nice poem!
23 Januari 2006
Yoga, Friday, May 27, 2005 :
Cobalah rasai angin
dan awan ’kan menjaring angkuhmu
Cobalah renungi air
kau ’kan terbuai indahnya bijak
Cobalah selami hati
niscaya kau tahu saatnya teriak dan diam
Api harus terus menyala…
namun tak musti selalu berkobar
Hidup tak butuh pahlawan
Hidup hanya butuh pejuang
Demi Alloh…
Aku ingin terus begini
Menyikapi hidup dengan dewasa
dan bening hati
Sedikit tulisan yang tertera di atas secarik kertas ini tidak sengaja kutemukan terselip di antara kertas-kertas dan gambar-gambar guntingan majalah. Aku mengambilnya dan menyisihkannya. Hm…sedikit tulisan yang kucuri tanpa izin penulisnya saat itu. Nice poem! Begitu bermakna. Kubaca berulang-ulang dan meresapi apa yang hendak disampaikan Yoga. Mataku berhenti pada tiga larik terakhir: //Aku ingin terus begini/ Menyikapi hidup dengan dewasa/ dan bening hati//. Ingatanku melayang membiaskan memori lalu…
”Yoga kenal seorang akhwat, Ci. Dia udah Yoga anggap sahabat Yoga. Yoga seneng kalo ngobrol sama dia, tapi cuma itu aja. Ga lebih. Lalu Yoga minjemin dia buku. Ga ada maksud apa-apa. Eh, pas dia balikin buku itu, ada kertas gitu nyelip. Tau ga tulisannya apa? Suer Yoga kaget banget! Dia nulis: ’Aku ingin terus begini/ Menyikapi cinta/ Dengan bening hati’. Yoga gamau itu sampai terulang lagi. Jadi rada trauma juga. Tapi ya mo gimana lagi…ini udah takdir Alloh. Walaupun, abis nerima kertas itu, Yoga jadi ngerasa ga enak sama dia…”
Hmm…sinkronisitas yang indah, benar bukan?
Terkadang kita memang tidak menyadari, atau enggan menyadari, atau pura-pura tidak menyadari, atau juga sadar sesadar-sadarnya, bahwa keberadaan seseorang dalam hidup kita memberikan inspirasi dalam diri kita. Apa pun itu. Entah sifatnya, sikapnya, atau kata-kata yang keluar dari mulutnya, atau tulisan yang tertoreh dari tangannya.
Ya, seperti yang selalu aku rasakan terhadapmu, Yoga.
***