31 Desember 2001
Aku bukanlah manusia yang memiliki rasa kepercayaan terhadap diri sendiri. Selama ini aku selalu tidak memiliki keyakinan terhadap kemampuan pribadi. Minder adalah menu sehari-hari. Masuk ke sekolah ini semakin mempertebal rasa minder dalam diriku. Aku merasa tidak punya kemampuan apa-apa dan juga tidak dapat menandingi orang-orang yang ada di sekitarku, yang terlihat begitu jenius dan hebat.
Sepenuhnya aku tidak mengerti alasan teman-teman memilihku menjadi tokoh utama drama kelompok yang ditugaskan oleh Bu Zulma, guru bahasa Indonesia, kepada kami. Namun, kepercayaan mereka semua terhadapku bahwa aku akan mampu melakukannya ternyata mampu mengalirkan secercah semangat dalam diri.
Hari ini, sepulang sekolah, aku dan teman-temanku berlatih drama di satu kelas yang terletak di gedung tempat kelas Kang Yoga berada. Salah satu kelas di lantai 2. Aku cukup menikmati latihan kali ini. Teman-teman selalu menyemangati dan membantuku agar bisa mendalami peranku sebaik mungkin.
Tidak terasa hari mulai beranjak senja. Aku mengingatkan teman-teman untuk mengakhiri latihan, karena siapa tahu pintu keluar dari gedung telah dikunci oleh penjaga sekolah. Akhirnya, kami pun menuruni tangga sambil tetap melatih dialog yang tertulis di naskah drama. Aku berjalan paling depan, sehingga orang yang pertama kali sampai di pintu keluar adalah aku. Tanpa berprasangka apa-apa aku menarik gerendel pintu. Tapi…
"Hey, kok ngga bisa dibuka sih?" seruku kaget saat tanganku mencoba membuka pintu.
"Masa?"
"Kok bisa?"
Teman-teman di belakangku panik. Bodohnya, tidak satu pun dari mereka yang mencoba membuktikan ucapanku. Suasana panik mulai menyergap. Mereka berteriak-teriak riuh mencoba memanggil penjaga sekolah. Aku mengelilingkan pandangan dengan penuh kegelisahan, berharap akan ada dewa penolong yang sanggup membantuku dan teman-teman.
Tapi hari sudah terlalu sore. Sekolah sepi sekali. Aku mulai dirayapi cemas teramat sangat. Duh, masa nginep di sini sih? Tidaaaaak…!
Dan mataku menangkap seseorang yang sedang berjalan sambil menggiring sepedanya. Hah, sepeda? Sepeda? Aku menahan napas. Survey membuktikan…yup, that is him!
"Yoga! Kang Yoga!"
Tanpa dapat kukontrol, teriakan itu sudah keluar dari mulutku dan tidak bisa ditarik lagi. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan saat ia menoleh. Oh no! Suci ngapain sih??? Aku mengintip lewat celah-celah jariku, dan kulihat sosok itu mendekat dengan pandangan mata penuh tanda tanya. Kang Yoga, jangan kesini, pliiiis…
Tapi doaku tidak terkabul. Kang Yoga semakin mendekat dan…jreeeeng…ia sudah berdiri tepat di hadapanku.
"Ada apa?"
Eh, ngomong ya? Kang Yoga yang ngomong? Ngomong sama siapa? Sama Suci? Aku tergagap tidak karuan. Untunglah teman-temanku membantuku menjawab pertanyaan itu.
"Ini, Kang, pintunya digembok. Bisa tolong panggilin bapak penjaga sekolah? Ngambil kunci…"
Kulihat Kang Yoga mengerutkan kening. Mulutnya sudah terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tiba-tiba saja bapak penjaga sekolah muncul dan berdiri di sebelahnya!
"Aya naon ieu teh ribut-ribut?" tanya si bapak dengan bahasa Sunda yang fasih.
Bapak itu memeriksa gerendel pintu dan menariknya dengan mudah. Eh…? Kok…?
"Aya naon ieu teh?" ia bertanya lagi.
Aku shock. Pun teman-temanku. Suasana hening sesaat. Aku bergantian memandangi pintu, memandangi bapak penjaga sekolah, dan Kang Yoga.
Ups…
Lalu dia tersenyum padaku, menyenyumi kebodohanku.
Rasanya aku ingin berlari sekencang-kencangnya dan menjauh dari tempat itu. Menjauh dari senyuman Kang Yoga yang sepertinya refleksi dari tawanya yang ditahan.
Hahaha…pintu sialan!
***