coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

File Itu Bernama Kenangan.Doc

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 10:09 pm on Sunday, January 22, 2006

Bila
dikonversikan dalam satuan gigabyte, berapa besar ukuran sebuah file bernama
kenangan tentang seseorang?
Kenangan. Pemicunya bisa saja sederhana: satu
kata, sebuah cerita, sepotong lagu, secuplik adegan film yang sedang tayang di
televisi, dering telepon yang mengingatkan kita bahwa seseorang di sana selalu
merindukan kita, atau pemicu yang tak terlihat, mengawang, menebarkan kerinduan
akan yang telah silam. Kenangan, terkadang begitu saja hadir menyela tanpa
butuh undangan.

(Puing,
hlm.3)

Seperti
setitik tinta yang menitik di atas selembar kain, meresap di jalinan benang,
membentuk noda yang semakin melebar memanjang meluas. Satu perihal bisa
merembet meletupkan kenangan-kenangan lain secara acak atau berurutan, teratur,
rapi, atau melompat-lompat.

(Puing,
hlm.4)

Kenangan
adalah kumpulan layang-layang dengan tali yang tertambat pada tenunan otak.
Sekarang padamu tali itu terlepas ikatannya. Namun aku berjanji akan meraihnya
sebelum mereka terbang lebih jauh, menangkapnya untuk dibawa kembali padamu.
Bukankah hidup juga terangkai oleh kenangan?

(Puing,
hlm.245)

Aku
menyadari betul bahwa tidak mungkin memaksa masa lalu kembali hadir seperti
pertama kali dia tercipta. Kita hanya bisa menikmatinya melalui kenangan.
Penggalan kisah-kisah yang mungkin hanya garis besarnya saja yang kita ingat.
Ada beberapa detil yang aku ingat. Meski beberapa di antaranya aku buat-buat.
Senyummu. Cara berjalanmu, caramu berbicara. Ya, itu semua aku ingat.

(Puing, hlm.272)

 

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 9:52 pm on Sunday, January 22, 2006

PUING (Sebuah Novel
Kolaboratif tentang Hidup, Mati, dan Hidup Setelah Mati)

Penyunting: Bondan Winarno

Pengarang:   Anna Budiastuti (Lola)

   Arief
Hamdani (Maulana)

         Bondan
Winarno

  Gredika
Noor Hanes (Gre)

Violeta Narcissus (Ole)
 

  Irvan
Sjavari

       Priatna
Ahmad Budiman (Pika Ambon)

  Suzana
Widiastuti (Bayik)

           Suzana
Hadjarati (Anna Hadj)

Penerbit:   The BeBoP Publishing

       Bogor:
Februari 2005

honestly

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 9:40 pm on Sunday, January 22, 2006

duh
engkau yang selalu terjaga

yang tak
hendak kehilangan waktu barang sejenak

yang tak
hendak menepiskan rindu barang sekejap

engkau
selalu terbang bersama angin

merengkuh
segenap ruang tanpa sisa

mengayun
setiap dahan dari seluruh pepohonan

engkau selalu
tumbuh dan semakin menjulang

semakin
kokoh, tegar, dan perkasa

duh
engkau yang selalu terjaga

yang tak
hendak tidur barang sejenak

yang tak
hendak jatuh barang sekejap

duh
engkau yang selalu berbicara dengan segenap alam raya

lalu
bersama-sama mengisi masa

aku
merindumu…

merindumu…

sungguh

(EPISENTRUM)

…dan aku pun tersenyum ke arahnya…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:44 pm on Monday, January 9, 2006

27 Februari 2002

Aku sebenarnya sudah berniat untuk pulang, tetapi sapaan Nidia mengurungkannya.

"Kang Yoga, Ci!"

"Apanya?"

"Kang Yoga! Ta’lim di I-2! Di kelas aku! Sini…sini…!"

Aku mengikutinya dengan penuh keingintahuan. Yah, Nidi. Trus knapa kamu ada di luar? Ga ikut ta’lim?

Nidia mengajakku mengintip kelasnya dari  luar jendela kaca. Sosok Kang Yoga begitu jelas terlihat. Ia dengan penuh percaya diri tersenyum di depan teman-teman Nidia yang duduk menghadapnya. Sekilas Kang Yoga melirik ke luar, tepat ke tempat aku dan Nidia mengintip. Secepat kilat aku menyeret Nidia menjauh dari sana.

"Nid, bukannya bilang dari tadi, Ci kan bisa masuk ikut dita’limin Kang Yoga…" bisikku dengan nada memelas.

"Sori deh. Tapi bukannya kamu juga sering ngabur kalo ada ta’lim, Ci? Hehehe…"

"Ya itu mah beda. Sekarang kan yang ngasih ta’lim Kang Yoga."

"Emang apa bedanya?"

Aku terdiam. Yaaah…apa ya bedanya? Hm…

"Ci, mo kemana kita?"

"Oya, kesana yuk, jadi bisa liat Kang Yoga ngasih ta’lim tanpa harus ketahuan orangnya!"

Aku mengajak Nidia menaiki tangga menuju lantai 2 gedung yang berseberangan dengan gedung kelas kami. Tiba di sana, aku menelusuri pagar tembok mencari tempat yang tepat untuk mengamati Kang Yoga dari atas. Rimbun dedaunan menghalangi pandanganku, tetapi pada akhirnya kutemukan juga posisi yang tepat untuk bersandar.

"Trus kita ngapain di sini, Ci?"

"Ya gini. Nyender, diem. Kalo Ci sih cuma mo ngeliatin Kang Yoga aja. Pengen tau aja gimana gaya dia kalo lagi ta’lim."

"Lah terus aku?"

"Terserahmu lah, hehehe…"

Lalu Nidia mengikuti jejakku, ikut bersender ke pagar tembok. Mataku melewati celah-celah dedaunan, melewati kaca jendela kelas I-2, dan tepat tertuju pada Kang Yoga, yang terlihat begitu semangat menyampaikan ta’limnya. Kira-kira apa ya tema ta’lim Kang Yoga?

Aku menghela napas panjang. Sebenernya Ci ngapain ya? Emang apa istimewanya tu orang?

Aku memang sepenuhnya tidak mengerti. Semakin hari, jika aku melihatnya, aku merasa damai…Seolah aku lupa awal dari semua ini. Mulanya aku kan hanya kagum pada suaranya, hehehe…

Aku masih di sana, diam. Lalu aku pun tersenyum ke arahnya. Ck…ck…Kang Yoga…Kang Yoga…

***

precious thing

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:23 pm on Monday, January 9, 2006

Duhai engkau…

Sambut aku dengan lantunan syukurmu

Biasi aku dengan mulianya akhlakmu

Sirami aku dengan sejuknya tausiyahmu

Lindungi aku dengan tulusnya doamu

Temani aku dengan ghiroh jihadmu

Hibur aku dengan gema dzikirmu

Karena hanya itu yang kurindu

Seperti dulu…

< Aurasinai >

…lalu dia tersenyum padaku…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:19 pm on Monday, January 9, 2006

31 Desember 2001

Aku bukanlah manusia yang memiliki rasa kepercayaan terhadap diri sendiri. Selama ini aku selalu tidak memiliki keyakinan terhadap kemampuan pribadi. Minder adalah menu sehari-hari. Masuk ke sekolah ini semakin mempertebal rasa minder dalam diriku. Aku merasa tidak punya kemampuan apa-apa dan juga tidak dapat menandingi orang-orang yang ada di sekitarku, yang terlihat begitu jenius dan hebat.

Sepenuhnya aku tidak mengerti alasan teman-teman memilihku menjadi tokoh utama drama kelompok yang ditugaskan oleh Bu Zulma, guru bahasa Indonesia, kepada kami. Namun, kepercayaan mereka semua terhadapku bahwa aku akan mampu melakukannya ternyata mampu mengalirkan secercah semangat dalam diri.

Hari ini, sepulang sekolah, aku dan teman-temanku berlatih drama di satu kelas yang terletak di gedung tempat kelas Kang Yoga berada. Salah satu kelas di lantai 2. Aku cukup menikmati latihan kali ini. Teman-teman selalu menyemangati dan membantuku agar bisa mendalami peranku sebaik mungkin.

Tidak terasa hari mulai beranjak senja. Aku mengingatkan teman-teman untuk mengakhiri latihan, karena siapa tahu pintu keluar dari gedung telah dikunci oleh penjaga sekolah. Akhirnya, kami pun menuruni tangga sambil tetap melatih dialog yang tertulis di naskah drama. Aku berjalan paling depan, sehingga orang yang pertama kali sampai di pintu keluar adalah aku. Tanpa berprasangka apa-apa aku menarik gerendel pintu. Tapi…

"Hey, kok ngga bisa dibuka sih?" seruku kaget saat tanganku mencoba membuka pintu.

"Masa?"

"Kok bisa?"

Teman-teman di belakangku panik. Bodohnya, tidak satu pun dari mereka yang mencoba membuktikan ucapanku. Suasana panik mulai menyergap. Mereka berteriak-teriak riuh mencoba memanggil penjaga sekolah. Aku mengelilingkan pandangan dengan penuh kegelisahan, berharap akan ada dewa penolong yang sanggup membantuku dan teman-teman.

Tapi hari sudah terlalu sore. Sekolah sepi sekali. Aku mulai dirayapi cemas teramat sangat. Duh, masa nginep di sini sih? Tidaaaaak…!

Dan mataku menangkap seseorang yang sedang berjalan sambil menggiring sepedanya. Hah, sepeda? Sepeda? Aku menahan napas. Survey membuktikan…yup, that is him!

"Yoga! Kang Yoga!"

Tanpa dapat kukontrol, teriakan itu sudah keluar dari mulutku dan tidak bisa ditarik lagi. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan saat ia menoleh. Oh no! Suci ngapain sih??? Aku mengintip lewat celah-celah jariku, dan kulihat sosok itu mendekat dengan pandangan mata penuh tanda tanya. Kang Yoga, jangan kesini, pliiiis…

Tapi doaku tidak terkabul. Kang Yoga semakin mendekat dan…jreeeeng…ia sudah berdiri tepat di hadapanku.

"Ada apa?"

Eh, ngomong ya? Kang Yoga yang ngomong? Ngomong sama siapa? Sama Suci? Aku tergagap tidak karuan. Untunglah teman-temanku membantuku menjawab pertanyaan itu.

"Ini, Kang, pintunya digembok. Bisa tolong panggilin bapak penjaga sekolah? Ngambil kunci…"

Kulihat Kang Yoga mengerutkan kening. Mulutnya sudah terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tiba-tiba saja bapak penjaga sekolah muncul dan berdiri di sebelahnya!

"Aya naon ieu teh ribut-ribut?" tanya si bapak dengan bahasa Sunda yang fasih.

Bapak itu memeriksa gerendel pintu dan menariknya dengan mudah. Eh…? Kok…?

"Aya naon ieu teh?" ia bertanya lagi.

Aku shock. Pun teman-temanku. Suasana hening sesaat. Aku bergantian memandangi pintu, memandangi bapak penjaga sekolah, dan Kang Yoga.

Ups…

Lalu dia tersenyum padaku, menyenyumi kebodohanku.

Rasanya aku ingin berlari sekencang-kencangnya dan menjauh dari tempat itu. Menjauh dari senyuman Kang Yoga yang sepertinya refleksi dari tawanya yang ditahan.

Hahaha…pintu sialan!

***

…ia adalah mentari kelam yang menyapa hidupku…

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 6:50 pm on Monday, January 9, 2006

04 Oktober 2004

"Oya, baru buat puisi nih semalem. Buat De."

Lalu ia berlalu, menyisakan tanya. Aku melirik deretan huruf-huruf yang indah tertulis di atas secarik kertas organizer, yang diberikannya padaku. Leny mengajakku segera meninggalkan kampus. Kertas itu masih kupegang erat, dan sambil melangkahkan kaki, aku membacanya perlahan-lahan.

03-10-04

Rumah miring yang dingin -"Gestak" - 10.30PM

"…Lalu ini hanya bayang

yang tercantum dalam goresan kata!"

Kumulai dengan Basmallah,

semoga coretan tinta pena ini tak salah!

Jika Tuhan menitipkanku sebuah cahaya,

dapatkah aku menjaganya?

Sementara di luar sana…

Tetarian angin selalu mengancam,

Buih-buih kebencian selalu tertanam,

kepala-kepala manusia gampang terpenggal,

parahnya lagi malam selalu kelam!

Dapatkahku Ya Tuhan?

Sedangkan aku hanya memiliki…

dua tangan dan

satu hati,

parahnya lagi, aku memelihara seekor iblis

yang manja melecutkan ekornya!

Mungkinkahku….?

Entahlah…?

Mungkin kaubisa bantu aku?

____ Muhammad Lazuardi____

[none]

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 12:33 am on Wednesday, January 4, 2006

…mengetik apa saja yang mau kuketik. tak satupun bermakna. yang ada hanya kata-kata tanpa arti. seolah sari-sari pikiran tidak tersisa lagi. yang ada hanya hasil lamunan tanpa arah…

Simple and Complicated

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 12:26 am on Wednesday, January 4, 2006

Kalo disodori pilihan ini, mana yang lebih baik untuk dipilih:

Jadi a simple person in a complicated life

atau

Jadi a complicated person in a simple life?

A Song For My Guardian AngeL

Filed under: Music — cherry-calosa at 12:20 am on Wednesday, January 4, 2006

And I’d give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow
You’re the closest to heaven that I’ll ever be
And I don’t want to go home right now

Images_1
And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
Cause sooner or later it’s over
I just don’t want to miss you tonight

And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

Jkhh Kjukghjg Jkhkghjg
And you can’t fight the tears that ain’t coming
Or the moment of truth in your lies

And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

When everything seems like the movies
Yeah you bleed just to know your alive


Ssasdasdf
I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

I just want you to know who I am
I just want you to know who I am
I just want you to know who I am
I just want you to know who I am…

(Iris_Goo Goo Dolls : OST. City of Angels)

« Previous Page