coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

salam matahari

Filed under: happy days — cherry-calosa at 5:16 pm on Monday, November 27, 2006

Saat matahari mengucapkan salam perpisahan,

lalu mempersilakan hujan

menggantikan perannya mengisi hari,

saat itulah sisi anak kecil dalam diriku

menampakkan senyum di wajahnya :)

[Terima kasih, Matahari! Terima kasih, Hujan!]

– Jatinangor, @ Chapter no.18, 28 November 2006, pkl. 08.25 WIB –

^_^ “

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 6:45 pm on Monday, November 20, 2006

Suatu kebetulan adalah keajaiban kecil

saat Tuhan memilih untuk merahasiakan peran-Nya…

– Jatinangor, @ Connect no.3, 21 November 2006, pkl. 09.55 WIB –

Hujan dalam Komposisi (Part 2)

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 9:46 pm on Thursday, November 16, 2006

I’m singing in the rain, just singing in the rain.

What a glorious feeling! I’m happy again!

I’m laughing at clouds, so dark up above.

The sun’s in my heart and I’m ready for love.

Let the stormy clouds chase everyone from the place.

Come on with the rain, I’ve smile on my face.

I’ll walk down the lane with a happy refrain.

Singing, singing in the rain…

(Singing In The Rain _ Jamie Cullum)

Saya lagi kangen banget sama yang namanya hujan. Kangeeeeeen!!! Rasanya udah lama banget saya gak ngerasain hujan di Bandung. Pengen hujan-hujanan lagi, sambil nyanyi-nyanyi sendiri, senyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri, nari-nari sendiri… hihihi, udah gak ada beda kayaknya saya sama orang gila kalo lagi lose control kayak gitu :D

Kenapa saya bisa sebegitu cintanya sama hujan?

Ada banyak sekali alasan. Bahkan, saya lupa tepatnya kapan saya mulai jatuh cinta sama hujan. Seingat saya, sejak saya kecil, saya udah suka banget hujan-hujanan.

SD… kalo musim hujan tiba, tiap pulang sekolah, saya sama temen-temen pasti hujan-hujanan rame-rame. Gak peduli badan jadi basah kuyup. Gak peduli sepatu terbenam lumpur. Gak peduli pulangnya diomelin ibu masing-masing. Gak peduli nantinya bisa kena flu atau masuk angin. Gak peduli!

SMP… saya semakin suka hujan. Malah saya suka sengaja gak bawa payung ke sekolah biar pulangnya bisa hujan-hujanan :D. Pernah pas musim hujan, tiap hari saya hujan-hujanan sampe basah kuyup sebasah-basahnya. Mandi gratis gitu deh. Maklum, hujannya lebat banget. Nyampe di rumah, sudah bisa ditebak: diomelin Mamah, heuheuheu… dasar nakal! Da gimana atuh, udah terlanjur cinta sama hujan.

SMA… saya mulai menghubungkan kecintaan saya sama hujan dengan momen-momen tertentu: momen-momen hujan-hujanan bareng sahabat tercinta, momen-momen ngeliatin "kecengan" hujan-hujanan (malah pernah hujan-hujanan bareng juga… ^_^), dan momen-momen lainnya. Pokoknya momen-momen menyenangkan yang selalu tersimpan di memori otak. Akibatnya, turunnya hujan bukan lagi peristiwa yang istimewa, tetapi menjadi sangat istimewa, karena mengingatkan saya pada momen-momen itu.

Kuliah… saya makin tergila-gila sama hujan. Hanya saja, di semester-semester awal, kecintaan saya ini "ternodai" sama momen-momen yang bikin saya sedih, yang justru terjadi saat hujan turun. Jadinya, kalo hujan turun, bukannya seneng, saya malah nangis karena teringat momen-momen menyedihkan itu (begitulah, terkadang saya suka kebawa perasaan dan saya paling benci kalo saya udah kayak gini). Alhamdulillah-nya, setahun terakhir ini, saya sudah kembali seperti dulu lagi. Saya berhasil menghapus momen-momen menyedihkan itu dari memori otak saya dan kembali mencintai hujan apa adanya tanpa terpengaruh apa pun.

Saya emang selalu takjub tiap kali tetes-tetes hujan mulai menitiki bumi. Betapa saya sangat bersyukur karena Allah menciptakan hujan. Hujan selalu bisa mengukir kembali senyum di bibir saya, sepenat apa pun saya saat itu. Hujan selalu bisa memindahkan matahari ke hati saya, membuat bias-bias sinar matahari menerangi hati saya dan menghangatkannya :)

Saya sangat kagum sama kalimat-kalimat yang ditulis Bagus Takwin dalam novelnya, Akademos, untuk melukiskan kecintaannya pada hujan. Begitu mirip dengan apa yang saya rasakan ketika hujan turun. Karena saya gak bisa melukiskan dengan kata-kata yang indah tentang sejauh apa kecintaan saya pada hujan, saya tulis lagi aja tulisan Bagus Takwin yang sudah sangat mendeskripsikan semuanya:

Matahari tak jelas bentuknya di balik kehitaman awan jelaga memercikkan hujan rintik-rintik hampir tak terasa. Cuaca dingin membentangkan diri dengan jubah kelabunya. Dari jubahnya ratusan anak panah cuaca melesat mengepungku. Namun sukacita hati yang keburu melapisi tubuh, menafsirkan mereka sebagai kesejukan. Kuhirup kedinginan sampai ke sela-sela neutron dari atom-atom tubuh, sampai sel-sel terpencil yang tak kukenal namanya.

(Akademos, Bagus Takwin, Penerbit Jalasutra: Yogyakarta, 2003, hlm.15)

Mendung makin indah. Butir-butir hujan bagai kristal aneka warna, menghias setiap benda, membias rupa-rupa cahaya. Matahari di hatiku memberi cahaya yang dipantulkan sempurna oleh tetes-tetes air kiriman langit.

Siapa yang butuh matahari dari langit jika terang-benderang memulas hati tebal-tebal? Semendung apa pun, dunia terasa cerah jika sinar-sinar hati berpijar di sekujur tubuh.

Butir-butir hujan menyemaikan kesejukan dalam diri. Setiap sentuhan pada bagian tubuh berkembang jadi kelegaan, menyebar, memekar, melebar, membesarkan hati. Dari kepala hingga badan, air hujan berhinggapan mengalir memberi tambahan kesegaran, seperti sedang meneguk minuman penambah tenaga dan mencerna food supplement yang melaruti sel-sel dalam tubuh, membangkitkan tiap bagian terkecil diri.

(Akademos, Bagus Takwin, Penerbit Jalasutra: Yogyakarta, 2003, hlm.16)

Persis. Seperti itulah apa yang saya rasakan. Sama persis.

Duh… saya jadi makin kangen aja sama hujan.

Turunlah, Hujan… turunlah… ada seorang manusia yang begitu merindukanmu untuk kembali membasahi bumi, dan menjumpai dirinya…

All that I need now is the rain to fall from the sky to wash away my pain inside!
(The Rain Will Fall _ Mocca)

NB:
- Buat Kang Donny yang ngebuatin saya Puisi Hujan:
Tanpa si "aku" harus menjadi hujan pun, mungkin saja ada begitu banyak alasan yang sudah cukup membuat si "pencinta hujan" mensyukuri keberadaan si "aku" dalam hidupnya. :)

– Jatinangor, @ Chapter no.4, 17 November 2006, pkl. 12.55 WIB –

Hujan dalam Komposisi (Part 1)

Filed under: kata-kata bermakna — cherry-calosa at 8:56 pm on Thursday, November 16, 2006

1
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)

(“Hujan Bulan Juni”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

2
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu
hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan
sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya
kenapa.
            Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-
rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

(1973)

(“Pada Suatu Pagi Hari”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

3
Kausebut kenanganmu nyanyian (dan bukan matahari
yang menerbitkan debu jalanan, yang menajamkan
warna-warni bunga yang dirangkaikan) yang menghapus
jejak-jejak kaki, yang senantiasa berulang
dalam hujan. Kau di beranda,
sendiri, “Ke mana pula burung-burung itu (yang bahkan
tak pernah kaulihat, yang menjelma semacam nyanyian,
semacam keheningan) terbang; ke mana pula siut daun
yang berayun jatuh dalam setiap impian?”

(Dan bukan kemarau yang membersihkan langit,
yang pelahan mengendap di udara) kausebut cintamu
penghujan panjang, yang tak habis-habisnya
membersihkan debu, yang bernyanyi di halaman.
Di beranda kau duduk,
sendiri, “Di mana pula sekawanan kupu-kupu itu,
menghindar dari pandangku; di mana pula
(ah, tidak!) rinduku yang dahulu?”

Kau pun di beranda, mendengar dan tak mendengar
kepada hujan, sendiri,
“Di manakah sorgaku itu: nyanyian
yang pernah mereka ajarkan padaku dahulu,
kata demi kata yang pernah kuhafal
bahkan dalam igauanku?” Dan kausebut
hidupmu sore hari (dan bukan siang
yang bernafas dengan sengit
yang tiba-tiba mengeras di bawah matahari) yang basah,
yang meleleh dalam senandung hujan,
yang larut.
Amin.

(1970)

(“Di Beranda Waktu Hujan”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

4
Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
           payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada
           lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga
          malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara
          desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah,
          jangan menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka
          terang.”
 
(1973)

(“Percakapan Malam Hujan”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

5
Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di udara
            tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin;
            kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan
            menimpa pohon jambu itu, tergelincir dari daun-daun,
           melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah,
            dan kembali ke bumi.
Apakah yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di jalan yang
            panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan
            kecil, mericik swaranya, menyusur selokan, terus
            mericik sejak sore, mericik juga di malam gelap ini,
            bercakap tentang lautan.
Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan.
            Selamat tidur.

(1969)

(“Hujan dalam Komposisi, 2”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

6
Kuhentikan hujan. Kini matahari
merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan –
ada yang berdenyut
dalam diriku:
             menembus tanah basah,
dendam yang dihamilkan hujan
dan cahaya matahari.

Tak bisa kutolak matahari
memaksaku menciptakan bunga-bunga.

     (1980)

(“Kuhentikan Hujan”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

7
Aku ingin menjadi hujan
agar bisa selalu kau rindukan
ketika tiba saatnya kemarau panjang

Aku ingin menjadi hujan
karena hujan berarti kehidupan
dan aku ingin hatimu tetap hidup

Aku ingin menjadi hujan
agar aku bisa membuatmu bahagia
ketika bermain-main denganku

Aku ingin menjadi hujan
karena aku iri pada hujan
yang membuatmu mengaguminya

Aku ingin menjadi hujan
agar setiap saat bisa kau cintai
karena kau sangat mencintai hujan

(2006)

(“Puisi Hujan”, Donny Reza dalam blog Infinity Project)

8
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)

(“Aku Ingin”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

9
dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya
terpisah dari hujan

(1969)

(“Hujan dalam Komposisi, 3”, Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni)

– Jatinangor, @ Chapter no.4, 17 November 2006, pkl. 12.07 WIB –

That I Would Be Good

Filed under: Music — cherry-calosa at 10:29 pm on Wednesday, November 15, 2006

That I would be good
even if I did nothing

That I would be good
even if I got the thumbs down

That I would be good
if I got and stayed sick

That I would be good
even if I gained ten pounds

That I would be fine
even if I went bankrupt

That I would be good
if I lost my hair and my youth

That I would be great
if I was no longer queen

That I would be grand
if I was not all knowing

That I would be loved
even when I numb myself

That I would be good
even when I am overwhelmed

That I would be loved
even when I was fuming

That I would be good
even if I was clingy

That I would be good
even if I lost sanity

That I would be good
whether with or without u

=======================

"That I Would Be Good"
by: Alanis Morissette

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 16 November 2006, pkl. 08.26 WIB —

nasihat seorang sahabat, suatu sore

Filed under: kata-kata bermakna — cherry-calosa at 10:27 pm on Wednesday, November 15, 2006

Senin, 13 November 2006

Teras kostan M. Ali. Pkl. 15.16 WIB

1 New Message >> Show

From : <+6222916xxxxx>   15:15
Ssungguhny prtolongn itu brsama ksbaran, ksenangan itu brsama ksusahan dan brsama ksulitan itu ada kmudahan. Sbar itu spt namany, pahit trasa, akn ttapi hsilny lbih manis drpd madu.

Back >> Back >> Exit >> Exit >> Keypad locked

Superindo Jatinangor Town Square. Pkl. 16.30 WIB

1 New Message >> Show

From : <+6222916xxxxx>   16:10
Mmandang ssuatu yg dharamkan mlahirkan ksdihan, kcmasan, & luka d hati. Org yg bbhagia adl yg mjaga pndanganny & takut kpd 4WI.

Back >> Back >> Exit >> Exit >> Keypad locked

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 16 November 2006, pkl. 08.17 WIB –

and so it is…

Filed under: Music — cherry-calosa at 10:21 pm on Wednesday, November 15, 2006

and so it is…
just like u said it would be
life goes easy on me most of the time

and so it is…
the shorter story
no love, no glory, no hero in her sky

I can’t take my eyes off of u

and so it is…
just like u said it should be
we’ll both forget the breeze most of the time

and so it is…
the colder water
the blower’s daughter, the pupil in denial

and I can’t take my eyes off of u

did I say that I loathe u?
did I say that I want to leave it all behind?

I can’t take my mind off of u

’Til I find somebody new…

=======================

"The Blower’s Daughter"
by: Damien Rice

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 16 November 2006, pkl. 08.33 WIB —

episode: awal dari akhir

Filed under: serenade sepenggal kisah — cherry-calosa at 10:15 pm on Wednesday, November 15, 2006

Jum’at, 23 Juni 2006  Pkl. 10.30 WIB

Duduk bersebelahan di depan perpustakaan Fakultas Sastra Unpad dengan jarak sekitar 1/2 meter.
Kedua tokoh kita, Suci Wulandari dan Muhammad Lazuardi, bercakap-cakap dengan suara pelan.

<Suci>
Terkadang saya tuh mikir, udahlah, jalanin aja apa adanya. Gak usah terlalu nurutin apa yang dipengenin. Gak usah saling ngeganggu. Untuk kebaikan ke kamu juga. Saya juga mikir, tiap kali kita jalan berdua, trus makan berdua, pulang bareng… Dalam hati sebenernya ada rasa… aduh, itu gak boleh, bisi ada fitnah. Tapi, di sisi lain, saya tuh ngerasa comfort aja. Ngerasa ada sisi yang ngerasa bahagia dan nyaman banget sama keadaan ini. Pengen terus menikmati. Tapi ada semacem pertentangan dalam diri juga. Yang pertama mikirin kalo itu salah. Cuma yang lainnya lebih nuntut untuk mengatasnamakan yang namanya perasaan. Kemudian, selama dua bulan terakhir ini, pertentangan itu ada di dalam diri. Saya gak milih salah satunya. Walaupun, dari akhir tahun kemaren sampe sekitar bulan April, mm… saya lebih milih yang kedua.

<Ardi>
Ci, gak usah terlalu dipikirin ya? Ya… (terdiam agak lama, lalu menyahut datar) Ya udah biarin aja.
<Suci>
Bukan gitu. Maksudnya, aduh… ya nggak dipikirin juga da kepikiran we…
<Ardi>
(menghela napas panjang) Kita harus mencari tempat yang nyaman lain. Untuk keluar dari situasi itu, ya kita harus mencari satu hal yang nyaman juga, tapi nyaman yang juga aman. Kalo yang ini kan nyaman nggak aman. Harus cari gantinya, yang nyaman tapi aman.
<Suci>
Ngomong kayak gini sih gampang!
<Ardi>
Ya nggak. Ya emang saya juga gak gampang, tapi… jalanin aja. Kita jalanin, supaya bisa.
<Suci>
Saya suka ngerasa kesiksa sendiri aja, ketika menyadari bahwa kalo saya udah berurusan sama yang namanya perasaan dan emosi, saya jadi orang yang lemah. Saya gak bisa bersikap sok dewasa, sok bijaksana, untuk seenggaknya, udah lupain aja. Gak usah terlalu mikirin lah yang namanya perasaan, yang namanya emosi, toh masih banyak di dunia ini yang perlu dipikirin selain itu. Dan waktu juga bakalan terbuang percuma kalo cuma diisi buat mikirin kayak gitu, berjam-jam, seharian.
Tapi, ya semakin saya berusaha untuk lebih mengisi waktu sama hal-hal lain, yang di mata orang tuh lebih penting… semakin saya berusaha ngalihin perhatian, nggak tahu kenapa saya tuh malah… malah semakin sadar kalo saya tuh lagi nipu diri sendiri. Dan saya udah lelah. Saya udah lelah untuk menipu diri sendiri. Saya udah lelah jadi seorang penipu. Makanya saya nggak lagi berusaha sekeras mungkin untuk mencoba tidak memikirkan itu semua. Memikirkan semua perasaan dan emosi itu. Saya sering kontemplasi sama diri sendiri. Saat sendirian, saya jadi bisa lebih coba ngerti diri sendiri, apa sih maunya saya. Dan yah… seringnya sih kadang suka ketawa sendiri, senyum sendiri, marah-marah ke diri sendiri, dan saya sering banget ngerasain kesiksa, ngerasain nyesel, yang amat sangat, bahwa saya sering banget ngelakuin hal-hal bodoh yang gak saya pikirin sebelumnya, saya sering banget ngomongin hal-hal bodoh yang gak saya pikirin sebelumnya apa akibatnya, saya sering banget ngecewain orang, sering banget egois, cuma mikirin kepentingan diri sendiri, dan selalu menyimpulkan apa yang saya lakukan itu yang terbaik buat orang padahal belum tentu. Tapi yang paling bener-bener saya pikirin, saya ngerasa kesiksa banget karena ada satu hal semenjak saya kuliah… yang ngebuat saya ngerasa nyesel banget. Saya udah gatau lagi apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya. Mungkin udah gak ada, atau mungkin karena saya udah lelah untuk berusaha. Saya baru tau, kalo ternyata bisa begitu kesiksa, kalo kita sayang sama orang, tapi orang itu udah gak sayang lagi sama kita, karena kesalahan yang pernah kita lakukan. Dan saat kita menganggap seseorang itu sebagai kekasih, tapi orang itu cuma nganggep kita sebagai sodara. Dan yang bisa dilakukan sama kita, karena begitu sayangnya kita sama dia, adalah memosisikan diri kita seperti apa yang dia inginkan. Dia pengen kita jadi adeknya, atau kita jadi kakaknya, maka secara kepaksa atau secara ikhlas, kita memosisikan diri seperti apa yang dia inginkan.
<Ardi>

<Suci>
(terdiam agak lama) Gatau kenapa deh. Saya ngerasa diri sendiri bodoh.
<Ardi>
(terdiam lama) Oh iya. Emang… dan saya juga.
<Suci>
Tapi… tapi gimana lagi? Toh dengan mengungkit-ngungkit masa lalu, dengan meminta maaf, dengan mencoba membangkitkan kenangan masa lalu, itu udah gak guna lagi. Jadi yang bisa saya lakukan, cuma memosisikan diri seperti apa yang diinginkannya. Dan entah kenapa itu bisa lebih membuat ada rasa puas tersendiri, ada rasa ’oh, kalo misalnya dengan kayak gini saya udah bisa masih ada di kehidupannya dia’, dengan cara ini saya masih bisa memberi sesuatu ke dirinya, membuat dia untuk sekadar tersenyum, atau malah ketawa, itu udah kebahagiaan tersendiri. Walaupun, kalo misalnya lagi sendirian, suka kebayang, ih kesiksa banget. Masih bisa tahan ga? Itu yang sering saya tanyain ke diri saya sendiri.
<Ardi>
(membisu)

Pkl. 20.00 WIB
Kamar Suci. Bandung.

New Message >> Create Message >> Text Message >>

To : <Yoga>      
Yoga, gmn cara yg bjaksana spy qt bs ikhlas dlm mhdapi kpergian/ khilangn 1org manusia y amat qt pdulikn dlm hdp qt?

Options >> Send >> Delivered: Yoga >> Back >> Back >> Exit >> Exit >> Keypad locked

Sabtu, 24 Juni 2006  Pkl. 20.00 WIB

1 New Message >> Show

From : <Yoga>   19:58
Carany spy ikhlas: jgn mpdulikn dia tlalu dalam.. dia hanya manusia, ga beda dgn yg lain

Back >> Back >> Exit >> Exit >> Keypad locked

Kamis, 16 November 2006  Pkl. 07.43 WIB
Kamar Suci. Bandung.

Tokoh kita, Suci, menatap kalender pemberian Ardi dengan perasaan hampa.

Sudah 5 bulan berlalu. Tak ada kata. Tak ada tegur sapa. Tak ada kisah.
Tanggal-tanggal tertera. Hari demi hari, bulan demi bulan, berlalu begitu saja.
Sudah 5 bulan, saat awal dari akhir itu dimulai, pikirnya.

(mengalun lagu "The End" dari Dewi Lestari)

(mengalun lagu "The Blower’s Daughter" dari Damien Rice)

(mengalun lagu "That I Would Be Good" dari Alanis Morissette)

Tokoh kita, Suci, mengulas sebuah senyum di bibirnya.

Konsekuensi sebuah pilihan.
Keberanian menerima yang nyata.
Kesabaran menjalani fase penghapusan segala mimpi, segala harap, segala damba.
Ini semua memang sudah ditakdirkan terjadi oleh Sang Maha.

Aku harus tegar, pikirnya.

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 16 November 2006, pkl. 07.54 WIB –

C H A N C E

Filed under: kata-kata bermakna — cherry-calosa at 7:12 pm on Thursday, November 9, 2006

=========================================================================

<Jenna> Apa yang akan Ibu lakukan seandainya Ibu diberi kesempatan mengulang masa lalu? Apakah yang akan Ibu ubah?
<Ibu> Tak ada.
<Jenna> Kenapa?
<Ibu> Ibu tahu Ibu pernah berbuat kesalahan besar, tetapi Ibu tidak menyesalinya.
<Jenna> Kenapa?
<Ibu> Karena jika Ibu tidak pernah berbuat semua kesalahan-kesalahan itu, Ibu tidak akan pernah bisa belajar untuk melakukan hal-hal yang benar.

=========================================================================

Taken From Film "13 Going On 30"

– Jatinangor, @ Connect no.5, 10 November 2006, pkl.10.25 WIB –

nice morning

Filed under: happy days — cherry-calosa at 7:03 pm on Thursday, November 9, 2006

Pagi yang indah :)

Saya diajak Tika McBreen untuk mampir ke warnet baru di Jatinangor: Connect-net. Gak nyesel deh. Loading-nya itu lho, ceeeeepet banget! Menyenangkan lah. Udah mah nyaman, fasilitas AC, MP3, dan yang paling membuatku tersenyum lebar pagi ini adalah lagu-lagu yang sedang diputar sang operator, yakni lagu-lagu COLDPLAY smua album gitu. Kayaknya untuk seterusnya diriku akan lebih sering ke sini daripada Chapter-net. Ayo ayo ada yang mau ikutan? Heuheu…

Bahagia… bahagia… :))

– Jatinangor, @ Connect no.5, 10 November 2006, pkl.10.15 WIB –

Next Page »