I’m singing in the rain, just singing in the rain.
What a glorious feeling! I’m happy again!
I’m laughing at clouds, so dark up above.
The sun’s in my heart and I’m ready for love.
Let the stormy clouds chase everyone from the place.
Come on with the rain, I’ve smile on my face.
I’ll walk down the lane with a happy refrain.
Singing, singing in the rain…
(Singing In The Rain _ Jamie Cullum)
Saya lagi kangen banget sama yang namanya hujan. Kangeeeeeen!!! Rasanya udah lama banget saya gak ngerasain hujan di Bandung. Pengen hujan-hujanan lagi, sambil nyanyi-nyanyi sendiri, senyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri, nari-nari sendiri… hihihi, udah gak ada beda kayaknya saya sama orang gila kalo lagi lose control kayak gitu
Kenapa saya bisa sebegitu cintanya sama hujan?
Ada banyak sekali alasan. Bahkan, saya lupa tepatnya kapan saya mulai jatuh cinta sama hujan. Seingat saya, sejak saya kecil, saya udah suka banget hujan-hujanan.
SD… kalo musim hujan tiba, tiap pulang sekolah, saya sama temen-temen pasti hujan-hujanan rame-rame. Gak peduli badan jadi basah kuyup. Gak peduli sepatu terbenam lumpur. Gak peduli pulangnya diomelin ibu masing-masing. Gak peduli nantinya bisa kena flu atau masuk angin. Gak peduli!
SMP… saya semakin suka hujan. Malah saya suka sengaja gak bawa payung ke sekolah biar pulangnya bisa hujan-hujanan :D. Pernah pas musim hujan, tiap hari saya hujan-hujanan sampe basah kuyup sebasah-basahnya. Mandi gratis gitu deh. Maklum, hujannya lebat banget. Nyampe di rumah, sudah bisa ditebak: diomelin Mamah, heuheuheu… dasar nakal! Da gimana atuh, udah terlanjur cinta sama hujan.
SMA… saya mulai menghubungkan kecintaan saya sama hujan dengan momen-momen tertentu: momen-momen hujan-hujanan bareng sahabat tercinta, momen-momen ngeliatin "kecengan" hujan-hujanan (malah pernah hujan-hujanan bareng juga… ^_^), dan momen-momen lainnya. Pokoknya momen-momen menyenangkan yang selalu tersimpan di memori otak. Akibatnya, turunnya hujan bukan lagi peristiwa yang istimewa, tetapi menjadi sangat istimewa, karena mengingatkan saya pada momen-momen itu.
Kuliah… saya makin tergila-gila sama hujan. Hanya saja, di semester-semester awal, kecintaan saya ini "ternodai" sama momen-momen yang bikin saya sedih, yang justru terjadi saat hujan turun. Jadinya, kalo hujan turun, bukannya seneng, saya malah nangis karena teringat momen-momen menyedihkan itu (begitulah, terkadang saya suka kebawa perasaan dan saya paling benci kalo saya udah kayak gini). Alhamdulillah-nya, setahun terakhir ini, saya sudah kembali seperti dulu lagi. Saya berhasil menghapus momen-momen menyedihkan itu dari memori otak saya dan kembali mencintai hujan apa adanya tanpa terpengaruh apa pun.
Saya emang selalu takjub tiap kali tetes-tetes hujan mulai menitiki bumi. Betapa saya sangat bersyukur karena Allah menciptakan hujan. Hujan selalu bisa mengukir kembali senyum di bibir saya, sepenat apa pun saya saat itu. Hujan selalu bisa memindahkan matahari ke hati saya, membuat bias-bias sinar matahari menerangi hati saya dan menghangatkannya
Saya sangat kagum sama kalimat-kalimat yang ditulis Bagus Takwin dalam novelnya, Akademos, untuk melukiskan kecintaannya pada hujan. Begitu mirip dengan apa yang saya rasakan ketika hujan turun. Karena saya gak bisa melukiskan dengan kata-kata yang indah tentang sejauh apa kecintaan saya pada hujan, saya tulis lagi aja tulisan Bagus Takwin yang sudah sangat mendeskripsikan semuanya:
Matahari tak jelas bentuknya di balik kehitaman awan jelaga memercikkan hujan rintik-rintik hampir tak terasa. Cuaca dingin membentangkan diri dengan jubah kelabunya. Dari jubahnya ratusan anak panah cuaca melesat mengepungku. Namun sukacita hati yang keburu melapisi tubuh, menafsirkan mereka sebagai kesejukan. Kuhirup kedinginan sampai ke sela-sela neutron dari atom-atom tubuh, sampai sel-sel terpencil yang tak kukenal namanya.
(Akademos, Bagus Takwin, Penerbit Jalasutra: Yogyakarta, 2003, hlm.15)
Mendung makin indah. Butir-butir hujan bagai kristal aneka warna, menghias setiap benda, membias rupa-rupa cahaya. Matahari di hatiku memberi cahaya yang dipantulkan sempurna oleh tetes-tetes air kiriman langit.
Siapa yang butuh matahari dari langit jika terang-benderang memulas hati tebal-tebal? Semendung apa pun, dunia terasa cerah jika sinar-sinar hati berpijar di sekujur tubuh.
Butir-butir hujan menyemaikan kesejukan dalam diri. Setiap sentuhan pada bagian tubuh berkembang jadi kelegaan, menyebar, memekar, melebar, membesarkan hati. Dari kepala hingga badan, air hujan berhinggapan mengalir memberi tambahan kesegaran, seperti sedang meneguk minuman penambah tenaga dan mencerna food supplement yang melaruti sel-sel dalam tubuh, membangkitkan tiap bagian terkecil diri.
(Akademos, Bagus Takwin, Penerbit Jalasutra: Yogyakarta, 2003, hlm.16)
Persis. Seperti itulah apa yang saya rasakan. Sama persis.
Duh… saya jadi makin kangen aja sama hujan.
Turunlah, Hujan… turunlah… ada seorang manusia yang begitu merindukanmu untuk kembali membasahi bumi, dan menjumpai dirinya…
All that I need now is the rain to fall from the sky to wash away my pain inside!
(The Rain Will Fall _ Mocca)
NB:
- Buat Kang Donny yang ngebuatin saya Puisi Hujan:
Tanpa si "aku" harus menjadi hujan pun, mungkin saja ada begitu banyak alasan yang sudah cukup membuat si "pencinta hujan" mensyukuri keberadaan si "aku" dalam hidupnya.
– Jatinangor, @ Chapter no.4, 17 November 2006, pkl. 12.55 WIB –