Indonesia Kembali Berduka
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Turut berduka cita atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudaraku di Yogyakarta & Jawa Tengah…
Semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita semua…
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Turut berduka cita atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudaraku di Yogyakarta & Jawa Tengah…
Semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita semua…
Dijamin tidak akan rugi jika membuka situs-situs di bawah ini:
http://yulian.firdaus.or.id/arsip-catatan/
http://www.milesfilms.com/gie/index_flash.htm
Selamat mencoba
!
When you lose someone you care for
It’s like lightning from above
It’s like falling from a mountain
When you lose someone you love
There’s something there inside you
That’s never cut so deep
Time will be the healer
Good memories your’s to keep
Deep in your heart love will find you
And words gentle words will be your home
Deep in your heart love will find you
And love you will never be alone
So be easy on yourself now
With every step we learn
He’s always there to guide us
Which ever way we turn
When you lose someone you care for
It’s like lightning from above
It’s like falling from a mountain
When you lose someone you love
We’re not ready for this
No one ever can prepare…
Gie
Sampaikanlah pada ibuku
Aku pulang terlambat waktu
Ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku
Sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas semua
keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia
malam yang dingin…
(Chorus)Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki malam
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki keadilan
Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu
Yang sebenarnya
Hakikat manusia
(back to Chorus)
Akan aku telusuri
Jalan yang setapak ini
Semoga kutemukan jawaban
(by: Okta dan Eross)
– Chapter, komputer nomor 15, 08:07 –
Pagi ini Jatinangor digelayuti mendung. Suasana yang melankolik mulai menyergap diriku. Datang terlalu pagi dari rumah, perjalanan di bus kulalui sambil membaca buku Gie yang sebentar lagi akan kutamatkan. Tertidur mulai dari gerbang tol Moch. Toha hingga depan IKOPIN. Bangun tidur terasa segar, walau agak lemas.
Sebuah pesan di Friendster semakin memekatkan kemelankolikan suasana pagi ini. Dari seorang sahabat yang telah cukup lama tidak berkomunikasi denganku. Sebentar lagi ia berulang tahun (24 Mei kan, Wan?). Rasanya dalam kemelankolikan suasana, kerinduan akan beragam kenangan dengan cepat juga membuncah ke luar. Aku merindukan semuanya. Sahabat-sahabat lama yang namanya masih terukir di hati, peristiwa-peristiwa yang dilalui bersama, obrolan-obrolan yang penuh tawa pun air mata… aku rindu itu semua.
Kampus mulai menjemukan. Atau mungkin aku yang terlalu terbawa suasana? Hanya perasaan tertekan dari hari ke hari. Tertekan yang sulit untuk didefinisikan. Wajah-wajah yang kukenal kian asing, menjelma topeng-topeng takberarti. Obrolan-obrolan kian takterarah dan takbermakna. Aku bosan. Ingin sejenak menghela napas, keluar dari segala kepenatan yang menghimpit.
Tentang perasaan, tentang cinta, aku sudah muak. Frustrated. Aku kian sadar bahwa aku memang telah sepenuhnya kehilangan. Kerinduan itu hanya aku yang merasa. Kepedulian itu hanya aku yang punya. Rasa membutuhkan itu hanya aku yang punya. Aku tidak dirindukan olehnya, pun tidak dipedulikan, pun tidak dibutuhkan. Betapa menyayangi seorang manusia yang mendapat tempat spesial di ruang hati menjadi sesuatu yang begitu menyakitkan.
Mungkin aku memang belum sepenuhnya menguasai ilmu Ikhlas seperti Fandi di film Kiamat Sudah Dekat. Padahal aku sudah tahu, manusia yang selalu dirindukan, dipedulikan, dan dibutuhkannya sangat lebih baik dariku. Jika kami disandingkan, aku bukan apa-apa. Ah, aku semakin muak membicarakan ini semua. Lebih baik kulupakan saja.
Kemelankolikan suasana pagi ini kian bertambah saat alunan lagu Gie dari Okta saat kubuka situs http://www.milesfilms.com/gie/index_flash.htm. Sebuah situs yang sangat menarik. Memang setelah aku menonton film Gie dan membaca buku tentangnya, banyak inspirasi yang kudapatkan. Aku semakin tertarik dengan sejarah bangsa Indonesia, padahal sebelumnya aku apatis sama sekali. Terutama saat ini, tepatnya Sewindu Reformasi (21 Mei 1998-21 Mei 2006) pasca lengsernya Soeharto (semoga beliau lekas dilepaskan dari derita fisiknya, entah itu meninggal atau sembuh total, terserah Allah SWT saja).
Aku ingin menulis seperti Soe Hok Gie. Catatan harian yang tidak akan memalukan jika dibaca oleh orang lain, juga bermanfaat jika aku mati suatu saat nanti. Rasanya malu juga jika aku membandingkan catatan-catatan harianku selama ini dengan catatan harian Gie. Tidak bermakna. Kurang meresapi hidup, kurang peka terhadap dunia di luar diri, terlalu introvert dan hanya membicarakan konflik batin pribadi saja. Aku ingin berubah, akan kucoba.
Terlalu banyak yang ingin kutulis. Untuk saat ini cukuplah. Kemelankolisan sifatku kian terasah dengan kemelankolikan suasana seperti ini. Aku ingin mengasingkan diri ke suatu tempat. Entah gunung, pantai, atau hutan. Sendirian, atau bersama sahabat-sahabat lama. Mungkin akan sangat menyenangkan. Sebentar lagi, tepatnya awal Juni hingga pertengahan, Ujian Akhir Semester akan dimulai. Setelah itu, libur panjang. Semoga saja aku bisa meluangkan waktu untuk mereka yang pernah mesra di hati.
– Chapter, komputer nomor 7, diiringi lagu-lagu anime nu teu kaharti –
Kehadiran seorang manusia mungil di rumah ini sejak 3 minggu-an yang lalu seakan mengubah segalanya. Jadi lebih baik, lebih rame, lebih adem, lebih ngebetahin, ah.. Alya-ku sayang, keponakanku yang lucu…
Tiada hari tanpa tangisan Alya yang nyaring. Tiada hari tanpa lagu nyanyian "ayun aming" terdengar dari mulut tiap orang di rumah. Rasanya bener-bener menyenangkan. Oci jadi sering bolak-balik ke Bandung gara-gara ga sabar pengen gendong Alya lama-lama, nyubitin pipinya, nyiumin wajahnya, megang jari-jarinya yang mungkin ukurannya seperenam kali lebih kecil dari tangan oci, belai-belai kepalanya yang baru aja diplontos (hiii… Alya kayak tuyul… :P). Pokonya tiap kali nyampe rumah pasti langsung masuk ke kamar A Gugun sama Teh Nina, nemuin si bayi nan lucu Alya.
Kehadiran Alya seakan jadi penyejuk. Bener-bener anugerah dari Allah deh. Abis Alya lahir, A Gugun jadi rajin salat, lebih dewasa, lebih kalem (padahal sebelumnya sih, duh, suka nyebelin banget kakakku yang satu ini ^_^). Kadang suka terharu juga kalo ngeliatin A Gugun yang lagi gendong Alya, ngajak ngobrol Alya, nyiumin Alya, nyanyiin lagu "ayun aming", gantiin popok Alya, nyuciin popok Alya (yang tiap hari numpuk!!). Sebegitu gembiranya A Gugun jadi seorang ayah…
Naluri keibuan oci juga selalu muncul tiap kali gendong Alya. Rasanya gimanaaa gitu, sulit untuk didefinisikan. Yang jelas, jadi suka ngebayangin gimana rasanya kalo oci hamil, trus ngelahirin bayi. Jadi seorang ibu… Wuaaah, pastinya oci bakal bahagiaaaaa banget! Apalagi kalo yang jadi ayahnya bener-bener manusia yang oci sayangin banget… wuih, pasti kebahagiaan yang sempurna deh. (pasti ada nih yang ngomel: "dasar Oci! Merid Oriented-na mulai deui.. ck.. ck.." Huahahahaha… bae ah nu penting geulis :P)
Nikah. Punya anak. Hidup bahagya.
Impian biasa dari seorang OCI yang juga manusia biasa (hehehe, ceritanya ngajuin pledoi alias pembelaan diri gitu deh :P).
Rasanya ga sabar nunggu saat itu tiba.
Tapi buat sekarang, oci pengen belajar ngurus Alya dulu. Persiapan gitu. Ah… Alya-ku sayang, keponakanku yang lucu… Bener-bener ngegemesin! Ga sabar pengen ke Bandung lagi, nyonyo’o Alya.
Buruan baca:
CATATAN SEORANG DEMONSTRAN: SOE HOK GIE
Penerbit LP3ES Indonesia, Jakarta, cetakan ke-8, 2005
KEREEEEEEN!!!
Inspiratif banget, lho!
– oci baru baca 62 halaman dari 385 halaman yang ada –
gw selalu menunggu pertemuanpertemuan yang tidak terduga. di momenmomen seperti itulah gw bisa berubah, bukan orangorang yang gw temui itu, tapi pertemuan itu sendiri yang mempengaruhi gw. andai tidak pernah ada pertemuanpertemuan yang tidak terduga itu, atau andai selalu ada pertemuanpertemuan tidak terduga itu. kadang gw selalu ingat pertemuan gw dengan orangorang, ketimbang nama orangorang itu. kenapa sebagian dari kita tidak pernah sadar kalau memuja pertemuan yang tidak terduga adalah lebih penting ketimbang memuja orangorang yang kita temui?
karena itu gw selalu menunggu pertemuan yang tidak terduga selanjutnya, dan berusaha mencari lagi pertemuan yang hampir gw lupa. dan bukan orangorang itu.
(from: http://missriboet.livejournal.com/?skip=20, lagi-lagi blog gembi)
– Chapter, lagi-lagi komputer no.3, 07:30 (harusnya udah brangkat ke kampus, nih) –
Oci bener-bener ga nyangka seorang Gembi yang di kampus super nyentrik dan ga ada tampang perenung ini (malah oci sempet memvonis kau itu salah satu bagian dari kaum hedon, Mbi, ternyata oci salah…), ternyata bisa melahirkan tulisan-tulisan yang buat oci takjub dan berkata: "Hey, lo juga merenungkan hal-hal yang suka gue renungin, Mbi!". Suer, untuk selanjutnya, tiap oci ke warnet, pasti bakal bacain post-post yang manusia ini tulis di jurnalnya. Salut 4 u, Mbi
Pangdam Jatinangor, Kamis, 4 Mei 2005: gerimis turun, jam 4 sore kurang 10 menit…
…pertemuanpertemuan yang tidak terduga. di momenmomen seperti itulah gw bisa berubah, bukan orangorang yang gw temui itu, tapi pertemuan itu sendiri yang mempengaruhi gw…
Seandainya oci ga cepet-cepet jalan kaki ujan-ujanan dari kampus ke kosan (sampe lumayan basah kuyup) demi untuk ngambil payung karena khawatir di Bandung ujan bakal turun lebat, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Seandainya oci ga nunggu sampe jam setengah 4 demi untuk salat Ashar di kosan, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Seandainya oci ga nyempetin diri mampir ke tempat fotokopi untuk beli 30 lembar kertas A4 buat nge-print tugas yang bejibun di rumah, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Seandainya oci mutusin buat ga naik bus yang udah nyaris penuh itu dan nunggu bus yang kosong lainnya, mungkin ga akan terjadi pertemuan itu.
Tapi, itulah yang terjadi.
Semuanya.
Termasuk pertemuan itu.
Oci sama dia papasan di pintu masuk bus bagian depan, tetapi dia memilih untuk terus berjalan ke pintu masuk bus bagian belakang, dan masuk dari sana. Oci hanya menghela napas, dan masuk dari pintu bagian depan. Tempat yang kosong ada di belakang supir dan di samping supir. Oci milih yang ada di belakang supir yang masih cukup buat 2 orang.
Ternyata tempat duduknya rusak dan sama sekali ga nyaman buat diduduki. Pantes aja dikosongin ^_^. Lalu dia muncul dari arah belakang sebelum oci sempet melakukan sesuatu. Dia melirik sekilas ke sebelah oci yang kosong dan bisa buat duduk seorang lagi, tapi (seperti yang sudah diduga) dia lebih milih duduk di samping supir dan membelakangi kaca depan bus.
Oci yang sama sekali ga nyaman dengan tempat oci duduk, langsung aja pindah ke samping dia, menghadap ke pintu. Lalu (seperti yang sudah diduga juga), dia menggeser tubuhnya agak menjauh. Tiba-tiba aja sesuatu yang takterduga terjadi…
Perempuan yang duduk di kursi samping pintu berdiri dan pindah ke tempat oci sebelumnya (tempat duduk yang rusak itu). Alhasil, oci pun pindah ke tempat perempuan itu, dan jadilah oci duduk di sana, TEPAT di hadapannya.
Oci menghela napas lagi.
Mata ini diam-diam menelusuri keseluruhan sosok itu. Jadi ngomong sendiri dalam hati, takjub, lose control of myself… Subhanallah, begitu elok kau tercipta (lagu PADI banget!)… Sepatu kets warna hitam-putih yang kotor terkena tanah becek, celana kain yang dilipat sebatas mata kaki, tas pinggang mungil di pinggang, map plastik putih berisi tumpukan kertas di tangannya, kemeja biru kotak-kotak dibalut jaket hitam, jenggot yang tumbuh liar di dagu dan bawah bibir, dan kumis yang jarang. Oci sedikit heran saat melihat wajahnya yang terlihat lelah, matanya yang merah dan terkantuk-kantuk memohon untuk dipejamkan, juga rambutnya yang dibelah tengah, kusut takberaturan. Kasihan…
Tiba-tiba oci tersadar dan memalingkan pandangan sambil mengucap istigfar berkali-kali. Hindari zina mata… hindari zina mata… Pandangan oci pun menyapu jalanan dan langit. Fiuh, untunglah ujan udah berhenti, walau udara semakin dingin.
Walau begitu, mata ini selalu saja mencuri pandang ke arahnya. Kadang oci tersenyum kecil saat melihatnya benar-benar tertidur. Begitu damai, begitu lelap. Sesekali ia terbangun dan memandang berkeliling, lalu tertidur lagi. Lucunya…
Itulah dia, salah satu aktivis DKM di Fakultas Sastra yang takkukenal dan ia pun takmengenalku. Beda jurusan, sama angkatan, dan sudah berkali-kali satu bus. Pertemuan-pertemuan itu, momen-momen itu, entah kenapa selalu ada dalam ingatan, dan selesai terjadinya segala pertemuan dan momen itu, selalu ada yang berubah dalam diri oci. Ketenangan merasuk, beban diri terangkat, dan senyum pun terkembang untuk kembali semangat menjalani hidup. Padahal ia sama sekali tidak melakukan apa-apa. Ya, hanya duduk dalam diam, tanpa kata.
Oci cuma tau sebatas nama dan jurusannya, dan bahwa oci sama sekali belum pernah melihatnya tersenyum karena wajahnya selalu terlihat datar-datar saja. Itu saja. Tapi oci selalu terjebak dalam pertemuan-pertemuan takterduga dengannya, di mana pun. Dalam hujan, di kampus, di jalan, di masjid, di bus… dan… entahlah, oci selalu menunggu pertemuan-pertemuan takterduga selanjutnya.
Sekali lagi seorang malaikat menyaru manusia melintas dalam kehidupanku, dan aku tergugu, menyadari kutakingin ia beranjak…
Ga terlalu jelas yah? Maklum, oci emang masih bingung kalo nyelipin gambar di blog (ada yang bisa ngajarin? plis…). Pokonya aslinya gambar ini so amazing lah! Lalu oci mulai baca-baca tulisan-tulisan gembi di dalamnya. Senior jurusanku angkatan 2001 yang nama lengkapnya Gembira Putra Agam yang nyentriknya tiada tertandingi ini ternyata tulisannya ga kalah nyentrik alias kagak oci mengerti ^_^. Tapi pas buka-buka arsip lama, eh… kebuka post yang oci tulis di atas tadi. Well, ternyata ga hanya oci seorang yang pernah merasakan perasaan itu. Setidaknya, gembi merasakan itu taun lalu, and me?