coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

sekelumit tentang film GIE (kalo ini oci yang nulis)

Filed under: nice film! — cherry-calosa at 10:05 pm on Wednesday, April 26, 2006

Donna Donna Donna
oleh Joan Baez

On a wagon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer’s night.

(Chorus)
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

"Stop complaining!“ said the farmer,
"Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“

(back to Chorus)

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

(back to Chorus)

Wuaaaah… salah satu lagu favorit oci nih! Pas di film GIE, rasanya gimanaaaa gitu pas denger Sita nyanyiin lagu ini, terenyuh banget… bener-bener pas lah dinyanyiin sama Sita.

Oke, seperti yang oci tulis di judul, ini cuma sekelumit tentang film GIE. Oci bukan mo ngeresensi ato ngomentarin soal Gie sebagai aktivis mahasiswa yang mati muda ato soal demonstrasi mahasiswa ato ya apalah seperti yang yulian tulis di post sebelumnya. Cuma mo ngebahas dua buah adegan yang diselipin di sela-sela kegiatan Gie sebagai seorang aktivis. Adegan Gie sama 2 orang wanita, yup, yang udah nonton pasti udah tau, itu lho yang bareng Sita sama Wulan Guritno (sayang oci lupa nama mereka di film ini apa ^_^ ).

Ada yang unik dari pengemasan skenario dua adegan ini. Coba perhatiin deh dialog antara Gie-Sita sama Gie-Wulan. Mirip-mirip gitu lho!

Adegan Gie-Sita (duduk di sofa sebelahan):

<Gie> Kamu ngerasa rikuh ga kalo lagi berduaan sama saya gini?

<Sita> Hah? (kebingungan plus grogi)

<Gie> Perasaan kamu gimana?

<Sita> Kamu ngomong apa sih?

<Gie> Iya. Perasaan kamu gimana? Apa kamu ngerasa lagi bareng temen, kakak, atau… pacar?

<Sita> ….

<Gie> (menggeser duduk lebih dekat lagi ke Sita)

Abis gitu, Sita tiba-tiba berdiri dan malah ngajak langsung pergi nonton pertunjukan dengan alasan temen2 mereka udah pada nunggu.

Adegan Gie-Wulan (duduk di sofa juga, sebelahan juga):

<Wulan> Gie, kamu rikuh ga?

<Gie> Hah? (kebingungan plus grogi)

<Wulan> Perasaan kamu gimana?

<Gie> Kamu ngomong apa sih?

<Wulan> (menggeser duduk lebih dekat lagi ke Gie)

Abis gitu, beda sih sama adegan Gie-Sita, abis gitu Wulan yang kayaknya tipe wanita agresif ^_^ yah.. gitu lah.. nonton aja ya..

Lucu ih, mirip gitu. Hahaha… Gatau emang sengaja ato gimana tuh. Yang jelas lumayan bikin senyum juga, apalagi liat ekspresi Nicholas Saputra sebagai Gie yang.. ampun deh.. polos banget gitu..

Sebenernya oci paling ga suka kalo ada adegan cinta diselipin di antara film-film serius, tapi di GIE ini beda. Malah bikin ketawa, plus mengasihani diri sendiri, karena oci ga bisa seterbuka Gie saat ngomong kalimat-kalimat itu ke Sita ato sejujur Wulan saat ngomong kalimat-kalimat itu ke Gie. Harusnya dalam "adegan hidup" oci juga bisa kayak gitu. Oke, ini rancangan skenarionya:

Adegan Oci - Aa (ga duduk sebelahan, tapi hadapan cukup jauh):

<Oci> Kamu ngerasa rikuh ga kalo lagi berduaan sama saya gini?

<Aa> Hah? (kebingungan doang, ga ngerti)

<Oci> Perasaan kamu gimana?

<Aa> Kamu ngomong apa sih?

<Oci> Iya. Perasaan kamu gimana? Apa kamu ngerasa lagi bareng temen, adik, atau… pacar?

<Aa> …. (ga tau mo ngomong apa)

<Oci> (menghela napas panjang dan menenangkan diri) Saya nanya kayak gini bukan apa-apa. Saya cuma pengen tau, sebenernya kamu nganggep hubungan yang kita jalani ini hubungan seperti apa? Bener kamu cuma nganggep saya adik? Ga lebih? Ga kayak dulu lagi? Ga kayak 2 tahun yang lalu lagi?

<Aa> Serius, kamu ngomong apa sih, Ci?

<Oci> Apa kamu ga rikuh berduaan sama saya gini, sementara di sekitar kita mata-mata itu menilai, menyimpulkan, menyusun cerita versi mereka sendiri tentang kita? Inget, kamu itu aktivis DKM, pementor pula. Jangan sampe ini jadi fitnah…

<Aa> Terus kamu maunya apa?

Abis gitu, oci omongin deh apa yang oci tulis di post "untuk dia yang telah menginfiltrasi otak ini". Lalu abis gitu, percakapan diakhiri oleh sebuah keputusan di antara opsi ini:

1. menjauh, jaga jarak, cukup hubungan senior-junior biasa

2. bikin komitmen tentang masa depan (if he feels the same with me…)

3. oci bakal menawarkan diri untuk dikhitbah olehnya (kalo dia ternyata kebingungan gatau mesti ngapain)

Because I have 2 decide something, sooner or later! We need each other, but not in right time and right way. Oci HARUS melaksanakan skenario ini!

Tapi… seperti yang oci tulis di Shout Out:

"saat mata ini takmampu lagi memandangnya… saat bibir ini takmampu lagi mengucap kata… saat hati ini tak mampu lagi kujaga… aku hanya mampu tertunduk diam dalam kebingungan…"

Bagaimana ini? Ada yang bisa membantuku? Help! Masalahnya, kami bertemu hampir setiap hari dan aku malah menghindar dan terus menghindar (duh, maafin De ya, A… jadi kaya yang berantem ato musuhan gini) dan ini benar-benar mengganggu pikiranku…

Duh, naha jadi curhat begini? Padahal tadi teh ngomongin GIE nyaah bae lah, bingung euy…

Can anybody help me??

resensi film GIE (bukan oci yang nulis :P)

Filed under: nice film! — cherry-calosa at 9:02 pm on Wednesday, April 26, 2006

Selasa, 19 Juli 2005M
13 Jumadil Akhir 1426H

Setelah menulis tentang Soe Hok Gie akhir tahun lalu sebagai rasa hormat saya atas buah pikirannya, akhirnya saya menonton juga film Gie yang dibuat oleh Miles Production. To the point saja, apa yang tertulis dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” selain buku “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”, “Zaman Peralihan” dan ulasan “John Maxwell: Soe Hok Gie - Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani” tidaklah cukup dipadatkan dalam sebuah film berdurasi dua jam.

Mari kita bicara hal teknis dulu. Film ini diproduksi ke dalam layar lebar seluloid dengan tata suara yang tak yakin terdengar stereo. Saya tak tahu apakah memang sulit melakukan mixing 4 kanal suara (surround, center dan subwoofer bisa virtual dari filtering kiri/kanan)? Kecuali pada saat syuting dan editing input suara memang hanya sedikit, jadi sayang kualitas teater dengan tata suara DTS tidak terpakai.

Okelah, mungkin tata suara surround terlalu canggih, saya lihat sistem stereonya saja, di banyak adegan sering terjadi tumpang tindih, narasi bertabrakan dengan backsound hingga saya sulit mendengar, terkadang backsound volumenya terlalu kencang dibandingkan narasi atau dialog. Saya tidak tahu ini kesalahan di tata suara teater ataukah memang dari seluloidnya seperti itu.

Ah, ngejelekkin mulu! Film ini dikemas dengan setting yang baik, meskipun saya tidak tahu persis seperti apa kondisi jalan, rumah, pakaian, budaya dan tata bahasa tahun 1950-an hingga akhir 1960-an. Hanya para orang tua kita yang bisa mengkonfirmasikan apakah benar Jakarta pada tahun itu kata-kata ‘gue’ dan ‘lu’ sudah sangat membudaya? Apakah benar tahun tersebut sudah ada jam tangan bulat tipis yang dipakai Gie? Orang tua saya dulu tidak tinggal di Jakarta, jadi saya tidak ada tempat bertanya. Eh, anak Betawi yang bonyoknya lama di Jakarta kasih tahu gue ye!

Diawali dengan narasi Gie yang datar seperti seseorang bercerita kepada anak kecil mulai mendeskripsikan siapa itu Soe Hok Gie, pikirannya, keluarganya dan lingkungannya. Dialog dan adegan perlahan-lahan ditunjukkan untuk menampilkan character development Gie dari sejak SMP hingga masuk Kolese Kanisius. Satu yang tak saya suka adalah pergantian adegan ke adegan diselingi layar hitam selama beberapa detik, buat saya ini cukup mengganggu. Dalam menonton film di bioskop mata dan telinga saya tak butuh istirahat, atau menghela nafas sejenak.

Memasuki Fakultas Sastra UI karakter Gie semakin ditunjukkan penuh konflik, ketidakpuasannya terhadap pemerintahan, keprihatinannya kepada masyarakat, pandangannya kepada perempuan, bahkan kepada pola dan budaya kemahasiswaan di kampusnya. Gie memang tak mau menjadi top leader di kampusnya namun ia punya dukungan penuh kepada sahabatnya Herman Lantang, yang selain aktif bersama di kemahasiswaan juga bersama-sama membentuk organisasi hobi yang waktu itu bisa dikatakan gila di jaman revolusi, yaitu naik gunung.

Jika anda membaca Catatan Seorang Demonstran tentu anda berharap adegan-adegan demonstrasi yang dimotori oleh Gie dan sahabat-sahabatnya, bahkan cukup detil dituliskan dalam catatan hariannya. Memang tidak banyak ditunjukkan dan saya sempat berpikir bahwa film ini akan menyodorkan bagaimana proses sebuah demonstrasi mahasiswa disiapkan secara teknis dan nonteknisnya, saya tak berharap ada adegan demonstrasi kolosal yang mahal. Di sisi lain kegiatan hobinya naik gunung kurang ditunjukkan, sebab saya ingin tahu pada tahun itu seperti apa mereka menyiapkan peralatan naik gunung yang tentunya tak mudah didapatkan seperti sekarang, dan hal ini ada penjelasannya di buku CSD.

Di film ini cakrawala lebar hanya bisa anda dapatkan dalam setting di gunung, termasuk di padang Edelweiss (padang Suryakencana kalau tidak salah namanya) Gunung Gede dan puncak triangulasi Gunung Pangrango (saya pernah duduk juga di puncak Pangrango tersebut dan tidur di kelilingi bunga Edelweiss yang berlimpah), sedangkan di kota hanyalah sudut-sudut kamera sempit namun cukup tertata dalam menggambarkan suasana kota lama Jakarta.

Satu yang kurang dari film ini adalah Gie pernah melakukan perjalanan ke luar negeri yaitu ke Amerika dan ke Australia di tahun 1968, setahun sebelum Mapala UI menyiapkan pendakian ke puncak tertinggi di pulau Jawa yaitu gunung Semeru, namun tidak ada deskripsi atau adegan tentang hal ini, memang cukup mengecewakan, namun bisa dimengerti jika alasannya adalah sulit dan mahalnya pengambilan gambar. Salah satu catatannya selama ke Australia adalah piringan hitam Joan Baez-nya ditahan di bandara. Di waktu sebelumnya Sita menyanyikan lagu Donna Donna Donna dengan apik, bahkan cukup menyayat hati mendengar kembali lagu tersebut di film Gie. Lagu “Donna Donna Donna” dulu saya dengarkan sambil membaca buku CSD, yang cukup mempengaruhi saya menyukai lagu-lagu Joan Baez yang lain, terutama lagu Diamond and Rust (1975).

Sumber: http://yulian.firdaus.or.id/2005/07/19/gie/

saat konjungtiva itu bereaksi

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:05 pm on Monday, April 24, 2006

Ada yang pernah nanya gini ke oci:

Mengapa manusia menangis? Mengapa manusia harus mengeluarkan air matanya ketika bersedih? Lalu, mengapa setelah menangis, manusia membuang air matanya? Salahkah menangis itu? Tindakan pengecutkah menangis itu? Atau justru menangis itu merupakan bukti bahwa kita adalah orang yang tegar, yang menerima apa adanya kenyataan hidup ini?

Saat konjungtiva itu bereaksi, mengalirkan dua buah garis sejajar ke kedua pipi, itulah saat kita menangis. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat oci tersenyum gitu aja. Entah kenapa. Mungkin karena oci udah tau apa yang akan oci kasih untuk dijadikan jawaban.

Jadi inget lagu Dewa yang AIR MATA:

"Menangislah… bila harus menangis… karena kita semua manusia… Manusia pasti terluka… Manusia pasti menangis… dan manusia pun bisa mengambil hikmah…"

"Nangis itu ga dosa, Putri."

Itu petikan kalimat yang diucapin Rheo, salah satu tokoh utama cerpen buatan oci pas SMA, buat ultah sahabatku uti (yang nama lengkapnya Putri, pokona mah spesial cerpen itu dibuat untukmu :P). Bener kan? Nangis itu ga dosa, kecuali nih, nangis buaya tentu aja, yang tujuannya ga baik dan ga terpuji (eta mah jelas-jelas dosa!).

Jadi, kalo mo nangis, ya nangis aja, kagak usah ditahan-tahan, jangan sok tegar, padahal begitu rapuh di dalam.

Ya, menurut oci, orang (mo perempuan kek, laki-laki kek, kata oci mah ga ada tuh istilah BOY’S DON’T CRY!) itu kalo maksain ga mau nangis cuma biar keliatan tegar justru orang yang paling pengecut yang ada di dunia ini. Munafik, kalo boleh dibilang. Kagak mau nerima kenyataan bahwa emang dia sesungguhnya emang lemah, malah maksain diri kuat. Euleuh euleh, karunya teuing…

Justru orang yang tegar itu orang yang ga malu buat nangis saat menyadari dirinya ga kuat lagi menahan semua beban yang ada. Tegar sekaligus jujur, sama diri sendiri. Toh air mata emang diciptain-Nya buat menangis kan?

Nangis itu sesuatu yang harusnya dinikmatin, bukan sesuatu yang dinilai memalukan. Apalagi kalo nangis pas sholat, nangisin dosa, nangisin betapa diri ini kurang beramal, kurang bermanfaat bagi orang lain dan agama. Air mata tumpah ruah di hadapan-Nya, dan kita ngerasa diri kita kecil, ga berarti di hadapan-Nya, nangis aja sampe semua yang ngeganjel di hati ini keluar. Insya Allah, selese sholat, hati jadi tenang, bahkan kalo ditambah baca Qur’an pake emosi (sampe nangis lagi…), wah, subhanallah… benar-benar bakal jadi motivator terampuh buat kita menjalani hidup ini setelahnya.

Cobain deh.

Jadi, nangis?

SIAPA TAKUT, kan?

Hehehe…

NB:

Ngomongin nangis nih, ampir aja lupa, tepat pukul 10.30 WIB di hari Kamis, 20 April 2006 kemarin, keluarga oci pada nangis semua gara-gara mendengar suara tangisan. Haiya, alhamdulillah, allahuakbar, subhanallah… keponakanku yang kedua dengan nama Regina Auliya Putri (Alya) terlahir normal dan sehat wal’afiat… kebukti dengan suara tangisannya yang membahana pas nongol ke dunia setelah Teh Nina berjuang selama 16 jam "pembukaan" (istilah buat yang mo ngelahirin). Air mata dan senyuman penuh kegembiraan pun memenuhi seisi rumah, hingga detik ini.

Moga kau tumbuh dalam lindungan-Nya dan kelak jadi akhwat yang sholehah pujaan para mujahid, ya keponakanku sayang… amiiiin…

serendipitious???

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 7:04 pm on Monday, April 17, 2006

Hidupku adalah jalinan serendipitious yang takkunjung berakhir.

Pasca nonton pilem Serendipity (penasaran sama cassiopea yang disebut-sebut sama uti :p). Kalo oci lebih tertarik sama jalan ceritanya yang sesuai sama judulnya ’serendipity’, aneh tapi jadinya bikin mikir, benarkah hidup seperti itu?

Ada kejadian yang cukup mengherankan sampe bikin tertawa miris dan bilang: "KO BISA??". Terjadi Sabtu, 15 April 2006 lalu. Siangnya, oci sama beberapa sahabat di kampus (Leny, Mira, Garnis, Frengky) secara ga direncanakan makan empek-empek di depan Rental VCD Le Cinema di belokan yang mo ke Pajawan. Kami ngobrol banyak hal, terutama yang paling rame didiskusiin yakni:

1. Soal makanan-makanan modern kayak burger, D’Crepes, spageti, pizza, dan lain-lain yang sama-sama ga disukain sama orang-orang tua di keluarga kami (bapak, ibu, kakek, nenek, atow anggota keluarga lain yang udah berumur tua pokonya mah). Lucu juga, orang-orang tua di keluarga kami sama-sama lebih suka martabak daripada pizza, roti biasa dibanding burger, mi instan dibanding spageti. Katanya lidah mereka ga cocok sama makanan-makanan zaman sekarang, hehehe… ada-ada aja…

2. Soal pernikahan (wah ini sih topik yang kuusulkan :p) lintas suku bangsa, terutama antara Sunda-Jawa, Sunda-Batak, Sunda-Padang, Batak-Padang (berhubung para kaum Hawa yang kumpul Sunda semua dan Frengky adalah warga suku Batak marga Silaban). Cukup seru juga. Masing-masing mengungkapkan opini yang berbeda terhadap penuturan Frengky soal adat nikah yang lumayan ribet kalo Sunda atau Padang nikah sama Batak. Kalo soal Sunda-Jawa, oci yang lumayan tau, karena oci sendiri kan blasteran JaNda alias Jawa-Sunda gitu, hehe… yah, cukup taulah dari cerita orang tua oci.

3. Tiba-tiba topik berputar ke sifat-sifat orang yang khas distereotipkan dari masing-masing suku bangsa. Kayak misalnya kalo kaum Adam Jawa mah suka merantau dan giat bekerja, kalo kaum Adam Sunda sebaliknya. Sempat debat juga di sini. Lucu aja, masa bisa ada stereotip kaya gitu? Kalo kata oci sih itu tergantung dari karakter tiap-tiap manusia. Ada juga kan kaum Adam Jawa yang males? Oci juga kenal kaum Adam Sunda yang malah lebih suka merantau dan sangat giat bekerja. Aya-aya wae kolot anu masih percaya mitos siga kitu ^_^

Yah, itulah di antaranya yang kami bicarakan. Lalu… oci pun pulang ke Bandung. Malamnya, waktu lagi di kamar ngetik cerpen di kompi, Teh Nina (ipar oci) manggil gitu nyuruh oci kluar. Teteh ipar oci yang bentar lagi melahirkan ini (itungan hari lagi!) baru pulang jalan-jalan sama A Gugun. Gataunya pas keluar…

Tadaaa…

Sekotak Pizza Hut tersaji di meja!

Oci yang emang suka ga bisa kontrol kalo soal makanan, hehehe… langsung we nyerbu dan ngambil sepotong gede. Nyam-nyam… Lalu muncul ibu, dan komentar (aslinya mah di bahasa Sunda) :

"Idih, yang kayak gitu mah ga enak, mending martabak…"

Nah lho, oci langsung berhenti menggigit pizza sejenak, teringat percakapan tadi siang. Waktu itu oci cuma senyum sendiri, lalu nerusin makan. Eh gataunya beberapa lama kemudian, pas kami berempat (oci, ibu, A Gugun dan Teteh) kumpul di ruang keluarga, ibu tiba-tiba menuturkan sejarah beliau bisa ketemu dan nikah sama bapak yang notabene orang Jawa. Ibu ngomongin smuanya, mulai dari sifat bapak yang suka merantau dan giat bekerja sampe pas nikahannya.

Takjub, oci sampe melongo.

Ajaib amat ya, baru tadi siang diomongin, malemnya ada peristiwa-peristiwa ini. Ck… ck… ck… Allahu akbar!!!

Bukan hanya itu. Kemarin siang, Leny tiba-tiba nyeletuk:

"Ci, sekarang kamu jarang liat Si Ijo lagi ya. Padahal tadi siang saya ketemu dia di perpustakaan lho,"

Keterangan:

Si Ijo adalah julukan buat salah satu kenalan oci di Sastra, ikhwan nu solehna subhanallah dan bageurna teu katulungan (hanjakal jayus pisan ^_^). Beliau salah satu teman yang bijaksana dan selalu mengundang tawa. Oci emang belakangan ini (sejak awal taun lah) jaraaaaaang banget ngeliat dia di kampus (emang beda jurusan sih).

Ngedenger Leny ngomong gitu, oci cuma ngangguk. Iya juga sih, emang Si Ijo jarang kuliah kayaknya mah.

Lalu…

Tadi pagi oci satu bus sama Si Ijo! Serendipitious… Allahu akbar!

Oci seneng sama kata-kata yang diucapin sama Dean Kansky, temen dari tokoh utama pilem ini:

"Hidup bukan serangkaian ketaksengajaan tanpa arti, tapi peristiwa-peristiwa yang tertata indah sesuai rencana. Bila kita hidup selaras dengan semesta, kita punya nasib berkekuatan yang disebut masyarakat kuno ‘fathom’. Yang kini kita sebut takdir."

Lucu. Pengen ketawa aja. Ternyata hidup ini memang sangat perlu untuk dimaknai, menurutku.

I See That Man, Alone In Darkness

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 6:11 pm on Monday, April 10, 2006

Aku melihat lelaki itu, masih ringkih melangkah

Duh, aku ingin menjadi tongkatnya

Menopang lemah tubuhnya

Hingga nanti matahari taklagi bertemu hari…

(Bandung - 10 April 2006)

Saat Hati Mereka Kelelahan

Filed under: my lovely friends — cherry-calosa at 6:06 pm on Monday, April 10, 2006

"Lagi puyeng, banyak urusan, banyak masalah, afwan…"

Mmm… keluhan yang membuat oci ikut stres, padahal bukan oci yang ngalamin. Entah kenapa oci selalu seperti ini, mengkhawatirkan orang-orang di sekitar ci yang oci sayangin banget, yang udah kayak sodara sendiri. Entah kenapa suka jadi ikut sedih saat ngeliat mereka nyaris hopeless coz udah ga tahan sama semua masalah yang menimpa mereka. Kepenatan itu, kelelahan itu, auranya meresap ke hati oci juga, jadinya… oci jadi ikut penat, ikut lelah juga…

Dua orang yang termasuk orang-orang yang oci sayangi banget di dunia ini lagi dilanda kepenatan, kelelahan, berada di titik balik maksimum. Ya, titik balik maksimum. Dari titik paling puncak malah menurun ke dasar keputusasaan, malah salah satunya ada yang mau terjun bebas. Hiiiy… jangan sampe ya, sahabat-sahabatku sayang…

Sayangnya, oci ga bisa melakukan apa pun buat meringankan semua rasa penat dan lelah itu. Oci masih suka takut, ikut campurnya oci ke dalam masalah mereka bukannya mengatasi masalah itu sendiri, malah tambah ngebebanin, malah ngerepotin, ngeganggu, dan sejenisnya (duh… belom dilakuin aja udah su’udzon duluan ya… abis gimana atuh da ^_^). Jadi… oci cuma bisa bantu satu hal:

Bedoa buat kalian bedua.

Moga dikuatkan aja…

Cepatlah kembali seperti kalian yang seperti sedia kala yah… hiks…

Never give up, my brothers :) !!!