S I C K
Kamis pagi, 24 Agustus 2006, di tengah kesibukan mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) Semester Ganjil di Dekanat Fakultas Sastra… seseorang menghampiri…
"Ci, bade naros,"
(Ci, mau nanya,)
"Naros naon?"
(Nanya apa?)
"Tapi punteeen pisan, teu aya maksud nanaon da, atanapi naon kitu…"
(Tapi maaf sekali, ga ada maksud apa2 kok, atau apa gitu…)
"Naon sih?"
(Apa sih?)
"Terang kabarna si —- [sebuah nama] teu?"
(Tau kabarnya si —- [sebuah nama] ga?)
"Wah, duka atuh. Terakhir nga-SMS dia naroskeun nilai, pertengahan Juli gituh.."
(Wah, gatau yah. Terakhir nge-SMS dia nanyain nilai, pertengahan Juli gitu..)
"Henteu, sanes nanaon. Eta budak teh saurna mah sakit…"
(Ngga, bukan apa2. Itu anak kabarnya sakit…)
Selanjutnya, saya bersikap seakan ga ada apa2, padahal hati saya ga karuan. Antara kaget, cemas, dan gak percaya: Manusia yang satu itu sakit?? Kok bisa?? Sambil mengalihkan perhatian ke KRS yang lagi saya isi, saya nunjukin kesan acuh ga acuh sama penjelasan si pemberi kabar yang ga keduga ini. Katanya, HP manusia yang satu itu sulit dihubungi, kadang aktif, kadang nggak, dan sering gak bales SMS. Oh oh, benarkah??
Lalu, karena munculnya rasa keingintahuan saya yang ga terkontrol, saya pun mulai mencari berita lebih lengkap seputar itu… saya menghampiri seseorang yang lagi duduk di tangga depan Dekanat…
"Punten, mau nanya,"
"Apa Ci?"
"Em… si —- [sebuah nama] beneran sakit?"
"Iya, kabarnya sih sakit parah gitu. Sampe sempet mo dipulangin aja gitu,"
"Ohya? Trus program-nya udah selesai?"
"Dikit lagi katanya. Emang ga SMS-an?"
"Em… ga pernah lagi sih. Udah 2 bulan,"
"Iya, kasihan si — [sebuah nama]"
"Em… emang dia sakit apa?"
"Katanya sih kecapean, tapi yang parah… demam dan flu,"
"Oh… emang selesainya kapan sih? Balik ke Jatinangor lagi kapan?"
"28 September balik kok,"
"Oh gitu… em… yaudah deh, cuma mo nanya itu aja. Makasih ya…"
Dan saya ngacir lagi ke dalem Dekanat, ngelanjutin proses pengisian KRS sambil menata hati dan pikiran yang mulai ke mana-mana. Makin menyusup rasa khawatir itu…
Setelah dengan sangat suksesnya ga berkomunikasi hampir 2 bulan lamanya, ternyata tetep aja mendengar kabar ini, saya merasa agak terguncang… Terbayang keadaan si manusia yang lagi sakit ini di kota lain sana, jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang yang disayanginya dan menyayangi dia… Yah, bisa ditebak, sentimentalitas saya muncul lagi ke permukaan. Untunglah itu hanya sesaat saja, gak berlebihan dan gak meluap-luap (ga sampe minta pulsa orang buat nelpon dia nanyain kabarnya, misalnya…). Apalagi waktu saya sampaikan berita sakitnya manusia yang satu ini ke salah satu sahabat terdekat saya di kampus…
"Le, ada kabar buruk."
"Apa Ci?"
"Em… tadi ada yang ngasitau kalo si —- [sebuah nama] sakit parah,"
"(merengut cuek) Trus?"
"Yah… em… kasian aja, jadi… em… kepikiran…"
"(merengut dengan raut wajah males) Udahlah Ci, ga usah dipikirin lagi kali! Emang siapa dia gitu loh?"
"Tapi… kasian kan, Le?"
"Ya boleh aja simpati sebagai sesama manusia. Tapi gak penting gitu loh! Emang Oci siapanya dia?"
"Em… iya sih…"
"Udahlah, gak usah mikirin dia lagi, Ci!"
Kata-kata sahabat saya ini ngingetin saya soal kedudukan saya di mata manusia yang lagi sakit itu. Ya, saya sama sekali bukan siapa-siapanya. Teman? Bukan. Sahabat? Bukan juga. Pacar? Bukan banget! Istri?? Apalagi itu… BUKAAAAAAN!!!! Saya bukan apa-apa, nothing, ga ada spesial-spesialnya. Ga penting kaliiiii…. Pfiuh… sekarang saya cuma manusia yang mengenalnya dan dikenalnya sebagai senior dan junior di kampus, itu aja. Yah sudahlah… toh di antara kami udah ga da apa-apa lagi (emang dulu ada? ada apa gitu? gatau deh… ga jelas… heuheuheu… ^_^). Yang bisa saya lakukan cuma satu aja, mungkin: berdoa buat kesembuhannya… amiiiin… sok atuh lah, sing geura lulus… cepatlah kau jadi sarjana dan kerja di kota lain selain Bandung… agar hati ini takkan pernah lagi terguncang, walau hanya sedikit…
– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 24 Agustus 2006, pkl.23.04 WIB —