coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

invitation

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 6:45 pm on Sunday, August 27, 2006

Kamis siang, 24 Agustus 2006, saat makan siang di PEDCA Jatinangor, tiba-tiba muncul Leny dengan sepucuk surat undangan di tangannya…

J0341738_1Jadi teringat sesuatu… sepenggal percakapan beberapa bulan lalu, dengan seorang lelaki yang membuat saya kagum, dan masih saya kagumi hingga detik ini…

From : <+6281320******>   03-02-2006   21:17
Ass apa yg bakal kmu lakukn klo org yg kmu dambakn ngundang kmu ke akad nikahny dgn org lain??

To : <+6281320******>   
Aku akn mnanggapiny dgn senyuman dan kalimat: “Alhamdulillah, smoga dia mmang bungkusn tbaik dr 4WI u/mu. Doakan aku agr bungkusan tbaik dr 4WI u/ku pun sgera dkirimkan. Smoga berkah 4WI slalu mlimpahi kalian berdua.” Tapi aku tdk akn datang pd akad nikah mereka. Mnurutku itu trbaik utkku & dirinya. W4JJIalam.

From : <+6281320******>   03-02-2006   21:36
Akhwt yg sy dambakn bakal nikah akhir bulan ini.. dgn ikhwn yg jauh lebih smpurna dr sy.. aduhai.. btapa cepat mahligai itu terisi..

Mau tau apa yang saya tulis di buku harian saya? Baca aja:

"Aku merasa kosong. Tahu-tahu saja konjungtivaku yang telah sekian lama tidak berkontraksi mulai bekerja lagi. Garis sejajar itu hadir di kedua pipi, dan seiring tetesan yang mengaliri pipi, terus ke bawah dagu. Hatiku merasakan kepedihan yang teramat sangat. Perasaan apakah ini?

Kenapa justru salah satu manusia yang begitu kusayangi di dunia ini tidak dapat memperoleh apa yang ia dambakan? Kenapa justru ia tidak dapat menikmati kebahagiaan? Rasanya tetesan air matanya (entah di pipi atau hanya di hatinya) begitu nyata kulihat, hingga aku pun tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis bersamanya. Sedang menangiskah kau di sana? Apa yang kaurasakan? Ikhlaskah kau, duhai Mentari? Sakitkah? Pedihkah? Kenapa aku bisa merasakan semuanya itu? Kesakitan dan kesedihanmu merupakan kesakitan dan kesedihanku pula. Kenapa bisa seperti itu? Ya, seakan akulah yang kehilangan sesuatu yang ingin kumiliki. Seakan akulah yang menerima undangan itu. Seakan aku menjadi dirimu…

Kenapa aku? Kenapa kamu memberitahukan ini padaku?

Bukankah ini adalah hal yang begitu pribadi? Terlalu pribadi hingga aku merasa heran kenapa kau menceritakannya padaku? Yang kutahu, kau tidak semudah itu menceritakan tentang dirimu padaku. Kini tiba-tiba kau memberitahuku tentang peristiwa yang menimpa dirimu, yang menyangkut hatimu. Kauingin aku berbuat apa? Kauingin aku berkata apa? Menemanimu berbagi kata? Menyemangatimu? Atau sekadar memberi komentar saja? Apa yang kauinginkan untuk aku lakukan? Akan kulakukan apa saja. Karena aku bersyukur jika aku sudah kaupercayai untuk… katakanlah… menjadi teman tempat kaubercerita tentang hidupmu. Yah… walaupun aku tidak bisa berbuat lebih, dan aku tidak sebijak dirimu, setidaknya aku ingin bisa membuat senyummu terlahir kembali… Biasanya kau yang selalu melakukan itu terhadapku. Kini, aku pun ingin melakukan sebaliknya terhadapmu…"

Begitulah yang saya rasakan saat orang yang saya kagumi ngasitau saya berita itu. Alhamdulillah-nya, lelaki yang sempat patah hati ini emang tegar banget, setegar batu karang di lautan mungkin, karena hingga detik ini pun sepertinya dia masih baik-baik aja (itulah salah satu sebab saya kagum sama makhluk ini :D). Semoga aja tetep seperti itu yah…

Kembali ke cerita awal. Leny bawa surat undangan pernikahan seorang teman kami, akhwat, seangkatan di Sastra cuma beda jurusan. Walimahnya Minggu, 27 Agustus 2006. Saya, Leny, dan beberapa orang teman lainnya kaget banget waktu ngebaca undangan itu. Bukan karena kaget coz semuda itu udah nikah, atau kaget karena cuma nama Leny yang tercantum di undangan dan yang lain nggak (hihihi… tapi yang diundang kata si calon pengantin: Leny dkk. kok :D), tapi kaget karena…

Akhwat itu adalah wanita yang sudah cukup lama didambakan salah seorang teman kami di jurusan!

Ya, sebut saja namanya Pablo. Pablo ini sering curhat sama saya tentang apa yang dia rasakan pada si akhwat tsb. Saya tau sekali gimana seriusnya perasaan Pablo sama si akhwat tsb (mungkin udah nyampe tahap pengen ngelamarnya jadi istri!), begitu pun sebagian kecil teman-teman saya seangkatan di jurusan. Untungnya, waktu Leny nunjukin undangan itu, Pablo lagi ga ikut makan siang bareng kami. Kalo ngga, entah gimana wajah Pablo (nangis mungkin? Pablo emang termasuk tipe lelaki melankolis…). Selama beberapa saat, saya dan teman-teman terdiam sambil bareng-bareng ngeliatin surat undangan itu. Lalu, kami mulai bicarain tentang Pablo… hingga akhirnya kami memutuskan untuk memberikan undangan itu pada Pablo. Cepat atau lambat, Pablo harus bisa nerima kenyataan ini…

Dan kesedihan yang pernah saya rasakan beberapa bulan lalu itu pun terasa lagi. Sakit rasanya hati ini, walaupun bukan saya yang ngalamin situasi ini, walaupun bukan saya "yang dikasih undangan buat menghadiri pernikahan orang yang saya dambakan". Entah kenapa… mungkin saya ngebayangin aja kali ya, apa yang akan saya rasakan, dan apa yang akan saya lakukan kalo saya ngalamin situasi ini. Akankah saya setegar lelaki yang selalu saya kagumi??

Entahlah.

backsound yang pas banget:

… Saat menjelang hari-hari bahagiamu… Aku memilih ’tuk diam dalam sepiku… Saat mereka tertawa di atas pedihku… Tentang cintaku yang telah pergi tinggalkanku… Aku tak peduli, sungguh tak peduli… Inilah jalan hidupku… (Sedih Tak Berujung - Glen Fredly)

NB:
Tuk temanku, "Pablo Piccaso" yang lagi patah hati: Belajarlah ilmu ikhlas dari film "Kiamat Sudah Dekat" ya, Fren…

– my room in Bandung, ditik di kompiku sayang, 26 Agustus 2006, pkl.22.12 WIB —



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>