Memang Apa Bedanya???
Tiap kali selesai pengumuman SMPB, saya merasa gundah. Bukan apa-apa, tapi aktivitas mabim yang saya khawatirkan. Ya, mabim alias masa bimbingan yang tiap tahun diadakan. Entah bagaimana di jurusan, fakultas, dan universitas lain, apakah berlabel mabim atau OSPEK. Ah, memang apa bedanya? Menurut saya, tidak ada bedanya, hanya soal istilah. Dalam praktiknya, saya kira pada dasarnya sama saja. Mungkin perubahan istilah ini dimaksudkan untuk menyamarkan aktivitas itu. Sudah jadi rahasia umum bahwa masyarakat luas menstereotipkan istilah OSPEK dengan aktivitas yang identik dengan kekerasan, baik mental maupun fisik.
Di Sastra Indonesia Unpad sendiri, pelaksanaan mabim tiap tahunnya sudah menjadi tradisi yang mengakar. Tidak boleh tidak ada. Tiap tahun sebenarnya ada saja yang berkeinginan untuk meniadakan tradisi ini, tetapi selalu saja "kalah" argumen dan "kalah" mental dengan para senior (ah, bagaimana jika kita menyebutnya tetua saja :D?) yang memegang erat tradisi. Akibatnya, tradisi ini pun tidak terganggu-gugat hingga saat ini.
Tiga tingkat dalam pelaksanaan mabim telah saya jalani. Pertama, sebagai mahasiswa baru. Kedua, sebagai panitia mabim. Ketiga, sebagai pengawas (hey, saya baru sadar bahwa saya pun ternyata sudah termasuk kasta tetua :D!). Ketiganya sama-sama melelahkan. Jika meminjam istilah salah seorang tetua angkatan 2003, kelelahan ini berimbas pada segala unsur diri: batin, fisik, pikiran, dan seterusnya. Kelelahan yang berakar serabut, begitu ia menyebutnya. Apabila saya diminta untuk memilih mana yang paling melelahkan: menjalankan peran sebagai maba, panitia, atau pengawas? Wah, bukan hal yang mudah untuk menjawabnya, karena ketiganya sama-sama memiliki "beban" yang berat untuk dijalani.
Tahun ini, saya berperan sebagai pengawas alias tetua. Yang menjadi panitia adalah adik-adik saya angkatan 2005. Mulanya saya sangat optimis terhadap kemampuan mereka saat menjalankan peran sebagai panitia, mengingat potensi-potensi mereka terlihat begitu mengagumkan di mata saya. Namun, ternyata keoptimisan saya salah. Saya tidak ragu, malah, untuk berkata bahwa saya SALAH BESAR. Realitanya, dalam pelaksanaan peran itu, mereka kurang maksimal dalam memanfaatkan segala potensi yang mereka miliki. Inilah yang membuat saya teramat sangat kecewa. Ya, sangat kecewa.
Pelaksanaan mabim sudah berjalan sejak Senin, 4 September lalu, dan baru berakhir Minggu, 17 September nanti. Selama seminggu kemarin, saya dengan sangat antusias mengawasi kinerja adik-adik saya yang berperan sebagai panitia. Maba tahun ini memang melonjak drastis, ada 70 orang lebih (lebih banyak dari maba Sastra Indonesia UGM yang kata teman saya hanya 50-an orang!). Padahal, rata-rata maba jurusan ini tiap tahunnya hanya sekitar 30-40 orang! Jumlah maba ini menjadi salah satu hal yang membuat saya was-was. Bisakah panitia menyusun strategi untuk mengondisikan maba dengan jumlah sebanyak itu?
Sejauh pengamatan saya, panitia begitu kewalahan. Mereka panik, dilanda ketegangan, dilanda kekhawatiran yang sama dengan saya. Acara-acara yang sempat saya ikuti terkesan membosankan, tidak unik, kurang "merangkul" maba dan para tetua, serta persiapannya terburu-buru. Sungguh sangat disayangkan. Intern panitia sendiri tampak amburadul, hubungan panitia dan maba tidak jelas, hubungan panitia dan para tetua amat renggang, dan banyak "bolong-bolong" lainnya.
Keluhan-keluhan mulai santer terdengar dari sana-sini, baik dari maba, panitia, maupun para tetua. Beberapa kali saya dan beberapa orang teman seangkatan menyempatkan diri berbagi dengan mereka dan sebisa kami memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi kesulitan-kesulitan mereka. Hanya saja, entahlah? Saya tidak merasakan adanya perubahan yang signifikan. "Bolong-bolong" itu belum juga ditambal. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Kepanikan massal? Ketakutan berlebihan? Prasangka menyesatkan? Ah, saya tidak tahu.
Yang jelas, pelaksanaan mabim tampak tidak bisa dinikmati justru oleh sasaran utama mabim itu sendiri, yakni maba. Terbukti dari jumlah maba yang mencari-cari alasan untuk tidak menghadiri acara mabim. Lalu hari ini, para tetua yang pernah menjabat sebagai Tim Tata Tertib (Tatib) diminta panitia untuk menggembleng maba secara tiba-tiba. Lah, saya sempat kebingungan dan bertanya-tanya: Secepat inikah panitia menyerah? Padahal, saya sangat salut pada Tim Tata Tertib dari panitia sendiri yang menurut saya sudah sangat maksimal dalam menjalankan perannya. Lalu, kenapa bisa begini?
Pffh… untuk kesekian kalinya saya menghela napas dan mencoba berpikir jernih. Sudah tepatkah jalan ini? Apakah dengan melibatkan para tetua, maba akan termotivasi untuk mengubah sikap kekanak-kanakan mereka?
Saya sangat khawatir. Semoga saja tujuan panitia bisa tercapai. Semoga juga para tetua bisa bersikap dewasa dalam penggemblengan pukul 2 nanti (saya ikut serta di dalamnya). Semoga maba bisa termotivasi karenanya. Semoga panitia bisa segera menambal keseluruhan "bolong-bolong" yang mereka miliki. Semoga mabim di lapangan (Oray Tapa, Ujung Berung), 16-17 September nanti pun lancar.
Semoga saja mabim ini cepat berakhir dan hasilnya memuaskan!
[heuheu... tampak aneh pake bahasa sangat sesuai EYD begini :D]
– Jatinangor, @ Chapter no.21, 12 September 06, pkl. 09.51 WIB –