sebuah dongeng sebelum tidur
Ada seorang gadis yang begitu mencintai Matahari. Ia selalu memandang Matahari walau cahaya Matahari yang menyilaukan nyaris membutakan matanya.
Saat ia menjulurkan kedua tangannya ke arah Matahari, ia sadar ia tidak dapat menggapai Matahari.
Lalu ia mencoba membuat sayap agar ia bisa terbang tinggi mendekati Matahari.
Ia menyusun sayap dari helai-helai Kasih Sayang, Kesabaran, Keikhlasan, Tekad, Pengertian, Harapan, dan Percaya Diri.
Saat sayap itu selesai, akhirnya ia pun bisa terbang.
Tinggi.
Makin tinggi.
Kian meninggi.
Namun, semakin dekat dengan Matahari, helai-helai sayapnya rontok terbakar oleh panas Matahari yang menggila.
Rontok berguguran, satu demi satu, sampai habis. Ia pun terjerembab ke bumi, terluka.
Ia coba sekali lagi membuat sayap, lalu ia terbang lagi, dan terbakar lagi. Lalu ia jatuh, dan kembali terluka.
Ia coba lagi, lagi, dan lagi.
Terus menerus tanpa henti, entah sampai kapan.
Mungkin hingga ia tak sanggup lagi.
Hanya sepenggal doa yang selalu dipanjatkannya:
"Semoga suatu saat Matahari itu mendinginkan diri, agar sayapku tidak terbakar untuk kesekian kalinya, dan aku dapat menjejakkan kedua kakiku di atasnya untuk dapat lebih mengenal keseluruhan dirinya lebih dekat lagi…"
Akankah terjadi?
Berdoalah semoga dongeng ini berakhir dengan kalimat: "…and finally, they live happily ever after…"
***