coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

Hope, Meanness, & Decision

Filed under: kata-kata bermakna — cherry-calosa at 7:31 pm on Wednesday, December 20, 2006

[Putri Hujan] Sepertinya saya sudah benar-benar tersesat karena tetesan Hujan makin deras membasahi diri. Ternyata hati saya patah untuk kesekian kalinya, padahal Hujan belum tahu bahwa sungguh saya mendamba dirinya..

[Kk PsiKoLoG] Kok bisa patah? Hujan tak menghiraukan atau ada pendamba hujan yang Lain? Tak bisa yah, lekas-lekas mandi ganti baju dan minum teh hangat? Atau hujan masiH terlalu deras tampak di jendeLa?

[Putri Hujan] Hujan terlalu baik. Pendamba Hujan sangat banyak, dan Hujan dengan teramat riang menitiki tubuh mereka. Saya sangat cemburu =(. Mau ngasih saya teh hangat?

[Kk PsiKoLoG] Duduk sini, biar sayah seduhkan. Mungkin awaLnya ocHi terLalu terLarut dan menengadah ke Langit, sampai-sampai takmenyadari banyak pendamba Lain yang juga menari dalam ritmis sang Hujan, di tengah terSesat ocHi baru nyadar?! Susah juga siH merebut hujan dari banyak orang.

[Putri Hujan] Makasih, akan saya minum tehnya seteguk. Saya sudah sadar sejak lama, tapi saya ingin ritmis Hujan hanya untuk saya. Apa bisa? Atau saya sebaiknya menerima apa adanya, dan tetap tersenyum tanpa bermimpi apapun?

[Kk PsiKoLoG] Terlalu panjang antriannya? Harus hujan yang didapatkan? Kalo saya ga mau ujian yang ga punya jawaban…

* 06 Desember 2006 pkl.13.33-pkl.14.06 WIB *

[Putri Hujan] Apa jadinya jika damba hanya harap takberbalas? Ah, biarlah semua melenyap! Aku muak pada keangkuhan kabut yang menebal mengaburkan tetes hujan. Membuatku tersesat taktahu arah..

[Kk PsiKoLoG] Apa kau Yakin  kaBut menebaL yang berSalah? Bagaimana dengan Lampu di tanganmu, apa sudah terarah? Sorot matamu, apa sudah kau curah? Kau Yakin kan, telah meLangkah? Atau caramu, apa tak saLah? Hujan hanya melaksanakan jatuhnya, tinggal teLapakmu yang mencoba menangkapnya! (^^;)

* 15 Desember 2006 pkl.23.40 WIB - 16 Desember 2006 pkl.04.47 WIB *

[Kk PsiKoLoG] Gimana kaBar harapanmu? ^^.

[Putri Hujan] Harapan masih mengabur. Hujan hanya tahu saya mengaguminya, bukan mendambanya. Ia hanya tersenyum menanggapi. Senyum ambigu. Semoga kelak ia mengerti..

[Kk PsiKoLoG] Semoga Yang mengaBur itu lama-lama berbentuk. Yang hanya menanggapi jadi mengerti. Dan Yang ambigu jadi Lebih memiliki arti. Coba rentangkan teLapakmu lebih Lebar ke angkasa. Biar Lebih banyak Bulir yang kau tangkap!

* 18 Desember 2006 pkl.05.32-05.59 WIB *

[Putri Hujan] Yang mngabur kian mengabur serupa kabut. Takjua tercipta kemengertian. Senyum itu masih ambigu. Saat kucoba merentangkan telapak, bulir hujan seakan enggan menitik. Apa yang terjadi?

[Kk PsiKoLoG] Sodariku, sepertinya mimpimu semakin suLit?! Harus Hujan kah yang kau temui? Atau harus saat ini kau buru-buru terbasahi? Hmm, mungkin Hujan memang terLalu tak peduLi siapa yang menangkapnya. Mungkin karena begitu banyak buLirnya? Apa kau tak ingin berusaha bangun dari mimpi? Meski mungkin tak semudah itu meLepaskan harap dan imaji. Harus Hujan kah yang kau raiH?

* 21 Desember 2006 pkl.08.02-pkl.09.09 WIB *

NB:

- Hope, Meanness, & Decisions adalah salah satu judul lagu Homogenic. Enakeun pisan, asli!

- Makasih takterhingga buat Kk Psikolog yang selalu setia ngasih saya teh hangat tiap kali selesai hujan-hujanan sampe tubuh ini kuyup. Pertanyaan terakhir… sepertinya belum saatnya saya jawab, K’… :)

– Jatinangor, @ Chapter no.1, 21 Desember 2006, pkl. 10.46 WIB –



2 Comments »

146

   Donny

December 25, 2006 @ 8:08 am

Mungkin saja sang hujan sudah mengerti…namun barangkali sang hujan masih ragu kepada siapa dia harus menitikkan seluruh bulirnya, atau mungkin juga sang hujan takut terhadap dirinya sendiri? takut tak bisa membahagiakan sang pendamba.

Bukankah menjadi terlalu baik itu baik? Jangan salahkan sang hujan, karena memang sudah semestinya sang hujan menitikkan bulirnya, bukan hanya kepada pendamba hujan, bahkan kepada mereka yang membenci hujan sekalipun.

Haruskah membuang energi dengan cemburu kepada sesama pendamba hujan yang belum tentu mendapatkan apa yang didambakannya? Simpan saja energi itu, agar dirimu tetap hangat ketika hujan kembali membasahi dirimu.

Bahkan, mungkin sang hujan tidak peduli terhadap siapapun dan apapun yang akan terjadi, dia hanya melakukan kewajibannya untuk membasahi setiap orang. Dan itu, mungkin, menjadikannya merasa merdeka.

147

   rosi

January 1, 2007 @ 10:57 pm

Hujan memang takpernah salah dan taksepantasnya dipersalahkan.

Yang patut disalahkan adalah si pencinta yang terlalu serakah hingga ia yang semula mengagumi malah berkeinginan mendamba.

Bagaimanapun, itulah konsekuensi dari mencintai. Bukan begitu?

Si pencinta hanya perlu dibangunkan dari mimpinya. Ia hanya butuh penolong supaya dirinya tidak tenggelam dalam dunia imaji yang dibangunnya sendiri.

Dan sekarang… dirinya tampak tengah terengah-engah berlari dari rasa yang harus dibatasinya. Sudah sangat lama ia termanja-manja oleh suasana.

Kini ia mencoba untuk bersembunyi, menaungi diri dengan payung agar taklagi terbasahi.

Semoga dengan demikian ia bisa membuat hujan merasakan sepenuhnya kemerdekaannya.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>