…feeling blue…
Tiga hari menjelang tahun baru 2006
Mujahid dambaanku,
Apa kabarmu siang ini? Aku merindumu, sungguh. Entah kenapa pucuk-pucuk rindu itu hadir begitu saja dalam hati dan pikiranku. Ingatanku mengembara padamu, pada untaian kata-katamu yang selalu terasa bagai tetesan embun pagi yang menyejukkan rerumputan. Ya, aku rerumputan yang haus dahaga, dan kata-katamu adalah embun penyejuk dahagaku.
Mujahid dambaanku,
Aku tidak selalu bisa melihat wujudmu di setiap saat aku meniti hari. Cukuplah aku bersyukur saat Allah memperkenankan aku melihat wujudmu di suatu pagi, siang ataupun malam searah takdir yang telah digariskan-Nya. Aku lebih sering menjumpai kata-katamu sebagai perwakilan adamu. Sungguh satu huruf saja sudah cukup menggetarkan sarafku. Kata-katamu itu, ya, kata-katamu itu…
Mujahid dambaanku,
Engkau seakan menjelma malaikat yang terbang melintasi jalan hidupku. Dengan ikhlas hati kau menuntunku menjauhi kekelaman jiwa yang selama ini kupelihara sebelum kau datang. Lalu kau merengkuhku dengan hangat sayapmu, mengalirkan kehangatan tiada tara. Aku sempat berpikir bahwa kaulah perantara nur Illahi yang dihadirkan untukku. Indahmu memesonakan batinku begitu rupa.
Mujahid dambaanku,
Aku tahu aku tidak selayaknya memujamu, bahkan untuk sekadar menatap belakang sosokmu. Aku bukanlah seperti bidadari-bidadari yang selalu ada di sekelilingmu yang mengitarimu begitu dekat walau mereka pun takkuasa untuk menyentuhmu. Aku tidak lebih hanya seonggok debu yang nyaris dapat dikatakan bukan apa-apa dan sedang berusaha untuk menjadi sesuatu yang lebih berarti. Aku rendah diri di hadapanmu, di hadapan bidadari-bidadari itu.
Mujahid dambaanku,
Tolonglah aku, bawalah aku dari kubangan lumpur tempatku tersuruk kini. Aku sendirian, aku membutuhkanmu di sampingku untuk membantuku berjuang. Aku terlalu letih dan tidak sanggup menghadapi orang-orang ini sendirian. Mereka sedarah daging denganku, tetapi mereka tidak kaffah menjalani aturan Illahi. Mereka belum memahaminya dan aku merasa terlalu lemah untuk mampu membuat mereka memahami itu semua. Dampingilah aku…
Mujahid dambaanku,
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan, ala manhaji kitabillah wa sunnati Rasulillah” adalah kalimat yang begitu ingin kudengar dari mulutmu suatu hari nanti, dengan lantunan suaramu yang terlembut yang pernah terdengar. Tapi tidakkah aku terlalu bermimpi? Kau serupa malaikat, dan sepantasnya bersanding dengan seorang bidadari yang tak jauh berbeda denganmu, yang salehah, bermata jeli, berparas elok…bukan sepertiku!
Mujahid dambaanku,
Tangis dalam hatiku bagai rinai hujan di kota yang tertumpah kala mengingatmu. Namamu senantiasa terucap di antara lantunan doaku. Biarlah rasa kasihku hanya terpendam dalam jiwa, karena aku tidak yakin kebahagiaaanku adalah kebahagiaanmu, harapanku juga harapanmu, dan rinduku juga rindumu. Tapi yang pasti, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, harapanmu adalah harapanku, dan rindumu adalah rinduku. Bukankah kita sama-sama mengharap dan merindu surga?
Mujahid dambaanku,
Maafkan aku, karena baru menyadari, betapa aku telah mengasihimu sedalam ini…
***
Aku berhenti menulis. Ya Allah, apa yang sudah kutulis ini? Astagfirullah…cepat-cepat aku melantunkan istighfar berkali-kali. Layakkah rindu itu merajai qolbu? Jika ini merupakan hal yang sia-sia, mengapa desakan jemariku tiada mampu kubendung saat menulis semua ini? Lantas apalagi skenario dari-Nya untukku?
Oh jiwaku, di manakah aku kini?
Kaubawa aku melintasi tempat yang tinggi
Oh tubuhku, mengapakah engkau kini?
Masih membisu tak kunjung bicara padaku
Ceritakanlah padaku,
Apa yang mengeruhkan hati dan jiwaku?
Tolonglah kautuntunkan aku lagi
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku
Penuntun jiwaku, luruskanlah hatiku
Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi nanti
Aku masih terus melayang
Bersandingkan langit hitam
Masih melayang…terus melayang…
Ceritakanlah padaku,
Apa yang mengeruhkan hidup dan jiwaku?
Tolonglah kautuntunkan aku lagi
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku
Tak perlu kutangisi
Kupasrahkan sekuat hati
Saat jiwa terlepas…saat jiwa terlepas…
(HITAM, lyrics by Piyu-Padi)
***