Jam-jam menjelang tahun baru
From : <Yoga>
24-07-2003 17:45
”Karena hanya
4JJI yg mengenggam stiap jiwa dan sanggup mlakukan apapun atasnya. Ya
Rabb…iringilah stiap langkahku dngan cintaMu yg takkan prnah padam…”
From : <Yoga>
10-02-2004 21:21
”Brgsiapa yg
mmujaku…ssunguhnya aku kelak akan mati…Brgsiapa yg mnyembah 4JJI…sesungguhnya
4JJI Maha Hidup, Tiada bagiNya kmatian.. (bukan quran/hadist)”
Pagi ini Jatinangor
mendung. Sebentar lagi tahun baru 2006. Mungkin karena itu Jatinangor yang biasa
ramai kini terasa sepi. Aku menghela napas, mencoba meredakan gundah yang
bergelayut sejak semalam, sejak aku menerima SMS-SMS darinya. Kuraih HP yang
tergeletak begitu saja di meja. Kubuka kembali folder ’dr.Yoga Firdaus,
Sp.BS.’, yang kini sudah terisi sebanyak 70 pesan. Pelan-pelan aku menelusuri
setiap kata yang baru saja dikirimnya semalam, melalui 3 SMS:
From : <Yoga>
29-12-2005 20:32
Hanya kpd
4WI-lah org2 mu’min btawakal.. Dan hanya kpd 4WI-lah para ahli tawakal
btawakal.. Katakan padaku..!! Apa yg lebih baik daripada takdir 4WI???
From : <Yoga>
29-12-2005 20:47
Katakan pula
padaku..!!!Siapa yg lebih layak dcintai drpada 4WI..
From : <Yoga>
29-12-2005 20:48
Aktvs dakwah buknlah
tmbok kokoh yg tak bprasaan, mereka adlh manusia dgn hati yg lembut. Mnikmati
cinta, mnghadirkan cinta, mrangkai cinta, stiap hr..Merekalah ssungguhnya
klmpok mnusia yg pling sring jatuh cinta..
Lagi-lagi konjungtiva
di kedua mataku mengalir, menciptakan dua garis sejajar di kedua pipi, sama
seperti semalam. Kata-katanya bagai ribuan pedang yang menusuk jantungku,
mengalirkan darah penyesalan karena telah melakukan kekhilafan dengan melupakan
semua itu. Aku jadi teringat akan petikan kata-kata dari salah satu bagian
cerita buku Ayat-Ayat Cinta yang ditulis Habiburrahman El Shirazy. Tokoh
utamanya, Fahri Abdullah Shiddiq, menuliskan kalimat-kalimat ini sebagai
balasan dari surat cinta yang diterimanya dari Nurul Azkiya:
”Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Saat menulis ini hatiku gerimis. Tiada henti
kuberdoa semoga Allah menyejukkan hatimu, menerangkan pikiranmu, membersihkan
jiwamu, dan mengangkat dirimu dari segala jenis penderitaan dan kepiluan.
Aku sudah
membacanya dengan seksama dan aku memahami semua kata-kata yang kautulis. Dalam
hidup ini, cinta bukanlah segalanya. Masih ada yang lebih penting dari cinta.
Sebenarnya jikalau kita bercinta maka seharusnya itu menjadi salah satu pintu
menjalankan ibadah. Janganlah terlalu kauturutkan perasaanmu. Gunakanlah akal
sehatmu, karena akal sehat adalah termasuk bagian dari wahyu.
Cinta sejati
dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu
cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta
semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan.
Terkadang,
tanpa sengaja kita telah menyengsarakan orang lain. Itulah yang mungkin
kulakukan padamu. Maafkanlah aku. Semoga Allah masih terus berkenan memberikan
hidayah dan rahmat-Nya, juga maghfirah-Nya kepada kita semua. Wassalam.”
Aku pun teringat akan
sebuah lagu apik yang dilantunkan grup nasyid The Fikr berikut ini:
Mencintai,
dicintai, fitrah manusia / Setiap insan di dunia akan merasakannya / Indah
ceria kadang merana / Itulah rasa cinta / Berlindunglah pada Allah / dari cinta
palsu / Melalaikan manusia hingga berpaling dari-Nya / Menipu daya dan
melenakan / Sadarilah wahai kawan / Cinta adalah karunia-Nya / Bila dijaga
dengan sempurna / Resah menimpa, gundah menjelma / Jika cinta tak dipelihara /
Cinta pada Allah / Cinta yang hakiki / Cinta pada Allah / Cinta yang sejati /
Bersihkan diri, gapailah cinta / Cinta Illahi / Utamakanlah cinta pada-Nya /
Terjagalah amalan kita / Binalah slalu cinta Illahi / Hidup kita ’kan bahagia
Apakah makna cinta itu sendiri? Sampai sekarang aku belum mengerti.
Yang kutahu dan kuyakini, cinta adalah sebentuk
kerelaan untuk menerima apa pun dari Allah.
Cinta adalah kemerdekaan: untuk
memilih menjadi lebih baik tanpa ketergantungan, di mana kita tidak terpasung
dalam keinginan untuk dipuji dan ketakutan akan celaan.
Cinta adalah energi
untuk terus berusaha memerdekakan diri agar tetap ada dalam lingkungan
kebaikan.
Cinta bukan kekaguman yang menyiksa!
Dan jika cinta adalah sebentuk
kemerdekaan, maka kita pun tidak boleh memaksakan diri untuk meraih cinta yang
bukan milik kita.
Dan kita akan selalu berusaha untuk dicintai dengan sebuah
standar cinta yang sebenarnya.
Cinta yang hanya kita dan Allah yang
tahu…
Cinta yang melahirkan energi untuk terus berjuang.
Benarkah seperti itu?
Ya, itulah yang aku yakini.
Aku sudah tahu, para aktivis dakwah
itu…mereka bukanlah bidadari-bidadari dan malaikat-malaikat. Sepenuhnya
mereka adalah manusia biasa, yang dunia berada di genggaman mereka, dan akhirat
berada di hati mereka. Itulah yang membedakan mereka dengan aku, karena
kusadari dunia belum sepenuhnya berada dalam genggamanku, dan akhirat pun belum
sepenuhnya berada dalam hatiku. Merekalah yang di dalam hatinya terpatri tekad ini:
From : <Yoga>
04-08-2003 13:43
”Aku akan
muliakan diriku di hadapan 4JJI, mnjadi mujahid stiap saat, & takkan
brpaling dari jln dakwah ini sampai 4JJI mnjemputku dgn kmatian yg syahid di
jalanNya”
Lalu seperti apa cinta yang mereka
rasakan? Aku yakin, adalah cinta seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah:
”Cinta laksana pohon
yang tumbuh di dalam hati.
Akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang
dicintai.
Dahannya adalah mengetahui-Nya.
Rantingnya adalah rasa takut
kepada-Nya.
Daunnya adalah rasa malu.
Buahnya adalah ketaatan kepada-Nya,
dan
air yang menghidupinya adalah menyebut nama-Nya.”
Betapa indah, Ga. Aku ingin sekali bisa seperti mereka, yang senantiasa berhati damai karena mengingat Allah, yang bibir mereka selalu basah berzikir kepada Allah…. Ingin sekali, tapi aku masih belum yakin aku bisa seperti mereka.
Yoga, jika di benakmu kini muncul sebuah pertanyaan:
"Apakah kau telah jatuh cinta padaku, Suci?"
Apakah aku harus menjawabnya?
Ana asif
jiddan, akhi. Wallahi, ana asif jiddan! Aku benar-benar tidak bisa menjawabnya.
Setidaknya untuk saat ini…
***