atas nama kekaguman pada seorang mentari (bagian I)
Atas nama kekaguman pada seorang mentari, oci nulis semua ini.
Tersebutlah seorang manusia yang seperti mentari. Kalo dia ada, semuanya jadi terang. Kalo dia ada, warna hitam membaur dengan cahaya, jadi warna-warna ceria. Dan oci kagum sama manusia ini. Amat sangat kagum sekali (kalo pake gaya bahasa pleonasme :p), bahkan. Sejak tahun 2001, hingga detik ini. Beruntung, oci berkesempatan buat mengenal manusia yang seperti mentari ini, pertengahan tahun 2003. Alhamdulillah banget, beneran! Berkat masuknya dia ke hidup oci, ada begitu banyak ilmu, ada begitu banyak hikmah, ada begitu banyak yang berubah dalam kepribadian oci.
Manusia ini merupakan salah satu dari kaum Adam. Pertama kali oci tahu kalo dia ada, lewat suaranya saat dia melantunkan sebuah lagu nasyid. Lama-lama oci jadi sering memperhatikan dirinya, mencaritahu segala sesuatu tentangnya. Rasa kagum itu pun tumbuh seperti sulur saat mengetahui sedikit demi sedikit tentang siapakah manusia itu. Ternyata manusia itu seperti mentari. Kalo dia ada, dunia emang bener-bener jadi terang. Ada beberapa hal dalam dirinya yang begitu menyilaukan dan memesona. Sejak itu, oci bener-bener menganggapnya mentari hidup oci.
Namun, seperti halnya mentari, dia terlalu menyilaukan untuk dilihat. Oci selalu merasa rendah diri kalo udah berhadapan sama manusia ini, bahkan hingga detik ini, setelah sekitar 3 tahun oci mengenalnya. Lebih lanjut, kekaguman itu tidak pernah berubah. Kekaguman itu selalu ada, dan tetap mengkristal sebagai kekaguman, nggak pernah lebih.
Kekaguman itu nggak pernah bergeser menjadi rasa cinta.
Pernah denger lagu Marcell dan Shanty yang ini ga:
Sejenak aku pun terpana, melihat dia di depanku
dia menjerat hatiku, menatapku tajam
di sini, di dalam dadaku ada getar lugu tak kusebut
dia menjerat hatiku, menatapku tajam
Kuakui tubuhku melunglai
sempat ku memuji dalam hatiku
jangan pikir aku kan mencinta
kuhanya kagumi, hanya memuji
Tuhan, katakanlah
diri ini pun tak cinta
biar berteman saja, biar…
Yah, itulah yang harusnya oci nyanyikan di hadapannya. Karena ya emang itulah yang oci rasakan. Kekaguman berbeda dengan rasa cinta, walaupun batas antara keduanya begitu tipis. Maksud oci, dalam artian, kekaguman emang sangatlah mudah berubah menjadi cinta. Itu kalo gak dijaga. Dalam kasus oci, kekaguman itu tetap terjaga, karena sampe detik ini oci selalu menganggap manusia itu seperti mentari. Seperti halnya mentari, oci selalu menganggap manusia itu gak akan pernah bisa tergapai sama kedua tangan ini. Dia terlalu jauh, dan sinarnya bukan cuma buat oci, tapi juga dibagi-bagi sama manusia-manusia lain yang ada di hidupnya.
Oci pikir, yang bisa memiliki keseluruhan cahaya sang mentari adalah manusia yang juga seperti mentari (idealnya). Kalo keduanya menyatu, mereka bisa lebih menyinari dunia dengan sinar kedamaian dan ketenangan. Karenanya, yang selalu oci doakan adalah supaya manusia yang seperti mentari itu mendapatkan pendamping hidup yang sebaik-baiknya, dan itu bukanlah oci.
Beberapa waktu yang lalu, manusia yang seperti mentari itu meminta maaf sama oci. Dia bertanya apakah oci ngerasa kesiksa saat mengetahui bahwa setelah sekian lama mengenalnya, ternyata dia gak punya perasaan apa-apa selain rasa senang karena punya teman curhat dan SMS-an. Dia merasa dirinya kejam karena merasa telah memberi harapan-harapan kosong dan mempermainkan hati seorang perempuan yang mempunyai keinginan keras untuk belajar dan memperbaiki diri. Perempuan itu, maksudnya adalah oci. Duh, mendengarnya, oci jadi ikut merasa bersalah juga dan sepertinya oci harus meluruskan sesuatu.
Oci sama sekali gak menganggap dirinya kejam. Bagaimana bisa manusia yang begitu baik hati disebut kejam? Dia cuma terlalu baik, itu saja. Dan itu bukanlah suatu kesalahan. Mengenai apakah oci ngerasa kesiksa atow gak setelah mengetahui kenyataan bahwa dia gak punya perasaan lebih apa pun sama oci, oci jawab di sini: Oci sama sekali gak ngerasa kesiksa. Kenapa? Karena oci emang gak pernah berharap lebih sama hubungan yang oci jalanin sama dia. Kalo tanya lagi, kenapa? Karena oci pikir oci gak layak berharap apa pun, dan oci udah cukup merasa senang saat mengetahui bahwa dia merasa senang punya teman curhat dan teman SMS-an kayak oci.
Setelah membaca SMS dari manusia itu yang memberitahu apa yang dia rasakan, oci gak ngerasa kesiksa atow nangis atow patah hati. Oci cuma tersenyum, dan bilang dalam hati: kamu gak ngasitau juga, oci udah tau kok, dan oci gak ngerasa kecewa, apalagi kesiksa, karena oci gak berharap kamu punya perasaan lebih sama oci. Lebih jauh, oci sama sekali gak ngerasa dikasih harapan kosong apa pun atau dipermainkan sama dia. Soal tragedi "SMS salah kirim" pun, oci cuma lagi bimbang aja.
Tragedi "SMS salah kirim" akhir tahun lalu memang cukup menggemparkan. Oci tanya deh, gimana rasanya kalo jadi fokus perhatian orang yang kita kagumi? Hanya saja, saat itu, oci udah memutuskan untuk fokus ke manusia lain yang sangat oci pedulikan, bukan ke manusia yang oci kagumi itu. Akibatnya, saat ada sesuatu yang menggoyahkan keputusan itu, oci jadi kacau. Begitulah ceritanya.
Lalu apakah setelah tragedi itu, perasaan kagum oci berubah? Oke, jujur, oci sempat ragu, tapi cuma sedikit dan gak lama, karena pada akhirnya oci bener-bener yakin kalo manusia yang oci sangat sayangi dan pedulikan dan oci harapkan untuk jadi pendamping hidup oci bukanlah dia. Ya, bukan dia, tapi manusia lain. Dan dia, manusia yang seperti mentari itu, oci yakin bahwa dia cuma manusia yang oci sangat kagumi dan pedulikan, tapi bukan yang oci harapkan untuk jadi pendamping hidup oci.
to be continued…