coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

atas nama kekaguman pada seorang mentari (bagian I)

Filed under: my lovely friends — cherry-calosa at 7:20 pm on Monday, June 26, 2006

Atas nama kekaguman pada seorang mentari, oci nulis semua ini.

Tersebutlah seorang manusia yang seperti mentari. Kalo dia ada, semuanya jadi terang. Kalo dia ada, warna hitam membaur dengan cahaya, jadi warna-warna ceria. Dan oci kagum sama manusia ini. Amat sangat kagum sekali (kalo pake gaya bahasa pleonasme :p), bahkan. Sejak tahun 2001, hingga detik ini. Beruntung, oci berkesempatan buat mengenal manusia yang seperti mentari ini, pertengahan tahun 2003. Alhamdulillah banget, beneran! Berkat masuknya dia ke hidup oci, ada begitu banyak ilmu, ada begitu banyak hikmah, ada begitu banyak yang berubah dalam kepribadian oci.

Manusia ini merupakan salah satu dari kaum Adam. Pertama kali oci tahu kalo dia ada, lewat suaranya saat dia melantunkan sebuah lagu nasyid. Lama-lama oci jadi sering memperhatikan dirinya, mencaritahu segala sesuatu tentangnya. Rasa kagum itu pun tumbuh seperti sulur saat mengetahui sedikit demi sedikit tentang siapakah manusia itu. Ternyata manusia itu seperti mentari. Kalo dia ada, dunia emang bener-bener jadi terang. Ada beberapa hal dalam dirinya yang begitu menyilaukan dan memesona. Sejak itu, oci bener-bener menganggapnya mentari hidup oci.

Namun, seperti halnya mentari, dia terlalu menyilaukan untuk dilihat. Oci selalu merasa rendah diri kalo udah berhadapan sama manusia ini, bahkan hingga detik ini, setelah sekitar 3 tahun oci mengenalnya. Lebih lanjut, kekaguman itu tidak pernah berubah. Kekaguman itu selalu ada, dan tetap mengkristal sebagai kekaguman, nggak pernah lebih.

Kekaguman itu nggak pernah bergeser menjadi rasa cinta.

Pernah denger lagu Marcell dan Shanty yang ini ga:

Sejenak aku pun terpana, melihat dia di depanku

dia menjerat hatiku, menatapku tajam

di sini, di dalam dadaku ada getar lugu tak kusebut

dia menjerat hatiku, menatapku tajam

Kuakui tubuhku melunglai

sempat ku memuji dalam hatiku

jangan pikir aku kan mencinta

kuhanya kagumi, hanya memuji

Tuhan, katakanlah

diri ini pun tak cinta

biar berteman saja, biar…

Yah, itulah yang harusnya oci nyanyikan di hadapannya. Karena ya emang itulah yang oci rasakan. Kekaguman berbeda dengan rasa cinta, walaupun batas antara keduanya begitu tipis. Maksud oci, dalam artian, kekaguman emang sangatlah mudah berubah menjadi cinta. Itu kalo gak dijaga. Dalam kasus oci, kekaguman itu tetap terjaga, karena sampe detik ini oci selalu menganggap manusia itu seperti mentari. Seperti halnya mentari, oci selalu menganggap manusia itu gak akan pernah bisa tergapai sama kedua tangan ini. Dia terlalu jauh, dan sinarnya bukan cuma buat oci, tapi juga dibagi-bagi sama manusia-manusia lain yang ada di hidupnya.

Oci pikir, yang bisa memiliki keseluruhan cahaya sang mentari adalah manusia yang juga seperti mentari (idealnya). Kalo keduanya menyatu, mereka bisa lebih menyinari dunia dengan sinar kedamaian dan ketenangan. Karenanya, yang selalu oci doakan adalah supaya manusia yang seperti mentari itu mendapatkan pendamping hidup yang sebaik-baiknya, dan itu bukanlah oci.

Beberapa waktu yang lalu, manusia yang seperti mentari itu meminta maaf sama oci. Dia bertanya apakah oci ngerasa kesiksa saat mengetahui bahwa setelah sekian lama mengenalnya, ternyata dia gak punya perasaan apa-apa selain rasa senang karena punya teman curhat dan SMS-an. Dia merasa dirinya kejam karena merasa telah memberi harapan-harapan kosong dan mempermainkan hati seorang perempuan yang mempunyai keinginan keras untuk belajar dan memperbaiki diri. Perempuan itu, maksudnya adalah oci. Duh, mendengarnya, oci jadi ikut merasa bersalah juga dan sepertinya oci harus meluruskan sesuatu.

Oci sama sekali gak menganggap dirinya kejam. Bagaimana bisa manusia yang begitu baik hati disebut kejam? Dia cuma terlalu baik, itu saja. Dan itu bukanlah suatu kesalahan. Mengenai apakah oci ngerasa kesiksa atow gak setelah mengetahui kenyataan bahwa dia gak punya perasaan lebih apa pun sama oci, oci jawab di sini: Oci sama sekali gak ngerasa kesiksa. Kenapa? Karena oci emang gak pernah berharap lebih sama hubungan yang oci jalanin sama dia. Kalo tanya lagi, kenapa? Karena oci pikir oci gak layak berharap apa pun, dan oci udah cukup merasa senang saat mengetahui bahwa dia merasa senang punya teman curhat dan teman SMS-an kayak oci.

Setelah membaca SMS dari manusia itu yang memberitahu apa yang dia rasakan, oci gak ngerasa kesiksa atow nangis atow patah hati. Oci cuma tersenyum, dan bilang dalam hati: kamu gak ngasitau juga, oci udah tau kok, dan oci gak ngerasa kecewa, apalagi kesiksa, karena oci gak berharap kamu punya perasaan lebih sama oci. Lebih jauh, oci sama sekali gak ngerasa dikasih harapan kosong apa pun atau dipermainkan sama dia. Soal tragedi "SMS salah kirim" pun, oci cuma lagi bimbang aja.

Tragedi "SMS salah kirim" akhir tahun lalu memang cukup menggemparkan. Oci tanya deh, gimana rasanya kalo jadi fokus perhatian orang yang kita kagumi? Hanya saja, saat itu, oci udah memutuskan untuk fokus ke manusia lain yang sangat oci pedulikan, bukan ke manusia yang oci kagumi itu. Akibatnya, saat ada sesuatu yang menggoyahkan keputusan itu, oci jadi kacau. Begitulah ceritanya.

Lalu apakah setelah tragedi itu, perasaan kagum oci berubah? Oke, jujur, oci sempat ragu, tapi cuma sedikit dan gak lama, karena pada akhirnya oci bener-bener yakin kalo manusia yang oci sangat sayangi dan pedulikan dan oci harapkan untuk jadi pendamping hidup oci bukanlah dia. Ya, bukan dia, tapi manusia lain. Dan dia, manusia yang seperti mentari itu, oci yakin bahwa dia cuma manusia yang oci sangat kagumi dan pedulikan, tapi bukan yang oci harapkan untuk jadi pendamping hidup oci.

to be continued…

DeALoVa dan OpiCK

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 7:51 pm on Sunday, June 25, 2006

Jadi inget sama lirik lagu Dealova yang diubah dikit liriknya sama salah seorang sahabat oci:

hanya diri-Mu yang bisa membuatku tenang

tanpa diri-Mu aku merasa hilang… dan sepi…

Nyambung banget sama lagu Opick yang paling oci sukai ini. Judulnya "Kembali Pada Allah":

hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nashir

(cukuplah Allah saja bagi kami sebagai pelindung, penolong, dan tempat berserah diri kami)

bila hati gelisah, tak tenang, tak tenteram

bila hatimu goyah, terluka, merana

jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah?

hilangkah dalam hati, zikirku, imanku?

hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang

dengan mengingat Allah, hilanglah semua kegelisahan

cukuplah hanya Allah, hati bergantung berserah diri

Terkadang kita memang lupa, merasa diri kita sendirian saat kesedihan, kegelisahan, kesulitan, dan kesepian menerpa. Padahal Allah selalu ada di sana. Allah selalu ada. Yang perlu kita lakukan hanya kembali pada-Nya, Insya Allah semua rasa sedih, gelisah, sulit, dan sepi itu akan tergantikan oleh ketenangan.

Sebagai prolog, oci jadi inget sama perumpamaan Aa Gym yang suka diulang-ulang tiap kali beliau ngasih tausyah: Jadikanlah dirimu seperti tukang parkir. Setiap harinya ia punya banyak mobil, tapi tiap kali mobil itu diambil dia gak ngerasa kecewa. Biasa-biasa aja, seneng malah. Kenapa? Karena semua mobil itu cuma titipan. Karenanya, perlakukanlah segala sesuatu yang kita miliki dengan sederhana, tidak berlebihan, agar pada suatu saat kita bisa ikhlas jika semua itu diambil sama Allah. Toh itu semua cuma titipan.

Ngomongin soal hati, oci yakin di antara kalian semua yang baca ini pasti pernah menghadapi yang namanya problematika hati, terutama saat berhubungan sama lawan jenis non muhrim. Soal susahnya jaga hati untuk tidak merasakan rasa rindu pada "orang yang belum semestinya dirindukan", untuk tidak merasakan rasa bahagia saat berbagi kata atau bertatap muka dengan "orang yang belum semestinya", untuk tidak mempunyai keinginan untuk memiliki "orang yang belum semestinya kita miliki". Intinya, penempatan rasa cinta dan kasih sayang yang gak tepat.

Suatu hari, di bulan Februari 2006, salah seorang sahabat bertanya sama oci:

"Apa yang akan kamu lakukan jika orang yang kamu dambakan ngundang kamu ke akad nikahnya dengan orang lain"

Ternyata sahabat oci itu sedang mengalaminya (diundang ke akad nikah orang yang didambakannya). Duhai, terbayangkah gimana rasanya?

Lalu, suatu hari di bulan April 2006, oci juga baru tau gimana kesiksanya saat mengetahui bahwa orang yang oci dambakan (untuk menjadi pendamping hidup oci) ternyata mendambakan orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya.

Lalu, Jum’at, 23 Juni 2006 lalu, oci juga baru tau gimana sakitnya hati ini saat orang itu (yang notabene dulu pernah mendambakan oci juga) dengan sangat lugas bicara bahwa dia sama sekali tidak membutuhkan oci dalam hidupnya lagi. Lebih lanjut, dia bicara bahwa jika oci pergi jauh ke mana pun, menghilang sekalipun, dia gak akan terpengaruh dan gak akan merasa kehilangan sama sekali.

Apa yang kalian rasakan jika ada di posisi oci?

Di hari itu, setelah saling mengucapkan terima kasih dan kata maaf untuk semua yang telah terjadi, orang itu pergi begitu saja. Detik itu juga, oci sadar, I’ve lost the precious thing in my life, and nothing I can do to change this situation.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Q.S. Al Hadid: 22-23)

Alhamdulillah, hati ini masih terjaga. Oci berusaha bermuhasabah diri dan menerima semuanya sebagai takdir Allah adanya. Mungkin dengan kepergian orang itu dari hidup oci merupakan tanda dari Allah bahwa orang itu bukanlah yang terbaik buat oci. Percaya gak? Oci masih bisa tersenyum tuh :) (inget lagunya Padi, hehehe…) Oci harus bisa mengikhlaskan semuanya, dan oci sedang berusaha untuk itu. Toh mubazir banget kalo waktu yang tersisa dalam hidup oci cuma digunakan untuk menyesali diri, menangisi orang itu (yang notabene adalah manusia juga, gak ada bedanya, yang sering alpa dan khilaf), meratapi dunia, nyebut dunia ini gak adil, or whatever.

Masih banyak yang lebih penting untuk dipikirkan dari sekadar memikirkan soal jodoh yang gak kunjung datang, ya kan? Kalo Allah udah berkehendak, apa pun bisa terjadi. Oci sangat percaya itu! Apa pun oci jadinya nanti, gimana Allah aja. Bukan berarti oci gak ikhtiar lho, maksudnya ya ikhtiar, tapi hasilnya jangan memaksakan harus seperti yang diinginkan. Begitu…

Yuk ah, buat yang masih belum nemuin jodohnya sama kayak oci, cuma satu kata yang oci katakan untuk kalian (juga untuk oci sendiri) : "CIAYO!" :)

– ini tulisan dari seorang perempuan yang lagi patah hati lho, hehehe… :P

cara bijaksana untuk mengikhlaskan sesuatu

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 7:04 pm on Sunday, June 25, 2006

Ada 1 pertanyaan bagi siapa pun yang membaca post ini:

"Tahukah kalian bagaimana cara yang bijaksana untuk mengikhlaskan kepergian atau kehilangan seorang manusia yang amat kita pedulikan dalam hidup kita?"

– jawab di Comment ya, hatur nuhun, trima kasih –

everybody’s changing

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:25 pm on Friday, June 9, 2006

And everybody’s changing, and I don’t feel the same…

(Everybody’s Changing_Keane)

Belakangan ini oci lagi rajin-rajinnya dengerin kaset KEANE: Hope & Fears (repackaged) di walkman. Pinjeman dari Leny, sohib oci seangkatan di jurusan. Udah berminggu-minggu belom dibalikin (punten nya, Le…), dan baru didengerin akhir-akhir ini. Wuih, semua lagu di kaset ini bener-bener easy listening banget. Tema lagunya juga ga cuma tentang cinta, tapi juga soal perenungan hidup. Keren lah pokonya mah.

Lagu Everybody’s Changing ini bikin oci jadi merenung sendiri. Banyak hal yang udah berubah dalam diri oci. Entah itu sifat, kebiasaan, maupun sudut pandang dalam melihat dan memecahkan suatu masalah. Rasanya, oci semakin ga mengenal diri oci sendiri kalo ngebandingin oci yang zaman SMA sama oci yang sekarang udah kuliah 2 tahun. Sampe nanya ke diri sendiri: Is this really ME? Apa ini bener-bener seorang Rosi Rosmala Dewi??

Alhamdulillah-nya, smua perubahan itu lebih banyak menuju kubu positif. Mulai dari sifat dan kebiasaan, yakni:

- Jadi lebih percaya diri

- Jadi ga ragu-ragu ngambil tantangan baru

- Jadi lebih bisa ngungkapin apa yang oci pikirin secara jujur

- Jadi lebih bisa memotivasi diri sendiri

- Jadi lebih bisa mandang suatu masalah dari semua sisi, ga cuma dari 1 sisi

Dulu, oci ga kayak gitu. Setelah mengalami berbagai peristiwa, juga setelah banyak manusia-manusia baru yang masuk ke hidup oci, lalu keluar dari hidup oci, oci udah ga pernah sama lagi kayak dulu.

Adanya manusia-manusia yang gak pernah pergi dan selalu ada di hati, yang selalu membuat oci semangat menjalani hari-hari, dan semakin jarang mikir negatif. Adanya manusia-manusia yang pernah mewarnai hari-hari oci lalu sekarang pergi dan gak pernah kembali, yang ninggalin jejak hikmah serta banyak pelajaran berharga buat oci.

Peristiwa pengangkatan oci sebagai Ketua Angkatan 2004 di jurusan juga amat memengaruhi perkembangan kepribadian oci. Gimana rasanya dikasih tanggung jawab, amanah yang ga mudah dijalani, tuntutan kewajiban yang ga boleh ga dijalanin, ngurus kepentingan 40 orang rekan-rekan seangkatan, dan masih banyak lagi. Oci sadar ini sama sekali bukan hal yang mudah. Itulah sebabnya, oci zaman SMA berubah total kalo dibandingin sama oci zaman kuliah.

Kalo pas SMA, oci kebiasaan dipimpin sama orang lain, sekarang oci yang mesti mimpin orang lain yang jumlahnya ga sedikit. Kalo pas SMA, oci paling anti yang namanya bicara di forum atow di depan banyak orang, sekarang malah kayak keasyikan pengen ngomong. Udah ga deg-degan lagi, udah ga keringetan dingin lagi. Awal masuk kuliah adalah masa-masa yang berat, maklum, saat-saat adaptasi yang melelahkan. Dunia baru yang sama sekali asing dan terasa seakan banyak tekanan dari mana-mana. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, oci udah terbiasa sama dunia baru itu, dan bisa menjalaninya dengan hati yang lapang dan kepercayaan diri.

Dukungan temen-temen seangkatan yang penuh sama beragam karakter juga sangat berpengaruh dalam proses adaptasi oci. Thanks for all, guys :)! Moga aja kita semua bisa berteman hingga kita tua nanti ya, amin-in aja deh…

Masuk universitas, di-ospek, ketemu senior-senior, timbulnya chemistry janggal sama salah seorang senior yang ngospek, ngerasain warna-warni pelangi saat manusia itu mulai masuk ke kehidupan oci, nyaris ngejalin relationship cuma kehalang sistem dan ego pribadi, broken heart, kenal orang-orang baru, masuk organisasi, masuk berbagai kepanitiaan, broken heart lagi, konflik sama senior, ngerasain ngospek maba, ngamen di Jatinangor malem-malem buat danus, jualan di Pasar Unpad seharian, ngerasain jadi "orang penting" di jurusan, ngerasain disegani orang-orang sekitar, ngerasain jadi orang yang dianggap paling jenius di angkatan sejurusan, insiden SMS salah kirim ke sahabat terbaik yang pernah oci miliki yang sempet bikin panik, …

Rasanya kalo disebutin satu-satu daftarnya bakalan puanjaaaaang banget. Semua itu, semua peristiwa itulah yang berpengaruh sama perubahan oci. Belum lagi peristiwa lolosnya oci pas audisi Perlatihan Reporter Campus MQFM (penyaringan dari 160-an peserta jadi 54 orang terpilih). Alhamdulillah banget! Oci yang selama ini ga berani ikut tantangan apa pun, sekarang jadi kayak gini. Ga ragu-ragu masuk dunia baru yang masih sama sekali asing. Kepercayaan diri oci juga makin bertambah karena oci sekarang tau kalo oci ternyata bisa juga ngelakuin sesuatu yang berarti, dan bisa meraih prestasi.

Kalo dipikir-pikir, kayaknya semua orang juga pernah ya ngerasain apa yang oci rasain sekarang? Ya nggak sih? Ngerasa berubah. Jadi lebih baik dari sebelumnya, tentunya. Ketika menyadari bahwa diri kita telah bermetamorfosa menjadi lebih indah dari sebelumnya, rasanya sulit dipercaya, dan yang bisa kita lakukan adalah bersyukur, lalu berusaha agar kita ga bermetamorfosa balik jadi lebih buruk lagi.

Makasih buat semuanya yang udah bikin oci bermetamorfosa. Buat sahabat-sahabat oci semuanya yang selalu ada menemani, di sisi ataupun di hati. Buat seorang mentari yang mewujud di bumi, yang selalu oci kagumi keseluruhan dirinya hingga kini, dan selalu oci anggap sahabat dan kakak terbaik yang pernah ada. Buat semua manusia yang pernah ada, dan masih ada di hidup oci.

Makasih terutama buat salah seorang senior jurusanku di angkatan 2003 yang udah banyak ngasih pelajaran sama oci soal apa itu cinta, kedewasaan, empati, peduli, rasa sakit, rasa rindu, kehilangan, dan penyesalan yang mendalam. I’ll never be like this if I don’t ever meet u in my life, dan sampe kapan pun, kamu adalah manusia paling berarti buat oci, dan manusia yang selalu membuat oci berharap agar bisa mendampingi dirinya seumur hidup, suatu saat nanti. Tapi oci tahu kemungkinan itu udah nyaris gak ada. Yang jelas, makasih untuk semuanya, makasih karena pernah ada di hidup oci. Maaf kalo oci gak pernah bisa bikin kamu bahagia dan cuma bisa bikin semuanya jadi lebih rumit…

Everybody’s changing, and I don’t feel the same…

World Cup Championship vs UAS?!

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 6:30 pm on Friday, June 9, 2006

Hihihi, jadi geli sendiri baca post yang ditulis sendiri sama oci beberapa waktu yang lalu. "In My Melancolic Situation" itu. Syndrom pasca nonton film+baca novel Gie. Ternyata asyikan pake kata-kata nyantey gini yak?

Nonton bola, nonton bola, nonton bola.

Cuma itu yang mulai kemaren ribut diomongin sama temen-temen oci seangkatan (khususnya para kaum Adam), padahal minggu ini plus minggu depan Sastra lagi rame-ramenya UAS (hah? UAS rame? Plis deh…). Kebanyakan temen-temen lebih milih nonton bola daripada baca buku buat belajar. Wah, curiga berdampak buruk nih di pengumuman nilai akhir ^_^.

Kalo oci sendiri sih tentu saja memilih… apa coba? Dua-duanya, dong! Belajar iya, nonton (berita) bola iya. Hehehe, iya, bukan ikutan begadang nonton bola, tapi liat berita tentang bola. Contohnya, kemaren malem kan oci ga nonton tuh pertandingan Jerman vs Kosta Rika (ketiduran gitu deh… kacau!). Paginya, oci nonton berita we di TV. Kan ada hasil pertandingannya tuh (weis, si tuan rumah menang, euy!), plus cuplikan-cuplikan momen gol-gol dahsyatnya. Lumayan juga. Jadinya kalo ke kampus nanti pas anak-anak lagi ribut ngomongin, oci ga cuma bengong dengerin mereka ngomong.

Ohiya, pas Piala Dunia yang lalu, oci jagoin Brazil, karena oci terpesona sama Ronaldinho yang maennya super keren. Tahun ini entahlah. Liat sikon dulu. Karena oci ga begitu gila bola, jadinya ya ga terlalu heboh juga ngehadepin momen-momen Piala Dunia sekarang. Cuma seneng aja kalo nonton bareng kakak-kakakku, sama ortu juga. Kalo nonton bareng gitu pasti aja heboh-hebohan, dan makanan-makanan penuh tersaji di meja (lah, heboh nonton bola atow heboh makannya, Ci? hehehe…). Oci juga paling suka nonton pas pemaennya nge-golin. Ekspresi kegembiraan dan kepuasan di wajah tim yang nge-golin itu loh… bikin oci ikut gembira juga. Jadinya, kalo lagi nonton, oci susah nentuin mo dukung tim ini atow tim itu, soalnya kalo keduanya nge-golin, oci sama-sama seneng. Parah ^_^

Balik lagi ke topik. Moga aja dengan adanya momen ini, rekan-rekan seangkatanku di jurusan, maupun kalian-kalian semua yang lagi menghadapi masa UAS, ga terlena gitu aja, ngelupain belajar sama sekali, yang akibatnya nanti malah gigit jari pas pengumuman nilai akhir. Kenapa? Gara-gara nilainya pada anjlok! Duh, jangan sampe ya, teman-temanku…

Boleh aja heboh-hebohan nonton bola, tapi jangan sampe ngelupain kewajiban kita sebagai manusia, mahasiswa, dan umat beragama. Owkey! Hidup Piala Dunia!