Pernahkah kau berpikir tentang takdirmu?
Misalnya, pada suatu titik dalam hidupmu, kau dipertemukan dengan seorang manusia. Lama-lama kau jatuh cinta padanya, dan ingin memilikinya. Namun, karena ia sudah terlebih dahulu dipertemukan dengan manusia lain yang telah membuatnya jatuh cinta, kau pun patah hati. Rasa rendah diri menyelimutimu karena manusia yang dicintainya kauanggap lebih baik darimu, sehingga kau menjauhinya dan mencoba melupakannya.
Perlahan, rasa cintamu padanya tersisihkan oleh hal-hal lain dalam hidupmu. Saat itu, kaukira takdirmu sedang menampakkan diri. Kaukira kausudah mengenyahkan namanya dari hatimu, padahal kau salah besar. Justru takdirmu tengah mempermainkanmu, karena awal kisah hidupmu baru saja dimulai.
***
Keinginan untuk memiliki seorang manusia memang bisa begitu menyiksa. Namun, keinginan untuk dimiliki oleh seorang manusia adalah suatu perasaan tersiksa yang lebih menyakitkan. Apalagi jika manusia yang kaucintai lebih memilih untuk tidak memilikimu, padahal kau begitu ingin dimiliki olehnya.
Ah, benarkah kau bisa memiliki orang yang kaucintai? Bukankah manusia tidak bisa disamakan dengan barang yang bisa diberi label milik? Bukankah manusia memiliki kebebasan yang tidak sepatutnya terbelenggu oleh siapa pun, apalagi hanya atas nama cinta dan rasa ingin memiliki? Bukankah demikian?
Ya, bukankah alangkah egoisnya jika kau memutuskan untuk mencintai seseorang, tetapi tidak memberi kebebasan padanya? Bagaimanapun, cinta itu membebaskan, bukan saling menjajah. Karenanya, untuk apa kau mengikatkan simpul tali belenggu cintamu pada manusia yang kaucintai?
***
“Saya menganggapmu adik saya,”
Bohong.
“Jika saya punya salah, saya minta maaf,”
Ya, banyak kesalahan.
“Saya sama sekali belum ingin memikirkan tentang pernikahan. Umur saya masih muda, belum punya penghasilan. Saya ingin lulus kuliah dulu, dan itu baru dua tahun lagi,”
Tidak, saya sudah ingin melamarmu detik ini juga.
“Semoga kita bisa jadi sahabat seperti dulu,”
Pernahkah kita bersahabat? Sejak dulu, saya menganggap kamu sebagai kekasih.
“Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting, Dik,”
Bukan, tetapi… teruslah memikirkan diriku, Sayangku…
***
“Apakah sudah tidak ada yang bisa diubah? Saya tidak pernah menganggapmu kakak saya. Tidak juga sahabat. Saya selalu menyayangimu sebagai seorang kekasih. Bahkan, saya ingin sekali menjadi istrimu, mendampingimu selamanya. Tolonglah, izinkan saya memperbaiki semuanya! Berikan satu kali kesempatan lagi untuk memulai semuanya dari nol! Saya mohon dengan sangat…”
Kata-kata membeku sedingin salju di dalam hati, tanpa diberi waktu sedetik pun untuk sekadar terucap melalui mulut, dan diinderai oleh telinganya.
***
Namaku Yusuf. Aku seorang penipu.
Parahnya, yang kutipu adalah diriku sendiri. Aku mencintai seorang perempuan, tetapi aku tidak ingin mengakuinya. Ketakutan terbesarku adalah berkata jujur tentang apa yang kurasakan padanya. Kepengecutanku kutunjukkan dengan tidak memedulikan dirinya lagi. Padahal, justru dengan demikian aku merasa semakin tersiksa dan tersakiti.
Saat kusadari bahwa aku terlalu takut menyakiti hatinya dan membuatnya menangis, aku semakin tidak kuasa mendekatinya. Sebenarnya aku ingin memilikinya. Aku ingin ia menemaniku menjalani sisa hidupku. Namun, perempuan yang kucintai mencintai seorang lelaki di masa lalunya, dan lelaki itu kuanggap jauh lebih baik dariku. Kupikir ia akan lebih bahagia dengan lelaki itu, bukan denganku.
Karenanya, biarlah aku bermetamorfosa lebih jauh lagi menjadi seorang penipu ulung. Biarlah aku lebih jauh lagi menipu diriku sendiri. Aku hanya ingin melihat perempuan yang kucintai tersenyum, bukan terus-menerus menangisi diriku. Biarlah ia yang tersenyum, dan aku yang menangis. Inilah takdirku.
***
Namaku Yasmin.
Aku mencintai dua orang lelaki dalam hidupku. Yang pertama kucintai sejak lima tahun yang lalu, sedangkan yang kedua kucintai sejak dua tahun yang lalu. Yang pertama kucintai karena aku mengaguminya, yang kedua kucintai karena aku menyayanginya. Keduanya sama-sama baik hati dan bijaksana, tipikal lelaki idaman setiap perempuan. Hanya saja, aku hanya ingin dimiliki oleh seorang saja dari lelaki itu, yakni lelaki yang kedua.
Aku hanya ingin dimiliki oleh Yusuf.
Sayangnya, semua sudah terlambat. Andai saja aku tidak menceritakan masa laluku, mungkin aku dan Yusuf sudah bersama sejak dulu. Kini Yusuf hanya menganggapku sebagai adiknya, bukan sebagai kekasihnya lagi. Aku tidak mengerti. Aku tidak mau mengerti. Jika keadaannya seperti ini, lebih baik aku pergi saja sejauh-jauhnya dari hidup Yusuf. Aku tidak mau menipu diri dan memosisikan diri sebagai adiknya, sedangkan aku selalu menganggapnya kekasihku.
….
— cerpen atow ‘cerpen’ nih? ^_^ pfiuh… untunglah si ‘Yusuf’ lagi KKN di Indramayu sejak 4 Juli lalu sampe akhir Agustus… kampus begitu menenangkan tanpa dirinya… eh, jadi cerpen atow ‘cerpen’ nih? hahaha… ^_^ —