Jejak Nyata Sang Bunga
Ada sebentuk jiwa yang hendak bersandar pada jiwaku. Ada segumpal asa yang hendak bernaung pada hatiku. Ada setumpuk penat yang hendak berteduh pada punggungku. Mereka menyatu dalam diri setangkai bunga:
Yasmin.
Begitu saja ia mengetuk pintu hidupku, meniti satu ruas alur takdirku. Detak waktu menemaniku mengamatinya tumbuh, berkembang mulai dari sekuncup mungil yang mencoba mengerti dunia. Mekarnya takut-takut, perlahan-lahan sambil mengintip setiap lubang yang terlihat. Ia begitu rapuh dan tak ingin telanjur layu sebelum merasai hangatnya sinar mentari di mahkotanya, serta sejuknya tetes-tetes embun pagi di kelopaknya.
"Kau matahariku, Cakra. Kau menerangi hidupku sekaligus menyejukkannya."
Bukan, Yasmin. Aku bukan matahari. Aku bukan embun pagi. Aku hanya seorang Cakra. Cakrawala. Luas tak bertepi. Entah berujung di mana.
"Tetaplah di sana. Jangan pergi."
Aku tidak bisa berjanji saat ini, Yasmin. Kelak, aku tidak akan pergi, jika memang harus.
"Mekarku belum lagi sempurna."
Ya, karenanya, aku sudah tidak kauperlukan. Hadirku hanya untuk memberanikanmu tumbuh. Saat kau masih kuncup, aku membujukmu ‘tuk merekah mekar. Dunia yang penuh warna-warni bisa kau indrai jika kau mau membuka diri. Kini kau sudah hampir menggenggam dunia itu walau mekarmu belum lagi sempurna. Kau sudah bisa memilah antara warna hitam, putih, dan abu-abu. Warna-warna lain belum bisa kaupilah. Indahmu belum lagi menyapa isi dunia. Teruslah berusaha, tanpaku.
"Jika itu yang kauinginkan, maka sebaiknya aku saja yang pergi."
Kau tidak perlu melakukannya, Yasmin.
"Angin akan membantu menerbangkanku ke tempat kau tidak bisa melihatku, Cakra."
Haruskah demikian? Cukup aku saja yang menghentikan kemataharian dan keembunpagian diriku. Lalu, kau tidak akan tergantung lagi pada adaku untuk menyempurnakan mekarmu.
"Aku butuh matahari. Aku butuh embun pagi. Dan itu kau, Cakra."
Tidak, Yasmin. Sejatinya, matahari adalah Matahari, dan embun pagi adalah Embun Pagi. Aku hanya seorang Cakra. Cakrawala. Aku bukan penerang, karena sejatinya aku tidak punya cahaya seperti Matahari. Aku bukan penyejuk, karena sejatinya aku tidak punya bening air seperti Embun Pagi.
"Apakah kau tidak bisa menjelma menjadi matahari dan embun pagiku?"
Entah. Aku tidak berhak menjawabnya. Ada Maha Kuasa di luar kita yang Maha Tahu jawabannya.
"Aku mengerti. Kau memang tidak berkewajiban menjawabnya. Aku pun selayaknya tidak berhak menanyakannya padamu."
Maafkan, janganlah kau layu hanya karena pudarnya kemataharian dan keembunpagianku. Teruskan perjuanganmu untuk mekar sesempurna-sempurnanya, hingga dapat kaupilah semua warna yang ada di dunia. Hingga dunia bisa menikmati keindahanmu. Kemudian pada akhirnya, kau pun dapat turut mewarnai dunia dengan warnamu sendiri.
"Tenanglah, aku tidak akan layu. Aku ingin mekarku sempurna, hingga tidak sia-sia makna hadirmu mulai kuncupku hingga kini."
Yasmin, maafkan aku.
"Sudahlah. Kau memang bukan dewa dan bukan malaikat. Kau memang hanya manusia biasa, tapi bagiku kau lebih dari itu semua. Tak terdefinisikan dalam kata. Aku bahagia memiliki kesempatan mengenalmu."
Jangan lepaskan dunia yang sudah kaugenggam dalam tanganmu, Yasmin.
"Tidak, tidak akan pernah kulepaskan."
Yasmin, temukanlah Matahari-mu yang sesungguhnya. Temukanlah Embun Pagi-mu yang sesungguhnya. Jika Sang Maha Kuasa menghendaki keduanya kautemukan dalam diriku, kau pasti akan kembali ke tempatku kelak. Atau aku yang akan mencarimu di mana pun tempatmu berada.
"Terima kasih, Cakra."
Lalu, angin berhembus, meniup bunga yang belum lagi mekar sempurna itu menjauh dari jarak pandangku. Harumnya meninggalkan jejak di keluasan diriku. Satu lagi jejak yang tertinggal dari setangkai bunga yang secara tidak kusengaja berhasil kumekarkan. Entah sudah berapa tangkai bunga yang menyisakan jejak dalam diri ini. Hanya saja, jejak yang baru tercetak dari setangkai bunga yang belum lagi mekar sempurna ini terasa begitu nyata. Ada keinginan untuk menghapusnya seperti jejak-jejak yang lain. Namun, ada keengganan untuk melakukan selekasnya. Untuk yang satu ini, biarlah tertunda sejenak, dan waktu sajalah yang kuizinkan menghilangkannya.
[Cakrawala merentangkan sayap ketegarannya lebar-lebar. Ia yakin, kelak, di waktu yang tepat sesuai kehendak Sang Maha Kuasa, akan tercetak jejak ternyata dalam dirinya. Jejak keharuman yang bukan tertinggal, tetapi memang sengaja ditinggalkan. Entah jejak dari setangkai bunga yang mana. Yang pasti, jejak yang satu itu, akan tercetak selamanya dan tidak akan pernah terhapus. Karena pemilik jejak itu sendiri, akan terus menemani Cakrawala menjalani sisa hidupnya di dunia. Dan Cakrawala dengan seizin-Nya akan menjelma Matahari dan Embun Pagi bagi Sang Bunga. Untuk saat ini, Cakrawala hanya mampu melantunkan senandung doa...]
… kudedikasikan untuk seorang sahabat yang kelak akan mengabdikan diri sepenuhnya pada kemanusiaan …
– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 180806, pkl.06.42 WIB –