di balik pertemuan dan momen itu
gw selalu menunggu pertemuanpertemuan yang tidak terduga. di momenmomen seperti itulah gw bisa berubah, bukan orangorang yang gw temui itu, tapi pertemuan itu sendiri yang mempengaruhi gw. andai tidak pernah ada pertemuanpertemuan yang tidak terduga itu, atau andai selalu ada pertemuanpertemuan tidak terduga itu. kadang gw selalu ingat pertemuan gw dengan orangorang, ketimbang nama orangorang itu. kenapa sebagian dari kita tidak pernah sadar kalau memuja pertemuan yang tidak terduga adalah lebih penting ketimbang memuja orangorang yang kita temui?
karena itu gw selalu menunggu pertemuan yang tidak terduga selanjutnya, dan berusaha mencari lagi pertemuan yang hampir gw lupa. dan bukan orangorang itu.
(from: http://missriboet.livejournal.com/?skip=20, lagi-lagi blog gembi)
– Chapter, lagi-lagi komputer no.3, 07:30 (harusnya udah brangkat ke kampus, nih) –
Oci bener-bener ga nyangka seorang Gembi yang di kampus super nyentrik dan ga ada tampang perenung ini (malah oci sempet memvonis kau itu salah satu bagian dari kaum hedon, Mbi, ternyata oci salah…), ternyata bisa melahirkan tulisan-tulisan yang buat oci takjub dan berkata: "Hey, lo juga merenungkan hal-hal yang suka gue renungin, Mbi!". Suer, untuk selanjutnya, tiap oci ke warnet, pasti bakal bacain post-post yang manusia ini tulis di jurnalnya. Salut 4 u, Mbi
Pangdam Jatinangor, Kamis, 4 Mei 2005: gerimis turun, jam 4 sore kurang 10 menit…
…pertemuanpertemuan yang tidak terduga. di momenmomen seperti itulah gw bisa berubah, bukan orangorang yang gw temui itu, tapi pertemuan itu sendiri yang mempengaruhi gw…
Seandainya oci ga cepet-cepet jalan kaki ujan-ujanan dari kampus ke kosan (sampe lumayan basah kuyup) demi untuk ngambil payung karena khawatir di Bandung ujan bakal turun lebat, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Seandainya oci ga nunggu sampe jam setengah 4 demi untuk salat Ashar di kosan, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Seandainya oci ga nyempetin diri mampir ke tempat fotokopi untuk beli 30 lembar kertas A4 buat nge-print tugas yang bejibun di rumah, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Seandainya oci mutusin buat ga naik bus yang udah nyaris penuh itu dan nunggu bus yang kosong lainnya, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Tapi, itulah yang terjadi.
Semuanya.
Termasuk pertemuan itu.
Oci sama dia papasan di pintu masuk bus bagian depan, tetapi dia memilih untuk terus berjalan ke pintu masuk bus bagian belakang, dan masuk dari sana. Oci hanya menghela napas, dan masuk dari pintu bagian depan. Tempat yang kosong ada di belakang supir dan di samping supir. Oci milih yang ada di belakang supir yang masih cukup buat 2 orang.
Ternyata tempat duduknya rusak dan sama sekali ga nyaman buat diduduki. Pantes aja dikosongin ^_^. Lalu dia muncul dari arah belakang sebelum oci sempet melakukan sesuatu. Dia melirik sekilas ke sebelah oci yang kosong dan bisa buat duduk seorang lagi, tapi (seperti yang sudah diduga) dia lebih milih duduk di samping supir dan membelakangi kaca depan bus.
Oci yang sama sekali ga nyaman dengan tempat oci duduk, langsung aja pindah ke samping dia, menghadap ke pintu. Lalu (seperti yang sudah diduga juga), dia menggeser tubuhnya agak menjauh. Tiba-tiba aja sesuatu yang takterduga terjadi…
Perempuan yang duduk di kursi samping pintu berdiri dan pindah ke tempat oci sebelumnya (tempat duduk yang rusak itu). Alhasil, oci pun pindah ke tempat perempuan itu, dan jadilah oci duduk di sana, TEPAT di hadapannya.
Oci menghela napas lagi.
Mata ini diam-diam menelusuri keseluruhan sosok itu. Jadi ngomong sendiri dalam hati, takjub, lose control of myself… Subhanallah, begitu elok kau tercipta (lagu PADI banget!)… Sepatu kets warna hitam-putih yang kotor terkena tanah becek, celana kain yang dilipat sebatas mata kaki, tas pinggang mungil di pinggang, map plastik putih berisi tumpukan kertas di tangannya, kemeja biru kotak-kotak dibalut jaket hitam, jenggot yang tumbuh liar di dagu dan bawah bibir, dan kumis yang jarang. Oci sedikit heran saat melihat wajahnya yang terlihat lelah, matanya yang merah dan terkantuk-kantuk memohon untuk dipejamkan, juga rambutnya yang dibelah tengah, kusut takberaturan. Kasihan…
Tiba-tiba oci tersadar dan memalingkan pandangan sambil mengucap istigfar berkali-kali. Hindari zina mata… hindari zina mata… Pandangan oci pun menyapu jalanan dan langit. Fiuh, untunglah ujan udah berhenti, walau udara semakin dingin.
Walau begitu, mata ini selalu saja mencuri pandang ke arahnya. Kadang oci tersenyum kecil saat melihatnya benar-benar tertidur. Begitu damai, begitu lelap. Sesekali ia terbangun dan memandang berkeliling, lalu tertidur lagi. Lucunya…
Itulah dia, salah satu aktivis DKM di Fakultas Sastra yang takkukenal dan ia pun takmengenalku. Beda jurusan, sama angkatan, dan sudah berkali-kali satu bus. Pertemuan-pertemuan itu, momen-momen itu, entah kenapa selalu ada dalam ingatan, dan selesai terjadinya segala pertemuan dan momen itu, selalu ada yang berubah dalam diri oci. Ketenangan merasuk, beban diri terangkat, dan senyum pun terkembang untuk kembali semangat menjalani hidup. Padahal ia sama sekali tidak melakukan apa-apa. Ya, hanya duduk dalam diam, tanpa kata.
Oci cuma tau sebatas nama dan jurusannya, dan bahwa oci sama sekali belum pernah melihatnya tersenyum karena wajahnya selalu terlihat datar-datar saja. Itu saja. Tapi oci selalu terjebak dalam pertemuan-pertemuan takterduga dengannya, di mana pun. Dalam hujan, di kampus, di jalan, di masjid, di bus… dan… entahlah, oci selalu menunggu pertemuan-pertemuan takterduga selanjutnya.
Sekali lagi seorang malaikat menyaru manusia melintas dalam kehidupanku, dan aku tergugu, menyadari kutakingin ia beranjak…