coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

“Lago Trasimeno” at Italia

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:49 pm on Tuesday, January 24, 2006

Trasimeno2

Trasimeno_2

Sebuah danau

Hamparan sajadah biru

Adalah ketenangan tiada tara

Angin dan kabut, barisan pohon cemara

Bukit-bukit menggeraikan rambutnya

Di bawah langit merah padam

Wajah danau

Tak terusik bunyi serangga

Asap kelabu mengalun dari sebuah tungku

Seperti kerudung yang membelit senja

Di depanku, hamparan air menjadi sajadah

Antara biru dan hijau tua

Sebuah balkon, meja dan kursi

Adalah percakapan yang sunyi:

Puisi selalu hadir di antara kesendirian

Serta kecemasanku. Puisi menggenang bagai air

Puisi mengambang di udara beku

Puisi menuntunku dekat padamu

Wajah tanpa wujud

Bayang-bayang gaib yang menjelma

Di keremangan. Aku sembahyang

Melewati dermaga, perahu-perahu

Melewati masa lalu yang jauh

Melewati sejumlah tempat dan kesepian

Kulihat bukit-bukit bersujud

Pohon-pohon, tiang-tiang listrik

Angin dan kabut yang menebal dan bergulung

Semuanya bersujud padamu. Sebuah danau

Hamparan sajadah bagi semesta

Adalah ketenangan yang sempurna

1992

(Trasimeno, Acep Zamzam Noor)

julukan itu pun bermula

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:25 pm on Tuesday, January 24, 2006

16 Juli 2002

”Nid, nyadar nggak?”

”Apaan?”

”Ci gatau apa kamu juga mikirin hal yang sama.”

”Apaan sih?”

Aku menyodorkan majalah itu ke depan wajahnya. Di sana tercetak gambar salah satu grup musik yang mulai naik daun di blantika musik Indonesia.

”Jikustik? Emang kenapa?”

”Vokalisnya. Liat vokalisnya.”

”Pongky? Trus?”

”Kalo kata Suci dia mirip deh sama Pongky. Yah ga mirip-mirip banget sih, cuma rada-rada mirip aja.”

”Dia? Dia siapa?”

”Kang Yoga, Nid!”

”Ah masa sih?”

”Sok aja liatin geura.”

Nidia mencermati wajah Pongky dengan saksama selama beberapa saat, lalu kembali menoleh ke arahku.

”Iya juga sih, tapi cuma selintas doang.” 

”Iya kan? Kok bisa ya?”

”Iya, kok bisa?”

Kini aku dan Nidia sama-sama mencermati wajah Pongky. Tiba-tiba saja jemari Nidia berjentik keras.

”Ah, aku ada ide!”

”Apaan?”

”Gimana biar ga susah nyebutnya, kalo ngomongin Kang Yoga, kita sebut dia Pengki aja?”

”Hah? Jahat amat disebut Pengki! Jadi kebayang alat buat nyidukin sampah. Hiiy, ogah ah, jelek! Gamau gamau!”

”Yeee, ni anak. Pengki kan mirip sama Pongky. Karena ga terlalu mirip, dipelesetin deh jadi Pengki. Gimana bagus kan? Lebih singkat dan ga ada yang curiga, daripada nyebut nama aslinya hayo?”

Mulanya aku masih enggan, tetapi setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya bagus juga. Kalo Kang Yoga tau pasti ngambek, tapi kan dia ga bakal tau ini.

”Gimana?”

”Oke. Pengki. Lucunya, hehehe…”

***

and he laugh…laugh…laugh again!

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:22 pm on Tuesday, January 24, 2006

15 Juli 2002

Hari ini, berbagai macam lukisan dan gambar karya murid-murid sekolahku dipajang di depan Ruang Kepala Sekolah. Pulang sekolah, aku pun melihat-lihat dengan antusias. Bagus-bagus. Hebat! Namun, aku terkesiap kaget kala melihat sebuah gambar yang ikut dipajang di sana. Gambar batik dengan perpaduan warna merah muda dan biru muda yang tampak begitu sederhana. Hei, rasanya Suci kenal gambar ini deh…ng…nggak mungkin…ini kan…hah? GAK SALAH? Lalu aku lekas melihat papan nama si pembuat di bawahnya. KOK BISA SIH?

”Pras, sini!”

Eh? Aku menoleh. Ups, Kang Yoga dan Kang Pras menuju ke arah tempatku berdiri. Sesegera mungkin aku beranjak pergi, pura-pura melihat karya-karya yang lain, sambil memasang telinga.

Dari jarak yang kuanggap cukup aman, aku mulai mencuri-curi pandang ke arah keduanya. Kang Yoga tampak begitu antusias memandangi setiap karya. Lalu ia mulai melihat-lihat ke area gambar-gambar batik. Oh tidak, jangan kesana, Kang! Jangan liat yang ITU, pliiiiis! Tetapi aku hanya bisa berseru dalam hati sambil menggigit bibir bawahku. Kang Yoga sudah melihatnya dan mulai memandanginya dengan raut muka menilai. Rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Duh, maluuu…

”Pras, liat ini deh!”

”Apaan, Ga?”

Selanjutnya aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, karena mereka mengobrol sambil berbisik-bisik. Lalu aku melihat Kang Yoga mulai tertawa sambil menunjuk gambar itu berkali-kali. Tidak lama kemudian Kang Pras pun ikut tertawa. Oke, ternyata karyaKU ditertawakan…Tanpa sadar aku merengut sebal, tetapi tetap saja aku memperhatikan apa yang mereka lakukan selanjutnya. Kang Yoga menelusuri tiap detil gambarku dengan ujung jarinya, sambil tidak henti membisiki Kang Pras. Tampaknya komentar yang cukup tajam dan entah kapan akan berakhir.

Oke, cukup. Aku berbalik dan beranjak meninggalkan tempat itu menuju ke kantin. Oke, silakan berkomentar apa pun. Silakan menertawakan gambar itu sepuasnya. Silakan, silakan. Lagian, Suci juga ga nyangka Bu Dewi tega majang gambar itu di antara gambar-gambar lain yang jauuuuuuh lebih bagus dan berseni. Suci kira gambar itu dikumpul cuma buat Bu Dewi, gataunya….Aduh, Bu Dewi jahat banget! Gambar jelek yang Suci bikin kenapa dipajang juga sih, Bu? Jadinya diketawain gitu deh. Sama Kang Yoga pula…

Dan aku masih merengut saat duduk di bangku kantin, di antara teman-temanku.

***

dan buat aku tersenyum (part II)

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:18 pm on Tuesday, January 24, 2006

25 Juni 2002 (Part 2)

Lalu bel pulang pun berbunyi. Aku bergegas keluar kelas dan menjatuhkan diri di atas bangku di depan kelas. Beberapa teman sekelasku mengikuti jejakku. Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Fiuh, pelajaran yang cukup memusingkan akhirnya selesai juga! Aku mengedarkan pandangan ke arah taman dan kolam air mancur yang ada di hadapanku. Wah, rame banget! Kok ada banyak orang ngumpul sih? Aku mengerutkan kening keheranan. Beberapa orang murid laki-laki duduk bersama membentuk lingkaran di atas rumput. Aku mengenali satu-dua orang di antaranya. Anak DKM. Aku meluruskan punggung dan mencermati satu per satu sosok-sosok itu.

Lalu mataku terfokus pada satu sosok yang duduk agak menghadap ke arahku. Paling mencolok. Ya, seperti biasa, kemeja yang dipakainya yang menyebabkannya berbeda dari yang lain. Kemeja itu begitu putih bersih, putih yang benar-benar nyata putihnya. Aku jadi ingat bunyi slogan salah satu produk pemutih pakaian: ’Ibunya siapa yang pake SUNKLIN?’, pasti jawabannya adalah ibunya, hehehe…Heran, aku tidak habis pikir bagaimana kemejanya bisa seputih itu.

”Liatin siapa hayo?”

Sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh. Kepala botak. Senyuman khas yang tidak pernah sekali pun lenyap dari bibir. Si Jail Dani.

”Dani! Ngagetin aja ih!”

”Abis lucu aja ngeliat Suci ga peduliin sekitar. Dari tadi ngeliat ke sebelah sana terus. Hayo, liatin siapa? Dibilangin lho…”

”Dani ikutan DKM kan? Ga ikut ngumpul?”

”Oh ngga. Itu smua akang-akang kelas 2 aja. Ci, emang ngeliatin siapa sih? Serius amat.”

”Mau tau aja!”

Aku tersenyum misterius dan kembali memperhatikan si SUNKLIN, hehehe…Dani mencoba mengikuti arah tatapanku.

”Tau lah, Kang Yoga ya?”

Reaksiku tidak terkontrol. Aku melongo menatap Dani. Dan bodohnya, tanpa sadar aku mengucap:

”Kok tau?”

Sedetik kemudian aku menyesal telah mengucapkannya, karena Dani semakin cengengesan menggoda. O-ow.

”Duh, Dan, jangan bilang-bilang ya, pliiiiiis…”

”Ntar dibilangin deh. Saya kenal kok sama dia. Mau disalamin sekalian? Boleh, Ci, hehehe…”

Waduh, gawat nih!

”Dani, plis, plis, plis, jangan dong! Malu! Atuh lah Dan, da bageur….”

Aku memelas dengan sangat. Bisa gawat kalo Dani serius. Mau disimpen di mana muka Suci kalo ketemu Kang Yoga nanti?

Enya moal atuh, becanda lagi, Ci. Adeuh euy, Kang Yoga nih yeee…citcuiw!”

Aku merengut dengan muka memerah. Dani…Dani…ngagetin aja…Jangan sampe Kang Yoga tau kalo Suci nge-fans sama dia! Jangan sampe!

***

dan buat aku tersenyum (part I)

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:15 pm on Tuesday, January 24, 2006

25 Juni 2002 (Part 1)

…dan buat aku tersenyum, dengan canda tawamu, walaupun tuk sekejap…

Salah satu lagu favoritku, Buat Aku Tersenyum dari Sheila on 7. Pagi ini, angkot Kalapa-Ledeng yang kunaiki berhenti cukup lama saat lampu merah di perempatan BIP Jln. Merdeka. Seorang pengamen menghampiri angkot yang kunaiki, lalu mengucapkan salam sambil menaruh topinya di lantai angkot. Tidak lama kemudian terdengar suara genjrang-genjreng yang sumbang, dan ia pun mulai melantunkan lagu itu dengan gitar usangnya yang mungil. Kucermati dirinya baik-baik. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahunan, dengan penampilan yang amat kumal (sepertinya ia tidak hobi mandi), dan rambut yang acak-acakan. Namun, bukan itu yang menarik perhatianku. Suaranya itu…

…datanglah sayang, dan biarkan ku berbaring, di pelukanmu, walaupun tuk sejenak…wohuwo…woooo….

Aku setengah mati menahan tawaku. Duh, tahukah dia suaranya begitu fals? Nada-nada yang keluar dari mulutnya tidak beraturan, dan tidak ”masuk” ke dalam irama yang tercipta dari genjrang-genjreng gitarnya. Tetapi ia terlihat tidak peduli. Bahkan dengan sangat percaya diri dan penuh semangat ia terus saja melantunkan lagu itu. Raut mukanya pun tidak ketinggalan, karena terlihat begitu menghayati lagu yang dinyanyikannya. Hmm…I remember someone…

Angkot yang kunaiki memang tidak begitu penuh. Berhubung lagu yang dinyanyikannya kusukai (plus dia mengingatkanku pada Kang Yoga!), aku memberinya beberapa keping uang receh ratusan saat lampu hijau menyala dan ia menyodorkan topinya ke hadapanku. Sambil tersenyum, ia mengucapkan terima kasih. No problem, makasih juga udah ngingetin Suci ke Kang Yoga ya, De, hehehe…

Aku masih berusaha menahan tawaku. Dan ketika aku sudah duduk manis di dalam kelas, aku tertawa terbahak-bahak. Hwahahahahaha….Sampai-sampai teman-temanku yang sudah datang lebih dulu menghampiriku dan bertanya apa aku baik-baik saja.

***

…untuk kedua kali, aku tersenyum…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:12 pm on Tuesday, January 24, 2006

21 Juni 2002

Siang ini, Kang Yoga ta’lim di kelasku!

Sayangnya, aku terlambat masuk ke kelas. Pintu sudah ditutup, dan aku merasa malu jika harus membuka pintu itu dan dengan cuek masuk ke dalamnya (walaupun aku sangat ingin!). Kali ini aku bersama Dewi, teman sekelasku, yang juga kuceritai tentang Kang Yoga. Seperti yang telah kulakukan sebelumnya, aku bersandar di tempat yang sama, dan untuk yang kedua kalinya, aku tersenyum ke arahnya!

Kang Yoga, lihatlah fans-mu ini, hehehe…

***

this is what I call a perfect morning!

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:10 pm on Tuesday, January 24, 2006

02 Mei 2002

Hm…upacara bendera. Something boring, I always think. But I don’t think so at this moment. What a beautiful morning!!!

”Ci!”

Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku, tetapi fokus perhatianku tidak terganggu. Aku masih saja melihat ke depan…mmm…tidak, tepatnya agak ke sebelah kiri. Yap, objek yang satu itu begitu jelas tercetak di sana.

”Sssstt…Ci!”

Oke, konsentrasiku buyar seketika. Dengan segan aku menoleh ke barisan anak-anak kelas I-2 yang berada di sebelah kiriku. Nidia, sang pemilik suara, sedang memandangiku keheranan.

”Kamu kenapa senyam-senyum sendirian gitu? Serem tau!” bisiknya.

Aku diam saja, tetapi senyuman di bibirku kian melebar.

”Ada apa sih, Ci?”

 

Well, see who’s there standing in front of your class!

”Ha? Kagak keliatan, euy. Tura upacara?”

”Yap. Guess who?

”Hm…satu-satunya yang bisa buat kamu kayak orang gila sekarang ini kan cuma…ow, jangan bilang dia deh…”

”Asli, itu emang dia!”

”Yoga?”

”Hey, panggil Kang Yoga dong. Gitu-gitu juga dia kan kakak kelas kita.”

”Iya iya. Ternyata bener. Kirain kenapa…”

”Emang ga boleh ya?”

”Bukan gitu. Kamu kok jadi aneh gini sih? Udah 100% komit jadi fans Kang Yoga nih?”

Fans?

Aku hanya mengangkat bahu, dan mengalihkan pandanganku kembali ke objek semula. Fans? Hm…mungkin. Boleh juga, kenapa nggak? Gimana ntar aja deh. Yang penting sekarang, kapan lagi ngeliat orang itu berdiri ga jauh dari Suci?

***

…kali pertama kuamati kejeniusannya…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:06 pm on Tuesday, January 24, 2006

24 April 2002

Pernah merasa terpesona oleh seseorang yang memiliki kehebatan yang tidak kaumiliki? Apa pun, entah kebaikan, kejujuran, atau kejeniusannya?

Aku pernah.

Tadi siang aku merasakannya saat melihatnya. Di Aula sekolah diadakan portpolio PPKn. Pengujinya merupakan guru-guru yang berkompeten di bidangnya. Dan aku melihatnya ”terselip” di antara dosen-dosen yang sedang duduk. Entah berbicara apa, yang jelas aku terlanjur terpesona. Bagaimana bisa?

Excellent! Brilliant!

Aku menggeleng-gelengkan kepala saking herannya. Kang Yoga…Kang Yoga…manusia dari planet manakah dirimu?

***

nice poem!

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 5:02 pm on Tuesday, January 24, 2006

23 Januari 2006

Yoga, Friday, May 27, 2005 :

Cobalah rasai angin

dan awan ’kan menjaring angkuhmu

Cobalah renungi air

kau ’kan terbuai indahnya bijak

Cobalah selami hati

niscaya kau tahu saatnya teriak dan diam

Api harus terus menyala…

namun tak musti selalu berkobar

Hidup tak butuh pahlawan

Hidup hanya butuh pejuang

Demi Alloh…

Aku ingin terus begini

Menyikapi hidup dengan dewasa

dan bening hati

Sedikit tulisan yang tertera di atas secarik kertas ini tidak sengaja kutemukan terselip di antara kertas-kertas dan gambar-gambar guntingan majalah. Aku mengambilnya dan menyisihkannya. Hm…sedikit tulisan yang kucuri tanpa izin penulisnya saat itu. Nice poem! Begitu bermakna. Kubaca berulang-ulang dan meresapi apa yang hendak disampaikan Yoga. Mataku berhenti pada tiga larik terakhir: //Aku ingin terus begini/ Menyikapi hidup dengan dewasa/ dan bening hati//. Ingatanku melayang membiaskan memori lalu…

Yoga kenal seorang akhwat, Ci. Dia udah Yoga anggap sahabat Yoga. Yoga seneng kalo ngobrol sama dia, tapi cuma itu aja. Ga lebih. Lalu Yoga minjemin dia buku. Ga ada maksud apa-apa. Eh, pas dia balikin buku itu, ada kertas gitu nyelip. Tau ga tulisannya apa? Suer Yoga kaget banget! Dia nulis: ’Aku ingin terus begini/ Menyikapi cinta/ Dengan bening hati’. Yoga gamau itu sampai terulang lagi. Jadi rada trauma juga. Tapi ya mo gimana lagi…ini udah takdir Alloh. Walaupun, abis nerima kertas itu, Yoga jadi ngerasa ga enak sama dia…”

Hmm…sinkronisitas yang indah, benar bukan?

Terkadang kita memang tidak menyadari, atau enggan menyadari, atau pura-pura tidak menyadari, atau juga sadar sesadar-sadarnya, bahwa keberadaan seseorang dalam hidup kita memberikan inspirasi dalam diri kita. Apa pun itu. Entah sifatnya, sikapnya, atau kata-kata yang keluar dari mulutnya, atau tulisan yang tertoreh dari tangannya.

Ya, seperti yang selalu aku rasakan terhadapmu, Yoga.

***

tentang sebuah saran

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 4:54 pm on Tuesday, January 24, 2006

<+628132067****> 31-12-2005 13:49

Mmm..klo dgn mnulis crita ttg Yoga Firdaus itu bikin kmu (scara tak dsadari) makin gundah, mndingan ga ush nulis lg, brbahagialah :) 2006 yg indah bentar lg dtg :)

Maafkan aku. Aku hanya ingin menyelesaikan kisah ini, karena ternyata bukan hanya kau saja yang ingin mengetahui apa yang terjadi sejak aku mengenalmu hingga saat ini. Aku harus melakukannya, bukan sebagai sebuah kewajiban atau keterpaksaan. Aku hanya ingin meringankan beban keingintahuan yang bergelayut dalam benak kalian. Well, I’m happy enough saat menuliskannya. Memanjakan kenangan, menjadikannya pelajaran, mengambil hikmah dari semua yang terjadi. Karena itu, bacalah hingga aku mengakhiri kisahnya. Terima kasih.

***

Next Page »