coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

…kali pertama kutahu kesederhanaannya…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:52 pm on Thursday, December 29, 2005

19 Oktober 2001

sang waktu membantuku membuka lembar-lembar dirinya sedikit demi sedikit
menyingkap tetes demi tetes rahasia yang ada padanya
ternyata ia begitu sederhana…

Pagi ini aku nyaris saja terlambat. Gerbang sekolahku sudah tertutup 15 menit setelah bel berbunyi, atau tepatnya pukul 7 kurang 15 menit. Aku masih duduk di dalam angkot saat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit. Detak jantungku sudah tidak karuan. Maklumlah, ini pertama kalinya aku terlambat. Biasanya aku sudah duduk manis di dalam kelas pukul 6 lewat 15 menit.

Aku memang paling tidak suka datang ke sekolah menjelang bel berbunyi. Pedoman hidupku adalah lebih baik datang kepagian daripada datang kesiangan. Bertolak belakang sekali dengan pedoman hidup Nidia yaitu datang kesiangan setiap hari adalah kewajaran yang bisa disebut kebiasaan, hahaha…

Sahabatku yang doyan telat itu pernah bercerita bahwa tiap hari guru piket selalu berganti-ganti. Ada guru yang baik hati dan masih membukakan gerbang pukul 7, ada pula guru yang begitu disiplin yang menutup gerbang pukul 7 kurang 15 tepat. Namun, ada pula guru yang tidak eling-eling dan menutup gerbang 5 atau 10 menit setelah bel berbunyi. Wah, kejamnya…

Walaupun sering diceritakan Nidia tentang pengalaman telatnya setiap hari, tetap saja ketika aku mengalaminya kini aku masih merasakan kekhawatiran. Dalam hati aku berdoa semoga saja aku berhadapan dengan guru yang baik hati, yang masih membuka gerbang walaupun sudah pukul 7. Amin…

Sambil komat-kamit berdoa, aku memandangi lalu lintas sekitar yang macet. Bunyi klakson berbunyi nyaring bergantian dari mobil yang satu ke mobil yang lain. Motor-motor menyalip ke kanan dan ke kiri, semakin menambah sesaknya lalu lintas.

Tiba-tiba mataku menangkap kelebat sepeda yang berusaha menyalip melewati angkot yang kutumpangi. Aku mengamati sosok samping pengendaranya yang mengenakan seragam SMA, kemeja putih dan celana panjang abu-abu. Saat aku melihat wajahnya, mulutku berhenti berkomat-kamit.

Hey, itu kan Kang Yoga?

Ya, itu memang dia. Hanya beberapa detik aku melihatnya, karena dalam sekejap saja sepedanya berhasil menyusul angkot yang kutumpangi, dan kemudian lenyap terhalang kendaraan-kendaraan lainnya.

Lidahku berdecak kaget. Hm…, jadi selama ini dia berangkat ke sekolah dengan bersepeda? Kupikir ia seperti sebagian besar siswa sekolahku yang menggunakan mobil atau motor saat berangkat ke sekolah. Nyatanya ia bersepeda dengan cueknya. Sungguh bersahaja!

Akhirnya beberapa menit kemudian aku turun dari angkot. Saat berjalan melewati tempat parkir motor, aku melihat kembali sososknya yang sedang memarkirkan sepedanya di antara motor-motor yang penuh sesak di sana. Aku tersenyum simpul mendapati bahwa sepeda itu adalah satu-satunya sepeda yang ada di sana.

Yoga berbalik dan berlari kecil menuju ruang piket. Aku pun mempercepat langkahku sambil menahan napas mencoba meredakan debar jantung kecemasanku. Ya Allah, semoga yang menjaga ruang piket nanti bukan guru yang kejam itu…

***



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>