…kali pertama kutahu sisi keunikannya…
29 September 2001 Ketika kita telah memilih untuk mengagumi seorang manusia, benarkah kita selalu mencari keberadaannya?
Benarkah keberadaannya membuat kita bisa tersenyum di suasana apa pun?
Benarkah keberadaannya membuat kita bersyukur?
Lalu apa guna semua itu?
Bayangkan saja seperti sedikit penghibur hati ketika lara.
Secercah cahaya saat kegelapan menyelimuti.
Setetes air sewaktu dahaga menyapa.
Seperti itulah rasanya.
Aku paling menyukai hujan. Kurasa hujan adalah rahasia alam terindah yang dihadirkan-Nya untuk membuatku tersenyum. Bagaimanapun muramnya suasana hatiku hari itu, jika hujan mulai turun membasahi bumi, muram itu seakan berganti cerah dan nyaris hilang sama sekali.
Jam tanganku menunjukkan pukul 2 siang. Aku sedang malas untuk buru-buru pulang. Lagi-lagi bangku di depan kelasku menjadi tempat ternyaman untuk melepaskan penat. Sekolah mulai sepi, hanya masih ada sejumlah orang lalu-lalang di hadapanku. Aku memandangi semburan air mancur yang terlihat begitu indah, sementara pikiranku mengembara entah kemana. Aku hanya letih. Itu saja.
Tiba-tiba pandanganku menangkap tetes-tetes air hujan yang jatuh dari langit. Aku mendongak. Wah, hujan! Betapa menyenangkannya…sepertinya aku akan terus berada di sini hingga hujan berhenti. Senyumku mulai mengembang. Terima kasih, Ya Allah…
Selama beberapa saat aku terhanyut dalam irama suara hujan yang terpantul-pantul menyentuh ubin. Tidak lebat memang, tetapi turun dengan butiran-butiran yang indah. Aroma tanah basah kuhirup dalam-dalam, terasa menggelitik saraf-saraf penciumanku. Ah, segarnya…Sesaat aku merasa hanya ada aku seorang di sana. Ya, aku, bersama hujan, air mancur, dan aroma tanah.
Tapi ternyata aku tidak sendiri.
Muncul sosok itu dari arah Ruang Guru. Suara langkah kakinya tidak terdengar, tahu-tahu saja sudut mataku menangkap sosoknya. Saat menoleh ke arahnya, aku terkesiap.
Kang Yoga.
Kurasa aku menahan napas, entah berapa lama, dan tidak melepaskan pandang darinya. Kuamati keseluruhan dirinya. Seakan tidak menyadari adanya aku, ia lewat begitu saja di hadapanku, menuju ke arah laboratorium. Yang mengherankan, ia tidak memakai alas kaki alias nyeker! Amazing! Awalnya aku terheran-heran, tetapi lama-lama aku terkikik geli. Ya ampun, Kang Yoga ngapain?
Tidak hanya itu saja. Aku nyaris tertawa geli karena dengan cueknya ia meloncat-loncat seperti menari menuruti langkah kakinya. Mulutnya melantunkan siulan pelan dan wajahnya terlihat begitu berseri. Hei, apa yang membuatmu bisa begitu terlihat berbahagia seperti itu, Kang Yoga?
Ia sama sekali tidak melihat ke arahku, seakan hanya ia, hujan, dan siulannya yang ada di sini. Ia dan dunianya, tidak termasuk aku. Aku tersenyum lebar mengiringi sosoknya yang lama-lama tidak terlihat lagi.
Kang Yoga yang unik. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sedikit tidak percaya bahwa yang kulihat tadi benar-benar Kang Yoga.
Penatku lenyap seketika. Sementara itu, langit masih saja mengucurkan air matanya.
***