coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

…ini adalah sebuah prolog…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 2:45 am on Tuesday, December 20, 2005

…Dalam menempuh kehidupan kita memang harus kadang-kadang berhenti sejenak untuk melihat apa saja yang telah kita lalui… (Sapardi Djoko Damono)

Ini hanyalah sebuah prolog singkat untuk mengawali sebuah kisah yang akan jemari ini tuliskan. Bukan kisah tentang sepasang kekasih. Bukan pula tentang sepasang sahabat. Hanyalah kisah tentang dua orang manusia yang saling mengenal secara tidak sengaja dan dalam proses berinteraksi pun mereka dipenuhi ketidaksengajaan yang terkadang menimbulkan tanda tanya: INIKAH TAKDIR? Ah, sudahlah, lagi-lagi ini hanya serenade sepenggal kisah. Ya, penggalan-penggalan kisah yang memaksa untuk disenandungkan dalam irama serenade yang konstan…

PROLOG

Ruang waktu adalah hamparan luas tak bertepi. Terdiri dari rantai detik, sambung menyambung menjadi menit, jam, minggu, bulan, dan lakon hidup kita terjadi di dalamnya. Pernahkah kita berpikir: bagaimana bila sebuah kejadian, pada detik tertentu, seminggu yang lalu, tidak terjadi seperti yang kita alami? Cukup SATU DETIK saja…satu detik YANG MENENTUKAN PERBEDAAN.

( Monty Tiwa - penulis skenario Andai Ia Tahu)

_ suatu senja saat rintik hujan di sebuah warnet sederhana di bulan Desember _

From <Yoga> 15-11-2005 21:36

Klo ga kberatan tlg critakan apa yg tjadi sjak dulu kmu knal Yoga smp skrg..

Yoga Firdaus. Sebuah nama yang menyiratkan berjuta makna. Bukan makna secara etimologi, harafiah, atau apa pun, tetapi makna yang lain yang lebih dari itu. Hanya Suci yang mengerti itu. Sebanyak 65 buah SMS dengan nama itu masih tersimpan rapi di handphone Nokia 3650-nya, dalam folder bertajuk "dr.Yoga Firdaus,Sp.BS.".

Suci menghela napas. Ia merasa agak letih belakangan ini. Apalagi setelah terjadi peristiwa itu. Kebodohan terfatal yang pernah dilakukannya seumur hidup! Suatu malam di pertengahan November, saat semua berawal baik-baik saja, hingga ia membuat semuanya menjadi tidak baik-baik saja. Hingga kini ia merasakan rasa bersalah yang teramat sangat pada Yoga…

***

Tuk 17 Manusia yang Kemaren Dateng ke Rumah

Filed under: my lovely friends — cherry-calosa at 4:22 am on Saturday, December 10, 2005

Jumat, 9 Desember 2005

Happy 19th birthday 2 me…

What a beautiful day! Oci bahagia banget, karena 17 manusia yang dateng ke rumah oci sore-sore. Mereka dateng gitu aja, ngasih kebahagiaan, dan pergi ninggalin kesan dan kenangan yang teramat berarti. Here they are

1. Leny yang udah jadi penunjuk jalan

2. Adi

3. Jaka Gede

4. Dina

5. Wawa

6. Hendi

7. Miwra

8. Agung

9. Eris

10. Jaka Lemet

11. Rafan

12. Frengky

13. Opik

14. Bisma

15. Putra

16. Garnis

17. Bossie

Trima kasih buat kedatangannya

Trima kasih buat kado-kadonya (apalagi buat LeyNisMi yang ngasih buku Sukses Malam Pertama, duh kalian ini ya…)

Trima kasih buat guyuran air 3 embernya (yang sempet keminum seteguk dan ngebuat oci menggigil kedinginan…)

Trima kasih udah ngabisin makanan (yang tadinya dijatah buat 30 orang!)

Trima kasih atas doa-doanya di lembaran pesan&kesan, moga dikabulin Allah smuanya, amin…

Trima kasih buat…SMUANYA…

I Love You All!

Sayang banget dari 40 orang angkatan 2004 Sastra Indonesia, cuma 17 orang yang bisa dateng ke rumah, hiks…moga sisanya bisa ke rumah oci lain waktu ya :)

Untuk Setiap Manusia yang Sudi Meluangkan Waktu untuk Membaca Blog Oci

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:34 pm on Monday, December 5, 2005

Ketika Kepala Tak Mampu Menampung Semua Ide

Ketika Bibir Tak Sanggup Berbicara

Ketika Telinga Tak Ingin Mendengar

Ketika Diri Tak Bisa Bertindak

Ketika Kemarahan Tak Terbendung

Ketika Kesedihan Menerpa

Ketika Bahagia Menyapa

MENULISLAH!

Rembulan di Langit Hatiku

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 7:22 pm on Monday, December 5, 2005

Rembulan di langit hatiku

menyalalah engkau selalu

Temani kemana mesti kupergi

mencari tempat kita tuju

Kan kujaga nyalamu selalu

pelita perjalananku

Kan kujaga nyalamu selalu

rembulan di langit hatiku

Rembulan di langit hatiku

teguhlah engkau pandu aku

Ingatkanlahku bila tersalah

menempuh tempat kita tuju

Doakanlahku di salat malammu

pelita perjalananku

Doakanlahku di salat malammu

rembulan di langit hatiku

(EPISENTRUM)

when the rain fall from the sky

Filed under: about my 'heart keeper'... — cherry-calosa at 6:35 pm on Monday, December 5, 2005

* <08157303****> 21 Nov 2005 15:45

Saranmu bertahun2 lalu br uti lakukan skg, ternyata ujan2an sesekali enak ya, for just letting it fall on ur face n wash away all stuffs on ur head, hmh..

Yup, sometimes we needs the rain to wash away our bad luck. Senin, 5 Desember 2005 oci berhasil membuktikannya lagi untuk kesekian kalinya. Hari pertama acara 1 Bulan Bersama Sastra yang sempet bikin otakku mumet banget ga jelas. Pas melarikan diri dari pelataran parkir Gd.C, naik ke Gd.C buat kuliah KBI I, oci ga langsung masuk kelas, tapi diem dulu di depan jendela gede yang ngehadep ke Blue Stage. Dari jendela itu oci bisa liat dengan jelas rinai hujan yang mukul-mukul atap Blue Stage, indah, mantul-mantul ga beraturan, nimbulin suara yang konstan dan seolah mengetuk-ngetuk hati ini (ceilah bahasana…).

Lalu ada sebuah tangan mengibas di depan wajah oci, mengganggu pikiran oci yang lagi berusaha menyerap segala keindahan tadi.

"Hei, ngeliatin apa sih?"

"Ah ngga. Hujannya bagus…"

"Iya. Kayak salju ya?"

Oci cuma ngangguk. Dan manusia itu selama beberapa saat berdiri di sebelah oci, ikut menikmati keindahan hujan di luar sana. Oci kembali diingatkan akan kekesalan di hati oci karena ulah manusia di sebelah oci itu beberapa menit yang lalu. Ah, rasanya segala keindahan itu ga kerasa lagi…

"Tadinya mo minta nemenin, tapi ga enak. Lagi shaum kan?"

"Ngga kok. Lagi ngga shaum."

"Lho, trus knapa miskol tadi pagi?"

"Emang ga bisa tidur."

Lalu ga ada suara lagi. Dia beranjak pergi. Pandangan mata oci masih menyapu rinai hujan di luar jendela. Ah, jadi inget salah satu cerpen yang pernah oci buat. Disana salah satu tokohnya bilang: "Tuhan menurunkan hujan dari langit untuk menemani manusia-manusia yang sedang bersedih, yang bahkan terlalu sedih hingga air mata pun tidak cukup untuk melukiskan kesedihannya."

Dan hujan kian melebat. Dan oci masih sendiri di sana, berdiri diam ga bersuara, tanpa ada yang memedulikan. Lalu perlahan konjungtiva di mata pun bereaksi di luar kesadaran, membuat garis sejajar di kedua pipi.

Ya Allah, terima kasih atas rintikan hujan-Mu, yang menetesi kerapuhanku. Dengannya, tangisku terwakili…

Lalu manusia itu kembali. Oci cepat menghapus garis air di kedua pipi, dan dia kembali berdiri di sebelah oci, entah untuk apa.

"Udah kayak orang gila aja."

"Apaan?"

"Udah tahu tugas KBI?"

"Hah?"

"Tugas KBI. Pak Tatang ga ada."

"Oh."

Selesai berkata itu, oci berbalik tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya, berjalan lambat-lambat menaiki tangga ke lantai 2 Gd.C. Berharap dia mengejar untuk sekadar berkata "Ada apa?", tetapi ternyata tidak.

Ah, masihkah hujan terasa indah? Jika kepekaan hati manusia itu masih rapat terkunci, masihkah?

When the rain fall from the sky, …what should I gonna do?

Cuma 1:

ujan-ujanan.

« Previous Page