk Neraka karena niatnya bukan ibadaH. ehm..

Saya jadi tergelitik ingin menanggapi. Sebagai calon istri yang Insya Allah akan dinikahi seorang lelaki (entah siapa dan entah kapan, ehm… :D), saya juga mikirin hal ini. Kalo saya, saat suami saya suatu saat misalnya berkeinginan untuk melakukan poligami, saya lebih memilih untuk bilang: "Pilih dia (wanita yang akan dijadikan calon istri kedua) atau saya?"

Hmmm… sounds like saya seorang yang begitu egois dengan tidak memikirkan bahwa saya telah menganiaya suami saya dengan kalimat ekstrim itu. Namun, bagi saya ada makna lain dari kalimat itu. Makna lain tersebut adalah bahwa saya lebih memilih untuk melepas status saya sebagai istri daripada suami saya kelak masuk neraka gara-gara ada setitik "rasa diperlakukan tidak adil" dalam hati saya terhadap perlakuan sang suami.

My murobbiyah said: "Saat seorang lelaki melakukan poligami, pintu neraka terbuka selebar-lebarnya baginya, sedangkan pintu surga terbuka selebar-lebarnya bagi istrinya. Mengapa bisa begitu? Karena sedikit saja ada rasa tidak ikhlas, tidak ridho, iri hati, rasa diperlakukan tidak adil dalam hati sang istri, maka sungguh neraka-lah ganjaran bagi sang suami. Wallahualam bishawab…"

Berdasar pada kata-kata murobbiyah tercintaku ini, saya jadi takut. Bukan takut nikah sama seorang lelaki yang pro poligami, tapi saya takut tidak bisa ikhlas, tidak bisa ridho, tidak bisa tidak merasa iri hati, dan tidak bisa tidak merasa diperlakukan tidak adil jika dipoligami nantinya. Akibatnya, secara tidak langsung, saya seperti "menghadiahkan" neraka untuk suami saya. Na’udzubillahi min dzalik…

Karena itu, bagi saya poligami adalah sebuah tantangan sekaligus ujian yang tidak bisa dibilang ringan. Dikatakan sebuah tantangan, karena saya ditantang untuk menjadi istri yang berbakti pada suami, mengerti dan memahami keinginan suami, demi kebahagiaan suami. Dikatakan sebagai ujian, karena saya diuji untuk menjadi istri yang bisa bersikap ridho, mau berbagi kebahagiaan dengan orang lain, dan diuji kecintaan saya pada Allah, apakah saya lebih mencintai-Nya atau lebih mencintai suami saya.

Jadi, untuk kaum Adam, hendaknya pertimbangkanlah matang-matang, sesungguh-sungguhnya, dengan istikharah meminta petunjuk dari-Nya, untuk menyikapi niat yang timbul dalam diri untuk melakukan poligami. Juga, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa wanita yang menolak untuk dipoligami adalah wanita yang egois, tidak memahami suami, dan telah menganiaya suami. Karena siapa tahu, mereka justru sangat memikirkan kebahagiaan suami di akhirat nantinya…

Halah! Si Oci teh ya… nikah aja belum. Heuheuheu… :)) Buat Kang Donny & K’BaRLy, ini hanya sedikit tanggapan dari seorang manusia yang mungkin pola pikir dan ilmunya jauh lebih sederhana dan lebih sedikit daripada pola pikir dan ilmu kalian.

– Jatinangor, @ Connect-net no.3, 30 Januari 2007, pkl.09.54 WIB —



3 Comments »

165

   Donny

January 30, 2007 @ 7:34 am

Hmm…selama ini ada yang menjadi catatan saya juga, Neng. Sebenarnya yang memutuskan adil atau tidaknya itu kita atau Allah sih? Sebab kalau ukuran ketidakadilan itu berasal dari kita, rasanya sulit untuk mendapatkan titik temu.

Namun, kalau dari Allah, sang istri bisa saja merasa tidak adil, tapi ternyata Allah berpendapat adil. Begitu juga sebaliknya, istri dan suami bisa saja merasa adil, tapi Allah menyatakan tidak. Dan, untuk saat ini, saya berpendapat bahwa keputusan adil atau tidaknya itu bukan dari manusia, tapi Allah. Entahlah. :D
Di sisi lain, monogami juga belum berarti adil, lho…;)

Catatan lagi, pro poligami bukan berarti niat poligami..:-]

Wallahualam

166

   rosi

February 4, 2007 @ 4:28 pm

Hmm… susah juga ya kang?

Sama seperti ketika menyikapi ayat 216 surat Al Baqarah tentang baik dan tidak baik. Jika terkungkung dalam persepsi manusia, sungguh hanya kerelatifan yang ada.

167

   baRLy

February 11, 2007 @ 1:36 am

afwan sodara-sodariku semua. kita jadi seru niH ngebahasnya. padahal pemerintah ajaH udah Lupe dupe kaLi yah, karena ada banyak urusan Lain Layaknya banjir dan PiLkada jakarta. hehe..

buat teh ochi yang beLum mau (saya tidak mau biLang tidak mau) berPoligami, ya beLajar banyak Lagi. buat kaum adam yang kekeh dengan Poligami yang memang haLal itu juga kudu beLajar Lagi.

intinya menurut saYa adaLah boLehnya Poligami itu nda disaLahin. kaLo gak mau ya biLang sama suami sebeLum akad bahwa suami mengucap janji yang diamui istri (belajar Munakahat duLu mendingan Yukz, sebeLum ngobroL Poligami!) toh yang ngobroLin juga beLum punya istri?! hehe…

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>