coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

Dua Jam Bersama Putri

Filed under: my lovely friends — cherry-calosa at 4:14 pm on Thursday, January 11, 2007

Hari itu Kamis, 4 Januari 2007.
Saya janjian sama seorang sahabat saya, Putri alias Uti, di ITB. Tepat jam 3, saya udah nyampe di ITB. Sambil menunggu Uti, saya duduk di dekat air mancur ITB, tempat favorit saya. Badan yang kegerahan sehabis "dijemur" di Jatinangor sebelumnya, rasanya jadi segar kembali. Pfiuh… nyaman banget! Beberapa menit kemudian, Uti datang bertepatan dengan adzan Ashar.
Ada beberapa mushola yang dijadikan opsi untuk salat. Saya memilih mushola anak Farmasi karena lebih luas, nyaman, dan memisahkan tempat salat kaum Hawa dan kaum Adam. Selesai salat, Uti dan saya duduk-duduk di sebelah mushola. Wow, saat saya menatap "benda" yang ada di pangkuan Uti, mata saya berbinar-binar. Sebuah laptop! Huhuy, secara gitu saya yang gaptek ini ngeliat benda secanggih itu, mungkin kayak wajah manusia purba ngeliat korek api :D
Mari kita sedikit berbicara tentang laptop punya Uti. Jangan kaget Saudara-Saudara, laptop Uti ini diberi nama layaknya makhluk hidup atawa peliharaan! Namanya imut dan unik: IBI. Kata Uti, itu singkatan dari IF Wanna Be. Ga ngerti tuh saya apa maksudnya :D Saya geleng-geleng kepala. Aneh aja, barang-barang kok dikasih nama. Waktu saya ngeluarin mp3 player saya (hadiah ultah ke-20 dari Babeh saya tercinta, berwarna dominan merah dan ada itemnya), Uti nanya namanya siapa. Halah, saya cuma nyengir…
Perihal penamaan nama, benda yang saya kasih nama cuma boneka-boneka saya.
Boneka yang tergeletak di samping bantal saya pertamanya cuma sebuah, yaitu boneka beruang ukuran sedang. Itu hadiah ultah ke-19 dari Teh Sri, temen Teh Reni, kakak saya. Saya kasih nama standar: Teddy.
Belakangan, nambah lagi satu, yaitu boneka kucing gendut jenis Calico yang warna bulunya dominan putih cuma ada warna item dan jingga di bagian atasnya. Itu hadiah ultah ke-20 dari 3 sahabat saya, Leny, Garnis, dan Mira. Mereka emang paling tahu banget kalo saya kucing-holic alias tergila-gila banget sama kucing. Bayangin aja, daripada motoin cowok-cowok cakep yang melintas, saya lebih memilih motoin kucing yang lagi guling-gulingan atau lagi tidur atau lagi nyusuin anaknya (secara gitu saya paling phobia sama makhluk berlabel cowok cakep :p)! Yang lucu dari boneka kucing ini, dia gak punya kumis. Mungkin si pembuat lupa atau emang sengaja, saya gatau :D Nama kucing gendut ini terinspirasi dari nama temen saya: Douwny (untung yang punya nama gak keberatan namanya dijadiin nama boneka kucing gendut ga berkumis, heuheuheu… :p).
Lalu, nambah lagi 3 boneka paus abu-abu ukuran kecil yang dikasih temen saya, Ali, sebagai hadiah ultah ke-20. Kenapa berjumlah 3? Jawab yang ngasih, itu perwakilan dari 3 huruf: A-L-I, dan paus itu lambang persahabatan. Boneka paus ini masing-masing punya keunikan tersendiri yang membedakannya dengan yang lainnya. Saya kasih nama masing-masing: Tata, Hikaru, dan Jojo. Kesejarahan pemberian nama ini mengherankan juga, karena terlintas begitu saja di kepala saya.
Jadi, begitulah sedikit pembicaraan gak penting tentang pemberian nama boneka-boneka saya :p
Balik lagi ke Uti dan si Ibi. Saya cuma masukin lagu-lagu yang ada di si Ibi ke mp3 player saya. Wah, saya seneng banget karena ternyata Uti punya beberapa lagu King of Convinience yang udah sangat lama saya cari-cari! Selain itu, saya masukin juga 3 lagu Sherina yang masing-masing berjudul "Aku dan Rembulan", "Putri dalam Cerminan", dan "Dua Balerina". Ada lagu "Silk Road"-nya Kitaro juga, Kenny Loggins, dan beberapa lagu yang direkomendasikan Uti. Setelah proses pentransferan lagu selesai, Uti bermaksud mengistirahatkan si Ibi. Sebelumnya, Uti nunjukin wallpaper si Ibi yang dibuatnya sendiri. Ada beberapa baris kalimat tertulis di sana, yang Uti kutip dari tulisan Dewi Lestari. Lengkapnya, tulisan itu bunyinya seperti ini:

Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir.
Sekalipun nyaman engkau di tengah impitan sesamamu,
tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang.

Di lingkungan gurun yang serba serupa, untuk apa lagi menjadi kaktus.
Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar di mana-mana.
Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.

Di lansekap gurun yang mahaluas, lebih baik tidak menjadi oase.
Sekalipun rasanya kau sendiri,
burung yang tinggi akan melihat kembaranmu di sana-sini.

Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi.
Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu,
angin malam akan menggigil ketika melewatimu,
oase akan jengah, dan kaktus terperangah.
Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi,
atau sekadar bergerak dua inci.

Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka,
kau berani putih meski sendiri,
karena kau… berbeda.

("Salju Gurun" dalam buku Filosofi Kopi karya Dewi Lestari)

Wuih, dalem banget! Saya jadi teringat sama diri saya sendiri yang telah dengan sukses telah menjadi salju di tengah gurun. Saya berbeda dari temen-temen saya di SMA 3. Saya berbeda dengan mereka karena saya "berani beku dalam neraka, berani putih meski sendiri". Saya berbeda karena dari sekian ratus anak SMA 3 angkatan 2004, cuma saya sendiri yang memilih jalan masuk Sastra Indonesia Unpad :) Hanya saja, setelah berada di gurun yang baru, sepertinya saya masih harus terus berjuang sekuat tenaga supaya bisa menjadi salju, karena di gurun yang baru, ada banyak hal yang menggoda saya untuk hanya sekadar menjadi butiran pasir atau kaktus atau oase. Pfiuh… sungguh tidak mudah.
Setelah si Ibi diistirahatkan, cacing-cacing dalam perut saya sudah meronta-ronta minta makanan. Bagaimana saya gak kelaparan, saya memang tidak sempat makan siang sewaktu di kampus tadi. Uti pun mengajak saya ke kantin belakang Salman. Kata Uti, di sana ada makanan-makanan super enak dengan harga standar. Ah, rasanya apa pun akan terasa enak jika sedang kelaparan. Benar bukan? :D
Di tengah perjalanan, saat menyusuri selasar dan lorong-lorong ITB, saya mengeluarkan celetukan:
"Wah, di ITB banyak banget tipe Oci, Ti!"
"Hah?"
"Iya. Makhluk-makhluk bertubuh tinggi, kurus, pake kacamata, rambut dibelah tengah… Aneh, kok yang berhasil memenangkan hati ini selama ini malah jauh dari kriteria-kriteria itu ya? Ada beberapa orang. Ada yang gak tinggi, ada yang gak pake kacamata, gak kurus, dan rambutnya gak dibelah tengah… ya pokoknya jauh deh."
"Berarti Oci jangan sampe liat si 10 Tahun."
"Si 10 Tahun? Emang kenapa?"
"Soalnya rambut dia sekarang udah ganti kacamata. Rambutnya juga dibelah tengah lho."
"Oya? Wah, Oci sih udah sama sekali gak peduli. Sedetik pun, gak pernah terlintas di pikiran tuh!"

Pembicaraan tentang manusia yang dijuluki "Si 10 Tahun" pun terhenti sampai di sini. Selama beberapa saat, saya teringat pada sosok manusia yang dulu sempat merajai otak dan hati saya (halah, bahasana! ^_^) selama lebih kurang 10 tahun sejak kelas 3 SD sampai kelas 3 SMA! Dulu, saya sering bilang tanpa ragu bahwa sampe kapan pun, saya akan tetap mengejar manusia itu. Kini, bahkan namanya saja sama sekali tidak pernah terlintas lagi di pikiran saya! Aneh memang, waktu yang sedemikian lamanya sekarang saya rasakan malah menjadi waktu yang sia-sia. Saya sering terheran-heran mengapa dulu saya sampai sebegitunya "kageloan" sama manusia yang satu itu. Ah, saya tersadarkan kembali bahwa sungguh Allah memang Maha Pembolak-Balik Hati. Belum tentu manusia yang kita cintai saat ini akan tetap kita cintai di masa depan. Jadi, cintailah seseorang sekadarnya, heuheuheu… sok nasihatin gituh! :D
Dan akhirnya… saya dan Uti tiba di kantin belakang Salman. Horeee… wangi-wangian yang menggugah selera segera tercium oleh hidung saya! Oya, kantin ini yang pernah dijadikan tempat syuting film "Jomblo". Kalo gak diajak Uti, entah kapan saya berkunjung ke kantin ini. Uti menawarkan 2 opsi makanan: Nasi Goreng Keju atau Ayam Goreng Keju. Hmm… keju? Wuaaaaa, favorit saya banget! Tadinya pengen mesen dua-duanya gitu, hihihi… :p Tapi, berhubung kondisi keuangan saya sedang buruk dan saya gak pengen nanti saya gak bisa jalan pas pulang karena kekenyangan (^^;), pilihan saya pun jatuh pada Ayam Goreng Keju. Minuman yang saya pesan yaitu jus melon, kalo Uti mesen jus stroberi.
Sekilas tentang melon, inilah jenis buah yang paling saya sukai di antara buah-buahan lainnya. Sejak SMP, SMA, sampai detik ini, melon masih menjadi pilihan saya yang utama. Baik buahnya ataupun jusnya, bagi saya sama nikmatnya. Setiap kali suasana hati saya sedang mumet gak jelas, pasti saya nyari buah ini di sela-sela gerobak tukang buah atau tukang jus. Kalo ada, langsung saya beli. Rasanya enak banget di lidah saya. Terasa manis dan menyegarkan. Kemumetan pun lenyap. Sama seperti efek hujan buat saya. Bisa dibilang, saya cinta melon sama seperti saya cinta hujan :)
Kalo keju, beberapa teman saya sangat membencinya. Eneg, kata mereka. Mira, salah satu sahabat saya di kampus, adalah salah satu pembenci keju. Saya sering menggodanya dengan membawa bekal roti keju atau makanan lain yang mengandung unsur keju, ke kampus. Sementara teman-teman yang lain saya bagi, Mira tidak bisa ikut menikmatinya karena ada kejunya, hihihi… :p
Ayam Goreng Keju di kantin ini unik. Sekilas, penampilannya saat tersaji di piring mirip dengan pisang keju. Ayam goreng tersebut dipotong-potong bentuk kotak, lalu ditaburi keju serut di atasnya. Hmm… nyummy! Tanpa dikomando, saya langsung mencicipi sepotong, dan… wow, lezat!
Saya dan Uti mengobrol banyak. Sebenarnya lebih banyak saya yang curhat tentang beberapa hal yang belakangan ini membuat saya gundah gulana (^^;). Seperti biasa, Uti dengan jeniusnya mampu memberikan komentar-komentar dan saran-saran bijak yang membuat saya mengangguk-ngangguk membenarkan. Pfiuh… rasanya agak plong hati ini rasanya setelah berbagi dan mendengarkan semua kata-kata Uti. Makasih ya Uti :)
Selesai makan dan membayar, waktu sudah menunjukkan pukul 5 lebih sedikit. Uti dan saya harus menyudahi pertemuan, karena Uti harus mengikuti rapat. Baru saja berjalan beberapa langkah, Uti menunjukkan SMS yang baru saja diterimanya. Isinya lebih kurang seperti ini:
"Ga tau kenapa kalo liat langit biru yang cerah suka inget Uti. Apalagi kalo liat bintang di langit malam… blablabla (intinya mah ngingetin supaya dateng rapat)"
Saya langsung senyum begitu selesai membacanya. Saya hanya teringat pada orang-orang yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat senada pada saya. Seperti "kalo hujan turun jadi inget Oci", "kalo liat melon jadi inget Oci", atau "kalo liat sapu jadi inget Oci" (!). Kalo yang soal hujan dan melon sih masih bisa dimaklumi. Misalnya, saya pernah hujan-hujanan bareng sama yang bilang "kalo hujan turun jadi inget Oci" atau yang bilang itu emang tahu banget kecintaan saya sama hujan. Misalnya juga, saya pernah makan melon bareng sama yang bilang "kalo liat melon pasti inget Oci" atau yang bilang itu emang tahu banget kecintaan saya sama melon. Tapi… kok sampe ada yang bilang kalo liat sapu jadi inget saya coba??
Hihihi, jadi begini ceritanya. Ada seorang manusia yang saya juluki "Pengki" karena wajahnya emang gak jauh beda alias mirip-mirip gitu sama Pongky, vokalis Jikustik. Mulanya manusia itu gatau kalo tentang julukan itu, tapi karena satu dan lain hal, saya mau gak mau harus jujur bilang padanya kalo saya menjulukinya seperti itu. Begitu beliau tahu, wah… beliau ngambek dan mencak-mencak! Katanya, beliau gak sudi disebut Pengki! Malah, beliau balas menyebut saya Sapu, karena Sapu selalu mengejar-ngejar Pengki. Hari itu Selasa, 26 September 2006. Ini SMS-an saya dengan beliau:

From : <Yoga>   23:51
Eh.. Sy ga sudi dsebut PENGKI..!!!!
To : <Yoga>   
=D Itu kan DULU, heuheuheu.. afwan deh! =D
From : <Yoga>   23:57
Klo gt.. yg ngejar2 pengki pasti SAPU dong!! Dasar SAPUUU!!!
To : <Yoga>   
Hwahahaha..! =P =P =P

Begitulah percakapan menjelang tengah malam antara Pengki dan Sapu :D Halooo, saya disamakan dengan Sapu yang selalu mengejar-ngejar Pengki? Secara saya dibilang "mengejar-ngejar" beliau?? Berarti beliau selalu "lari-lari" melulu dong kalo ketemu saya? Atau malah menikmati ya, seperti Pengki yang selalu ikhlas menerima sampah yang diberikan Sapu? Yah, walaupun nantinya sampah dari Sapu itu gak disimpen Pengki lama-lama, tetapi langsung dibuang ke tong sampah. Heuheuheu… apaan sih? Ah, hanya bagian masa lalu yang menggelikan (^^;).
Uti mampir dulu ke kios penjual buku di sebelah kantin yang katanya sih jual buku murah kayak di Palasari. Di sana, Uti beli buku Personality Plus. Entah kenapa? Mungkin karena ingin lekas mengenyahkan sisi kemelankolisan yang ada pada dirinya?? Wah, bantuin Oci juga lah, Ti… :p
Selesai tawar-menawar harga dan buku pun berpindah tangan dari si penjual ke tangan Uti, kami pun kembali ke kampus ITB. Uti menghadiri rapat, saya pulang melewati rute awal. Percakapan terakhir kami benar-benar gak jelas dan gak penting:

[Saya] Kalo Oci liat langit atau bintang, Oci gak akan inget Uti.
[Uti] Uti juga, kalo hujan, gak akan inget Oci.

Heuheuheu… dan demikianlah dua jam bersama seorang Putri Setiani, sahabat saya yang mungil, si Pencinta Bintang dan Pendamba Kejora…

NB:
Kok malah ngelantur kemana-mana gini yah, Ti?
Btw, kan udah kemarau nih. Hujan bakal jadi langka terlihat.
Jangan sampe gak inget sama Oci yah, Ti…
Hujan gak hujan, pokoknya harus tetep inget sama Oci! Heuheuheu… maksa…

(^^;)

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 11 Januari 2006, selesai pkl.22.52 WIB – 



1 Comment »

158

   Donny

January 12, 2007 @ 7:06 am

I Likes Melon, but i don’t likes Cheese. Tentang pemberian nama sama barang, dulu pernah ngasih nama sama beberapa barang kesayangang. Dan layaknya cowok, ngasih namanya pake nama-nama cewek…;))

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>