in my melancholic situation
– Chapter, komputer nomor 15, 08:07 –
Pagi ini Jatinangor digelayuti mendung. Suasana yang melankolik mulai menyergap diriku. Datang terlalu pagi dari rumah, perjalanan di bus kulalui sambil membaca buku Gie yang sebentar lagi akan kutamatkan. Tertidur mulai dari gerbang tol Moch. Toha hingga depan IKOPIN. Bangun tidur terasa segar, walau agak lemas.
Sebuah pesan di Friendster semakin memekatkan kemelankolikan suasana pagi ini. Dari seorang sahabat yang telah cukup lama tidak berkomunikasi denganku. Sebentar lagi ia berulang tahun (24 Mei kan, Wan?). Rasanya dalam kemelankolikan suasana, kerinduan akan beragam kenangan dengan cepat juga membuncah ke luar. Aku merindukan semuanya. Sahabat-sahabat lama yang namanya masih terukir di hati, peristiwa-peristiwa yang dilalui bersama, obrolan-obrolan yang penuh tawa pun air mata… aku rindu itu semua.
Kampus mulai menjemukan. Atau mungkin aku yang terlalu terbawa suasana? Hanya perasaan tertekan dari hari ke hari. Tertekan yang sulit untuk didefinisikan. Wajah-wajah yang kukenal kian asing, menjelma topeng-topeng takberarti. Obrolan-obrolan kian takterarah dan takbermakna. Aku bosan. Ingin sejenak menghela napas, keluar dari segala kepenatan yang menghimpit.
Tentang perasaan, tentang cinta, aku sudah muak. Frustrated. Aku kian sadar bahwa aku memang telah sepenuhnya kehilangan. Kerinduan itu hanya aku yang merasa. Kepedulian itu hanya aku yang punya. Rasa membutuhkan itu hanya aku yang punya. Aku tidak dirindukan olehnya, pun tidak dipedulikan, pun tidak dibutuhkan. Betapa menyayangi seorang manusia yang mendapat tempat spesial di ruang hati menjadi sesuatu yang begitu menyakitkan.
Mungkin aku memang belum sepenuhnya menguasai ilmu Ikhlas seperti Fandi di film Kiamat Sudah Dekat. Padahal aku sudah tahu, manusia yang selalu dirindukan, dipedulikan, dan dibutuhkannya sangat lebih baik dariku. Jika kami disandingkan, aku bukan apa-apa. Ah, aku semakin muak membicarakan ini semua. Lebih baik kulupakan saja.
Kemelankolikan suasana pagi ini kian bertambah saat alunan lagu Gie dari Okta saat kubuka situs http://www.milesfilms.com/gie/index_flash.htm. Sebuah situs yang sangat menarik. Memang setelah aku menonton film Gie dan membaca buku tentangnya, banyak inspirasi yang kudapatkan. Aku semakin tertarik dengan sejarah bangsa Indonesia, padahal sebelumnya aku apatis sama sekali. Terutama saat ini, tepatnya Sewindu Reformasi (21 Mei 1998-21 Mei 2006) pasca lengsernya Soeharto (semoga beliau lekas dilepaskan dari derita fisiknya, entah itu meninggal atau sembuh total, terserah Allah SWT saja).
Aku ingin menulis seperti Soe Hok Gie. Catatan harian yang tidak akan memalukan jika dibaca oleh orang lain, juga bermanfaat jika aku mati suatu saat nanti. Rasanya malu juga jika aku membandingkan catatan-catatan harianku selama ini dengan catatan harian Gie. Tidak bermakna. Kurang meresapi hidup, kurang peka terhadap dunia di luar diri, terlalu introvert dan hanya membicarakan konflik batin pribadi saja. Aku ingin berubah, akan kucoba.
Terlalu banyak yang ingin kutulis. Untuk saat ini cukuplah. Kemelankolisan sifatku kian terasah dengan kemelankolikan suasana seperti ini. Aku ingin mengasingkan diri ke suatu tempat. Entah gunung, pantai, atau hutan. Sendirian, atau bersama sahabat-sahabat lama. Mungkin akan sangat menyenangkan. Sebentar lagi, tepatnya awal Juni hingga pertengahan, Ujian Akhir Semester akan dimulai. Setelah itu, libur panjang. Semoga saja aku bisa meluangkan waktu untuk mereka yang pernah mesra di hati.