coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

WANTED: Teroris Nomor Wahid Sedunia!!!

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:21 pm on Tuesday, August 15, 2006

Bush_1

Hujan Berselimut Kabut: Tujuh Penggal Episode

Filed under: pengennya teh nulis cerpen, tapi jadinya?? — cherry-calosa at 7:02 pm on Tuesday, August 15, 2006

1
"Tunggu, apa kita pernah bertemu?"
Kalimat terawal yang meluncur begitu saja dari mulutku.
Hujan masih turun rintik-rintik, mencipta titik-titik mungil di rambutnya, wajahnya, punggung tangannya…
"Apa kita pernah bertemu?" ulangku sembari mendekat beberapa langkah padanya.
Hujan masih turun rintik-rintik, dan kedua bola mataku menatapnya tajam, penuh selidik sekaligus ingin tahu…
Ia membisu dan malah balas menatapku.
"Jawablah, saya mohon…" ucapku lagi.
Ya, sepertinya kita pernah bertemu, di suatu tempat, di suatu ruang waktu. Hanya saja: di mana dan kapan?
"Apa kita ada untuk saling mencari?"
Aku kian mendekat padanya, menghapus jarak pembatas.
"Ya, memang begitu," jawabnya, akhirnya.
Hujan masih turun rintik-rintik, dan tetes airnya jatuh ke pipi, menindih air mata yang keluar dari mataku…
"Kita sudah saling menemukan, jadi apalagi yang kita nanti?" tambahnya.
Jemarinya mulai menggenggam tangan kananku, dan ia mengajakku melangkah.
"Ke mana?" aku bersuara, walau lirih.
Ia menatapku sambil tersenyum mendamaikan.
"Ke tempat yang jadi tujuan awal hidup kita, impian seluruh manusia di bumi, dan aku selalu bermimpi menujunya bersamamu…"
Hujan tidak lagi turun, dan seberkas cahaya perlahan muncul dari sekujur tubuh lelaki itu. Hangat… merembes masuk ke dalam aliran darahku, menguapkan air mataku.
"Tempat apa itu?" tanyaku sambil membalas senyumnya, bahagia.
"Surga."

2
"Aduh! Ga usah jitak gitu dong! Sakit nih!"
"Raini-ku sayang, kamu tuh ya kalo udah ngebet pengen nikah jangan cuma berani mimpi dong! Bilang aja ke murobbiyah kita tercinta, ntar bliau cariin."
"Emang ada yang mau sama aku, Sri?"
"Insya Allah! Kamu jangan pesimis gitu dong! Kriteria: ikhwan hanif, aktivis, cakep hatinya, anak sulung, lebih tua beberapa taun, cinta sama Allah di atas segalanya, humoris, dewasa, bijaksana, cerdas, romantis, gawe jelas, dan jago masak, bener ga?"
"Em… idealnya si gitu, Sri, tapi… kayaknya gak mungkin deh! Gak pantes aku mimpi ada ikhwan kayak gitu yang minta aku jadi istrinya! Aku kan bukan aktivis, belom pantes disebut akhwat, wawasan agama terbatas, urakan, manja, egois, dan ga bisa masak!"
"Iiiih, Raini! Optimis dong! Gitu-gitu juga kamu manis, lucu, humoris, setia, ga banyak maunya, ga matre, ga liat fisik, trus… ah, pokonya kamu juga punya banyak kelebihan kok! Percaya deh!"
"Lagipula, emang ada ikhwan yang menuhin semua kriteria itu?"

3
Ia menyukai hujan, teramat sangat suka. Mungkin karena ia terlahir di kota yang terkenal sebagai Kota Hujan di Indonesia ini. Yang jelas, satu hal yang paling dinantikannya adalah saat awan berlapis mendung, dan tetes-tetes hujan membasahi bumi. Biasanya ia akan keluar dari rumah, lalu berdiri beberapa saat sambil menengadahkan kepala, memejamkan mata, mengulas senyum di wajah, dan meraup air hujan dengan kedua belah tangannya. Ia tidak peduli hujan menguyupkan bajunya, merembesi sekujur tubuhnya. Ia tidak memedulikan segala kemungkinan yang akan terjadi jika ia melakukan ini semua, entah itu kepalanya yang bisa saja menjadi pening, atau badannya yang bisa saja menggigil kedinginan.
Yang ia indrai hanya kenikmatan dan kepuasan itu.
Hujan:
Anugerah terindah yang Allah ciptakan, menyegarkan kekeringan bumi, menghapus emosi dan menenangkan jiwa.
Sejak ia kecil, sejak ia pertama kali menyadari rahasia alam yang tampak begitu indah di matanya, ia mulai menumbuhkan kebiasaan itu. Berdiri sendirian merasakan titik-titik air hujan menitiki tubuhnya, seakan membasuh kekeruhan hatinya, mengembalikan kejernihannya.
Hujan kali ini turun rintik-rintik.
Entah kenapa, kali ini bukan hanya tetes-tetes air hujan yang mengaliri tubuhnya, tetapi ada tetesan lain, mengalir dari kedua matanya yang terpejam. Air mata.
Baru kali ini ia merasa sendirian. Baru kali ini ia menyadari makna sendiri dan sepi.
Ia tenggelam dalam larutan kesenyapan yang pekat.
Ia merasa ingin didampingi.
Ia merasa membutuhkan teman untuk berbagi rasa.
Ia ingin menikmati hujan dengan seorang manusia yang berarti.
Dan tentu saja: yang mencintai hujan sepertinya.
Hujan, adakah bidadari di dunia ini yang mencintaimu sepertiku?
Jika ada, datangkanlah ia ke tempatku.

4
Raini memandangi selembar foto setengah badan berukuran 4R yang terselip di dalam map itu. Duhai, sepertinya lelaki ini begitu tidak asing… apa hanya perasaanku? Rambutnya, matanya, senyumnya…
"Hush, fotonya jangan diliatin terus gitu! Ntar belom juga ketemu kamu udah jatuh hati, heuheuheu…"
Raini tersentak dan cepat-cepat membereskan kembali berkas-berkas yang sedang diamatinya. Teguran murobbiyah-nya membuatnya beristigfar berkali-kali dengan hati kebat-kebit. Wajahnya merona, malu.
"Gimana? Cocok? Betapa takdir Allah sangat terencana dan indah. Beberapa menit sebelum kamu ke sini, eh ada yang nganterin ini. Niatnya sama dengan kamu, Ra. Jangan-jangan kalian berjodoh…"
"Wallahualam, Teh. Mungkin ya, mungkin juga gak, cuma Allah yang tau…"
"Yaudah, kamu bawa aja dulu, baca bener-bener datanya. Jangan lupa istikharah. Kapan pun kamu siap, hubungi saya, nanti saya urus semuanya, Insya Allah."
"Jazakillah, Teh."
"Hari ini juga saya kabari beliau dan ngasih data kamu ke dia. Banyak-banyak berdoa ya, Ra. Semoga Allah ngasih kamu yang terbaik,"
"Yaah… amin-in aja deh, Teh."

5
Shinta Nuraini.
Panggilan saya bukan Shinta atau Nur, tapi
Raini.
Alasannya sederhana saja:
Karena sejak kecil, saya sangat mencintai hujan.
Seandainya hujan adalah sebentuk benda yang bisa saya genggam, akan saya bawa kemana-mana. Dengan begitu, saya bisa menikmatinya kapan saja di mana pun yang saya inginkan.

6
Kabut Pratama Putra.
Bisa ditebak, saya putra pertama. Adik saya perempuan, masih SMA.
Saya biasa dipanggil Kaka, lengkapnya Kabut.
Walaupun nama saya Kabut, tapi saya tidak suka kabut, karena kabut penuh ketidakpastian dan mengaburkan apa yang seharusnya jelas terlihat. Saya tidak ingin seperti itu. Saya lebih suka hujan, karena saya ingin menjadi penyegar kekeringan dunia.

7
Suatu hari…
Ada guratan senyum terukir di dua wajah.
Ada getaran ganjil berdenyut di dua jantung.
Ada jutaan syukur terucap di dua mulut.
Ada buncahan bahagia menebal di dua hati.
Ada bulatan tekad terpatri di dua jiwa.
Ada dua manusia saling menautkan jemari.
Keduanya menikmati hujan berdampingan.
Keduanya saling menatap dan tertawa ringan.
Keduanya menikmati tetes-tetes air yang membasahi tubuh.
Hingga waktu seakan berhenti berdetak.
Lalu hujan berselimut kabut, malam itu.

[reaksi atas rasa rindu hati ini akan hujan yang sudah sangat lama terpenjara matahari -- ditemani lagu-lagu Dewi Lestari]

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 150806, selesai pkl.23.55 WIB – 

pulang

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 6:49 pm on Tuesday, August 15, 2006

Tuhanku,
kuingin bercerita
kutunduk bersujud
kumulai berdoa
lelahnya jiwaku
beratnya langkahku

Tuhanku,
kurindu tawaku yang dulu
kejujuran, kebenaran yang dulu kutahu
ke mana semua?
sejauh itukah ku sesat sudah?
peluklah semua tanyaku
jawablah dengan cara-Mu

Tuhanku,
kuingin berkelana
kembali mencari jalan ke rumah
bukan di sini tempatku
bukan mereka yang kucinta

Hari ini,
kumengenali arti keberanian
yang menerbangkanku
di atas semua derita
dan apa kata dunia

Usai semua sandiwara
cukup kuberpura-pura
sejujurnya hanya dia yang kucinta

ke hatinya aku ingin pulang…

[Pulang - OST 9 Naga - Dewi Lestari]

… saat sebuah lentera tuk menerangi hidup ini terasa begitu bermakna, tetapi bodohnya, aku malah menjatuhkannya … hingga nyalanya padam…

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 160806, pkl.05.28 WIB – 

over sensitivity?!

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 7:04 pm on Sunday, August 13, 2006

Ada yang aneh dengan konjungtiva milikku akhir-akhir ini.

Saya sebut kondisi ini sebagai: sensitivitas berlebihan (over sensitivity).

Daya sensitivitas yang kebablasan. Yang bikin saya bingung, heran, sekaligus kesel, adalah karena saya gatau apa penyebabnya! Gejala-gejala kalo udah mulai kambuh yakni:

mata berkaca-kaca - timbul rasa simpati dosis tinggi - hati krasa terenyuh banget (’terenyuh’ teh naon nya? bahasana meuni kitu…)

Padahal biasanya saya tidak sampai begini. Apa yang terjadi??? Seperti ada perubahan hormon di dalam tubuh. Saya ga tau apa dampaknya banyakan negatif atow positif, hanya saja saya takut kalo-kalo ntar saya dicap CENGENG! Wuih, gak mau… gak mau… saya gamau dicap cengeng, walaupun tidak saya pungkiri bahwa saya adalah seorang wanita yang rentan menangis kalo lagi penat-penatnya karena dunia (tapi gak sesering akhir2 ini!).

Waktu terjadinya my over sensitivity juga ga tentu banget: pas ngeliat adek2 kecil yang ngamen di DAMRI, pas ngeliat seorang kakek pemulung yang lagi ngais-ngais sampah, pas lagi nonton "Katakan Cinta" edisi kemaren (ntar saya ceritain tentang ini suatu hari nanti), pas denger Pak Deden ngasih tausiyah kemaren pas kumpul RK MQFM, pas ngebaca SMS temen2 lama yang bilang kangen n pengen ketemu, pas ngeliat Mamah-qu ketiduran di kursi, pas ngeliat A Gugun ngasuh ponakanku sampe ketiduran (sementara ponakanku berceracau sendiri ^_^"), pas ngeliat para aktivis DKM Al Mushlih nyambut para maba dengan senyum ramah dan sikap hangat…

Kyaaaa….!!! Emergency! Emergency!

Apa yang terjadi padaku???

Semoga ini adalah proses menuju kebiasaan berempati pada orang-orang yang ada di sekitarku (inget sama si Aa yang pernah marahin saya dan bilang kalo saya terlalu banyak memberikan simpati tanpa berempati, dan bahkan saya dibilang ANTIPATI sama dia…), amin deh…

Ci

   – Jatinangor, @ Chapter no.13, 14 Agust 06, pkl.09.10 WIB –

Liburanqu: Yaaa Gitu Deh…

Filed under: happy days — cherry-calosa at 8:00 pm on Thursday, August 10, 2006

Saya masuk kuliah lagi 4 September mendatang, masih ada sekitar 3 minggu lagi gitu liburan. Kalo ditanya: "Udah ngapain aja Ci selama liburan?", trus terang saya bakal menjawab sambil cengengesan:

"Yaaa… gitu deh… heuheuheu…" :D

Tiga hari yang lalu saya nge-save Update-an AntiVirus AVG ke flash disk di warnet Chapter Jatinangor. Wuih, 20 menit gituh! Lama! Sambil nunggu, saya iseng-iseng buka blog temen2 di Friendster. Eh baca-baca gitu, ada yang asik, cuma panjang2 buanget gituh, ga bisa dibaca sekilas doang. Ide pun muncul, jadilah saya nge-save tulisan mereka di flash disk berupa Text File dengan maksud ntar dibaca di ‘kompiku sayang’ aja, biar nyantey bacanya. Di antaranya ada blog Kang Donny Reza dan Kang Barly (punten nya Akang2, ga minta izin dulu, tapi hak cipta kalian akan kuhormati, tenang sajah, percayalah padaqu :D) . Qo cowok smua? Saya emang lagi pengen mengamati dan menyelami renungan-renungan dan buah pikiran kaum lelaki. Seperti gimana sih hidup ini menurut para lelaki, dan apa yang ada di pikiran para lelaki tentang wanita. Observasi yang menyenangkan. Lumayan buat referensi kalo udah nikah nanti (tetep… yah siap2 kan boleh, biar ntar bisa memahami suamiqu seutuhnya, ciyeee… dasar MO!! kumat lagi, Ci? iyah, heuheuheu… :P).

Balik lagi soal liburan. Sebenernya ga ada yang terlalu spesial. Gitu2 aja. Dua hari sekali ke kampus, sisanya di rumah, 2 minggu sekali ke kompleks DT kumpul reporter kampus MQFM, kadang maen ke ITB jumpa temen2 lama. Pergi dari rumah ke kampus rutin jam 6-an, dengerin MQ Headline (berita pagi MQFM) dan Risalah Pagi, dari mulai naik angkot Cicaheum-Ciroyom sampe bus DAMRI Dipati Ukur-Jatinangor yang saya naiki keluar tol Cileunyi. Sebelum ke kampus, saya nyaris selalu mampir ke warnet Chapter Jatinangor buat buka Friendster, nulis blog, isi testimonial orang2, liat-liat blog orang trus ngasih komentar seperlunya, bales email di Yahoo, sesekali nge-search di Google, sesekali buka situs infopalestine.com.

Di kampus, nyari temen2 yang lagi ikutan SP (Semester Pendek/Semester Alih Tahun - saya tiada ikut -). Abis gitu jalan-jalan sekeliling Fakultas Sastra, nongkrong di Dekanat, kantin Sastra atow kantin PEDCA, salat di Masjid Ibnu Sina bareng mereka plus diskusi soal banyak hal, trus pulang deh. Itu klo ga ada bahan berita buat diliput. Kalo ada, wah, bisa ampe sore di kampus keliling nyari narasumber!

Ohya, di rumah yang paling saya senangi adalah duduk di depan ‘kompiku sayang’, lanjutin nulis kisah Yoga Firdaus-Suci Wulandari (yang ternyata ga jua selesai, Sodara-Sodara! padahal udah mau nyampe 350 halaman lebih! bayangkan?!), masukin lagu-lagu baru buat Winamp, nge-install program2 baru, pokonya susah deh kalo disuruh beranjak dari komputer (kecuali untuk salat dan makan, tentunya!). Selain itu, ngasuh ponakanku yang lucu yang makin hari makin ngegemesin aja, nonton brita terbaru per harinya, nonton Spongebob, beres-beres kamar, bantuin Mamah masak… heuheuheu… ga deng, yang terakhir mah belom sempat saya lakukan :)! Sisanya: tidur!!!

Paling seneng tuh pas waktunya pertemuan reporter kampus MQFM! Dua minggu terakhir ini saya emang ga sempet ngeliput brita 1 pun siy, cuma udah kangen pengen ketemu sama rekan-rekan reporter kampus lain, ketemu Pak Deden n the other crew, ngerasain suasana DT yang sangat saya sukai karena begitu mendamaikan dan menenangkan (jarang ditemui di tempat lain!)… wuaaaa… semoga 13 Agustus cepat datang!

Acara maen ke ITB sebenernya juga buat jalan2 siy, abis ITB juga menurutqu tempat yang sangat nyaman buat dikunjungi, apalagi kalo abis dari ITB maen dulu ke Salman, wuih, asik banget lah! Kapan yah ke ITB lagih? Kangen juga…

Yang ngebuat saya rada nyesel adalah menurunnya minatqu untuk baca buku! Apa pun itu! Padahal liburan nya? Entahlah. Novel Nh.Dini yang super tipis aja baru tamat dibaca setelah 1minggu! Parah! Padahal banyak buku numpuk di kamar yang belum sempet dibaca! Mulai besok-besok mo biasain lagi baca buku ah… plus lebih banyak nulis tuk menuangkan ide-ide di kepala ini…

[mencoba meng-flashback liburanqu, ternyata gitu2 aja... aaargh! kemana targetan2 yang kurencanakan?? banyak yang terabaikan, hiks...]

Wind_2

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 100806, pkl.22.15 WIB –

Just Open Your Eyes & Face The Fact!!!

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:45 pm on Thursday, August 10, 2006

Banyak orang yang mendamba untuk diperhatikan dan dibutuhkan oleh orang lain. Padahal ga selalu nyaman dan bahagia loh kalo ada orang yang memperhatikan dan membutuhkan kita. Apalagi kalo yang berlebihan… iiiiiihhh…. ga nyaman buanget!!! Boro-boro bahagia, yang ada malah sebbbeeell, geli, risih, bahkan… MUAK kali ya?

Well, cuma mau berbagi.

Ada seorang makhluk Adam yang ngebuat saya ngerasa kayak gitu. Pertamanya sih ya tersanjung aja diperhatiin dan ngerasa dibutuhin. Apalagi pas saya lagi terpuruk (istilahnya mah lagi bingung sama keenggakjelasan sikap orang lain…), dia ada. Jadilah saya kebawa emosi sesaat dan berbuat bodoh (teramat bodoh bahkan) sampe membuat rasa simpati yang dirasakan dia berkembang jadi (apa yang disebutnya) C-I-N-T-A (emang CINTA teh naon cing? ngarti teu???). Terjadi setaun lalu, dan saya anggap kejadian itu sebagai "kesalahan terbesar dan tertolol yang pernah kulakukan dan ingin kulupakan seumur hidup, lalu menyimpannya dalam memori yang gak boleh diungkit apalagi terulang!".

Setaun lalu, saya udah menegaskan sama dia kalo saya cuma kebawa emosi sesaat dan ternyata saya GA ADA RASA APA PUN sama dia. Saya sadar sendiri bahwa "si orang lain yang ngebuat saya bingung karena keenggakjelasan sikapnya"-lah yang bener-bener saya pedulikan, saya sayangi, bahkan saya dambakan untuk jadi "bapaknya anak-anak saya kelak" — kejauhan gitu mikirnyah ^_^" (nya eta tah… si Aa yang sering kuceritakan di blog inih… Aa Muhammad Lazuardi — bukan nama aslinya –). Saya jelaskan pula bahwa yang namanya P-A-C-A-R-A-N dan C-I-N-T-A bukanlah hal-hal terpenting dalam hidup ini. Apalagi waktu itu dia masih semester 1, sedangkan saya udah semester 3! Masih buanyaaaaaak banget yang perlu dia pikirkan selain kedua hal itu!

Ah, dasar nya meureun dia masih "belom bisa bersikap dan berpikir dewasa", dia kayaknya kagak ngarti. Dia bilang kalo ga ada saya dia gak bisa jalani idup lagi, dia bakal kesepian, dia bakal kehilangan malaikat hatinya (alah alah… geli banget saya dengernya, sampe geleng-geleng kepala… boro-boro ka-GR-an, malah geuleuh, gak habis pikir!). Saya tegaskan bahwa saya hanyalah MANUSIA BIASA, bukan malaikat, bukan pula bidadari, juga bukan orang yang bisa dan berkewajiban nurutin semua yang dia pengen! Lagipula, masih buanyak temen-temen seangkatannya yang peduli banget sama dia, keluarganya juga masih ada, jadi??? Ya tanpa adanya saya di sampingnya pun dia masih bisa idup, ga akan kesepian lah! Alasan apa sih yang bisa bikin dia gak bersyukur atas semua yang telah dimilikinya itu???

Saya ga ngerti sama sekali.

Saya juga waktu itu menegaskan padanya bahwa yang namanya P-A-C-A-R-A-N itu identik dengan nafsu fisikal belaka, ga murni, dan terkesan sangat main-main, pun menyerempet n menabung dosa. Cinta yang murni antara dua insan cuma ada pas udah nikah, itu mah bukan nafsu belaka, tapi lebih dari itu, ada visi misi dalam menjalani hubungan, dan HALAL diridhoi sama Allah! Itu yang terpenting. Tujuan saya ngomongin itu ya biar dia ga ngulangin kebiasaan P-A-C-A-R-A-N-nya yang udah dilakukan sejak dulu (alhamdulillah-na: saya gak pernah pacaran!)

Tapi emang susah yah ngomong sama orang yang udah dibutakan hatinya oleh tipu daya kesentimentalan dan melankolis yang berlebihan dan ga pada tempatnya ^_^ (saya jadi kesel sendiri gini… hih!! astagfirulloh…)??

Salah satu temen saya menjadi tempat curhatnya. Temen saya ini cerita sama sahabat saya yang paling dekat, dan sahabat saya yang paling dekat ini pun (tentu sajah!) cerita lagi ke saya. Bahwa orang itu masih ada rasa sama saya, dan orang itu malah bilang:

"Kalaupun saya jadian lagi sama cewek lain, saya akan bilang ke cewek itu kalo di hati saya cuma ada Teh oci! Sampe kapan pun, saya bakalan nungguin Teh oci!"

GUBRAAAAK!!!

Ternyata dia emang kagak ngerti dengan apa yang kubicarakan ^_^". Jadi pengen menasihatinya sekali lagi, tapi kupikir tiada akan berguna. Dan saya yang emang bisa sangat keras kepala ini pun berusaha jaga jarak lah sama dia dan memperlakukannya ya sama aja kayak saya memperlakukan teman-teman seangkatannya yang lain (toh emang kuanggap dia sama aja sama adek kelasku yang lain, ga ada spesial-spesialnyah!). Tujuannya gak lain adalah supaya dia mau nerima kenyataan dan ga berharap lebih lagi sama saya, gitu. Beberapa teman yang tahu tentang "kisah lalu kami" bilang saya kejam. Saya pikir: ga juga, toh saya emang bener2 nganggep itu sebagai salah satu FASE KEKHILAFAN DIRI saya sebagai manusia yang cuma tersisa sebagai sebuah pembelajaran untuk gak berbuat sama, itu saja, gak lebih! Saya juga tau gimana rasanya berharap sama orang, sayang sama orang. Yang terpenting yang perlu diingat:

"Sekecil apa pun kebaikan yang diberikan orang yang sangat kita sayangi sudah bisa diartikan sebagai harapan oleh hati kita."

Dan saya gamau itu terjadi. Saya gamau ngasih harapan apa-apa lagi, karena emang sama sekali GA ADA HARAPAN yang bisa saya kasih. Karena ga ada ruang di hati ini buat dia. Sampe kapan pun! Saya ga ngelarang dia tetep punya rasa sama saya. Silakan, toh hati itu milik dia ini. Cuma plis… jangan coba-coba cari celah untuk kembali masuk ke hati ini, karena saya ngerasa SANGAT KEGANGGU & GA NYAMAN! Jalani aja hidup kita masing-masing, karena dipaksa kayak gimana juga, saya ga akan ngerubah keputusan. Kalo dia tetep maksa dan berharap sama saya, ya silakan, tapi jangan bermimpi apa-apa, karena sudah ga ada lagi yang bisa digapai. Cuma kesia-siaan aja.

Sebenernya kondisi kami sama sih. Dia berharap sama saya yang notabene udah ga mungkin dan ga pernah akan bisa mewujudkan harapannya itu. Saya juga berharap sama orang lain (saha deui? nya si Aa!) yang notabene juga (kayaknya, semoga nggak Ya Allah… — heuheu, keegoisanqu muncul lagi :P, astagfirulloh… –) udah ga mungkin dan ga akan pernah bisa mewujudkan harapan saya. Hiks… situasi yang menyedihkan juga ya? Tapi begitulah, rumit memang.

Ada ilustrasi sejenis yang ditulis di blog Kang Donny, di post yang ditulis beliau:

* Seorang "adik", hari ini harus kabur ke kostan temen, cuma untuk menghindari orang yang bener-bener "CINTA" sama dia, bahkan katanya, dia rela ngelepasin Beasiswa Jerman dan JEpang gara-gara sang "adik" ini.  Aduh, jadi inget dosa baheula, euy!! dan katanya juga, si "adik" ini dah puluhan kali nolak. Hihihi…Gua pun sempet berkomentar, "Wah, Hebat tuh Cowok…Kuat mental gitu!!".  Tapi, lantas gua berfikir…Apakah dia memang hebat ??? Menurut gua, BODOH!!  Karena gua juga pernah seperti itu…Hehehe. Seperti itukah CINTA? menurut gua, bukan!! itu mah NAFSU.  Gua pun pernah berfikir, "Dia adalah orang yang tepat", "Gua rela berkorban apa aja buat dia", "I Can’t Live Without Her"…wuidih, yang terakhir mah gak banget deh, gak gitu-gitu amat, biar rada dramatis aja.Hehehe.  Tapi, suatu saat, entah darimana datangnya…ada bisikian aneh "Lho, Emang dia siapa ?", "Sebandingkah apa yang udah gua lakukan dengan ngejar-ngejar dia?".  Kenyataannya, lebih banyak CINTA yang udah gua korbankan…Temen-temen, Ortu, Organisasi, udah puguh diri sendiri mah…So, itukah CINTA?? Sekali lagi, gua jawab, BUKAN!!  Itu mah NAFSU!! * (pikirkanlah ilustrasi ini baik2!)

Semoga aja Allah ngasih orang itu petunjuk dan hatinya terbuka buat nerima kenyataan:

Bahwa dia berharap sama sesuatu yang sia-sia dan gak mungkin.

Bahwa ada buanyaaaaaaaaaaaaaak hal penting yang perlu dipikirkan selain C-I-N-T-A dan keinginan untuk memiliki seseorang (apalagi yang belum waktunya! apalagi bukan dalam koridor pernikahan!).

Bahwa sudah saatnya dia untuk bersikap dewasa (sok atuh, blajar ke Akang Mentor-mu yang soleh dan teramat bijak itu!).

Bahwa dalam Islam bukannya ga ada tuh istilah P-A-C-A-R-A-N, ada kok, tapi artinya:
Pelajari Al-Qur’an, Cintai Allah dan Rasulnya, Amar ma’ruf Nahyi munkar (mengutip dari blog Kang Donny), bener kan? Pahamilah itu!!

Bahwa alasan kita merasa kehilangan segalanya, justru ketika kita berharap dan meminta terlalu banyak. Padahal, jika kita meminta secukupnya dan seperlunya saja, tidak akan membuat kita mati. Merdekalah orang-orang yang selalu merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. (mengutip dari blog Kang Donny)

Bahwa kenyataan yang paling pahit yang mau gak mau HARUS diterima dan dipikirkan, justru ketika kita tahu bahwa orang yang kita cintai tidak merasa nyaman dengan kita, bukan begitu??? (lagi-lagi mengutip dari blog Kang Donny — kutipan-kutipan yang kurasakan pula sebagai tamparan keras di pipiku sendiri, hiks.. hiks… hatur nuhun pisan kang… punten ga bilang2 ngutip seueur pisan kieu, heuheuheu :P… –)

Bahwa dia bisa melepaskan ketergantungan sama keinginan hatinya tersebut dengan cara: lebih mendekatkan diri sama Allah SWT dan mendalami Islam beserta aturan2 di dalamnya (the most important thing!!).

[Saat ketidaknyamanan itu sangat memuakkan, sehingga ingin kuakhiri semuanya, dan menumpahkan kekesalan itu dengan menulis smua ini. Moga we orang yang menjadi fokus pembicaraanku ini baca: Just Open Your Eyes & Face The Fact!!! Hapunten jika ada kata-kata yang membuatmu tersinggung. Bagaimanapun, semua yang kutulis ini adalah kejujuran yang sungguh tidak perlu disembunyikan.]

<Tetep we geuning, asa nyeramahan diri urang sorangan — Tetep aja ternyata, serasa menceramahi diriku sendiri ^_^", karena saya juga da belum sepenuhnya bisa mengikhlaskan bahwa manusia yang kupanggil Aa di sisi lain pun jelas2 tidak nyaman dengan kehadiran saya… duh, Allah, helph me…!>

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 100806, pkl.21.30 WIB –

Asal Bapak Senang, Macet Pun Tak Apa!!!

Filed under: boring days — cherry-calosa at 7:29 pm on Wednesday, August 9, 2006

… sepenggal percakapan antara si oci sama seorang tukang ojek…

<Si Oci> Berapa, Pak sampe Sayang?

<Tukang Ojek> Sepuluh Ribu, Neng! Sampe BRIMOB?

<Si Oci> Bukan, Pak! Sampe pertigaan Sayang depan warnet Chapter!

<Tukang Ojek> Iya, 10 rebu, Neng!

<Si Oci> Waduh, gak kurang murah tuh, Pak?? (dalem ati) 5rebu aja lah, Pak!

<Tukang Ojek> Yaudah lah sok, 8rebu!

GUBRAK!

<Si Oci> 5rebu ajalah, Pak! Mahasiswa ni Pak, mahasiswa! Diturunin di Cileunyi pula. Bapak nggak kasian sama saya??? Hiks… hiks… (yang dimiringin cuma dalem hati)

<Tukang Ojek> Ya udah 6rebu, Neng! Jauh soalnya kalo dari sini ke sana!

Akhirnya setelah memelas dan membujuk begitu rupa (sampe diliatin para polisi di sekitar n para pejalan kaki), tukang ojek tersebut menyerah. Lima rebu pun jadi! Parahnya, ternyata pas mo ke IPDN, polisi nyuruh kami lewat gang sebelah kanan jalan gitu, coz jalan bener-bener tertutup untuk umum. Oci diajak muter-muter jalan tikus lewat sawah, pemukiman penduduk, kebun-kebun segala macem, kuburan pula, sampe akhirnya keluar di gang gede tempat pangkalan ojek beberapa langkah dari kostan Iin (Pondok Al Barokah). Duh… pusing banget dah niy kepala…

Bukan itu aja. Oci disuguhi kemacetan sepanjang jalan Sayang. Pfiu… oci bersyukur banget oci naik ojek, jadi bisa nyalip kesana-sini, hingga sampailah daku di warnet ini (walaupun ternyata tu tukang ojek minta 7rebu dengan alasan tadi pas lewat jalan tikus muter-muter ga jelas! yeee… emang siapa juga yang minta lewat situ?? oh… pemerasan di pagi hari…helph!), hiks… hiks… perjuangan berat, bukan??

Dan itu semua (dari mulai dituruninnya oci dan puluhan penumpang lain oleh supir bus DAMRI Dipati Ukur-Jatinangor di Cileunyi sampe kemacetan na’udzubillah coz jalan ditutup (asli, baru kali ini oci liat jalanan Jatinangor kosong melompong sampe nyeberang aja ga usah liat kanan-kiri!), itu semua karena:

Yang Terhormat Bapak Presiden Kita, Susilo Bambang Yudhoyono, sedang menghadiri wisuda para praja di IPDN pagi ini!!!

Kebayang ga gimana geleng-geleng kepalanya diriku saat mengetahui penyebab segala kelelahan yang kurasakan pagi ini (plus penyebab ilangnya duit 7000 begitu saja dari dompetquh, hiks… hiks…).

Jadi…

"Asal Bapak Senang, Macet Pun Tak Apa?!?!"

Yah, ga masalah siy sebenernya, cuma rada kesel coz pagi ini aku sedang merasa sangat kacau, ditambah lagi smua inih, oh… oh… cuapek dehhh (baca sambil ikut gaya Amingwati di Extravagansa :D)!

Untungnyah, oci jadi dapet berita buat diliput. Cuma oci fokusnya ke nasib puluhan penumpang bus yang sampe jalan kaki dari Cileunyi ke tempat tujuan mereka (Unpad, sebagian besar) karena kedatangan SBY ke Jatinagor, dengan narasumber Neng Eva anak HI FISIP ‘04 (temen SMA-qu sebenernya, hehehe… licik, heuheuheu :P).

Wuuaaaah…. entah kapan kemacetan ini berakhir ^_^"!!

– Jatinangor, @Chapter kompi no.28, 10 Agustus 2006, pkl.09.36 WIB –

e’n la sua volontade e nostra pace

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 6:13 pm on Monday, August 7, 2006

Kumulai dengan basmalah, semoga coretan ini tak salah…

Cukuplah tabir menutupi lautan angan

agar hati ini tak terlelap dalam buaian semu

Di sudut kelengangan, doaku berpuisi:

Rabbi… biarlah di kefanaan ini

kutunduk tak memandangnya

[karena mata itu pun t'lah lelah menatap]

kutulikan telinga dengarkan suaranya

[karena telinga itu pun t'lah benci menangkap]

kubisukan mulut tak berbagi kata-kata dengannya

[karena mulut itu pun t'lah kelu mengucap]

kusendirian tak melangkah bersamanya

[karena kaki itu pun t'lah kaku membeku]

Hanya saja, aku mohon pada-Mu Ya Rabb…

agar di taman surga nanti,

ku termasuk satu dari sekian bidadari

yang ‘kan dipilihnya ‘tuk menikmati segala barokah-Mu

[di dunia, ada bidadari lain untuknya]

Lalu kuakhiri sunyiku dalam gema kata:

AMIN!

–> e’n la sua volontade e nostra pace <–

‘tuk Muhammad Lazuardi:

Yang dinamai kesedihan adalah mendamba orang yang tepat di waktu yang tidak tepat

Yang dinamai kesedihan terbesar adalah mendamba orang yang tidak tepat di waktu yang tidak tepat

Yang dinamai kemalangan terbesar adalah mendamba orang yang tidak tepat di waktu yang tepat

Dan kita?

Kita tidak lain adalah orang-orang malang yang bersedih

– Jatinangor, @ Chapter no.3, pkl.08.20 WIB –

kata Freud dalam kontemplasinya

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 6:41 pm on Friday, August 4, 2006

vitae summa brevis spem nos vetat incohare longam

"Life’s brief span forbids us to embark on far-reaching hopes."

:

Rentang hidup kita yang singkat ini melarang kita membentangkan harapan yang jauh jangkauannya.

Setujukah kalian, Saudaraku?

Karena kini kusudah mulai terantuk batu kepesimisan dalam meraih segala sesuatu yang menjadi harapan dan impianku.

Aku mulai berpikir

:

Apa aku hanya mampu berimaji tanpa bertolak pada realita???

Please… remind me that I’m strong enough…

« Previous Page