coretan-coretan tangan seorang rosi rosmala dewi

MenYeLami HaTi… MeMakNai DiRi… MeReSapI HiDUp…

always remember this!

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 9:40 pm on Thursday, December 29, 2005

Di suatu tempat,

entah di mana, di dunia

Seseorang menunggumu,
berdoa

Seperti doa yang biasa

engkau ucapkan sehabis
sholat

Pada suatu saat,

entah apabila, di dunia

Seseorang merindukanmu,
berjaga-jaga

Seperti malam-malammu
yang berlalu sangat lamban

Seseorang menunggu,
merindu,

berjaga dan berdoa

Di suatu tempat, pada
setiap

Seperti engkau,
selalu…

(Ajip Rosidi, ”Ular dan
Kabut”, 1972)

“Ana asif jiddan, akhi…”

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 8:59 pm on Thursday, December 29, 2005

Jam-jam menjelang tahun baru

From : <Yoga>
24-07-2003 17:45


”Karena hanya
4JJI yg mengenggam stiap jiwa dan sanggup mlakukan apapun atasnya. Ya
Rabb…iringilah stiap langkahku dngan cintaMu yg takkan prnah padam…”

From : <Yoga>
10-02-2004 21:21


”Brgsiapa yg
mmujaku…ssunguhnya aku kelak akan mati…Brgsiapa yg mnyembah 4JJI…sesungguhnya
4JJI Maha Hidup, Tiada bagiNya kmatian.. (bukan
quran/hadist)”

Pagi ini Jatinangor
mendung. Sebentar lagi tahun baru 2006.
Mungkin karena itu Jatinangor yang biasa
ramai kini terasa sepi. Aku menghela napas, mencoba meredakan gundah yang
bergelayut sejak semalam, sejak aku menerima SMS-SMS darinya. Kuraih HP yang
tergeletak begitu saja di meja. Kubuka kembali folder ’dr.Yoga Firdaus,
Sp.BS.’, yang kini sudah terisi sebanyak 70 pesan. Pelan-pelan aku menelusuri
setiap kata yang baru saja dikirimnya semalam, melalui 3 SMS:


From : <Yoga>
29-12-2005 20:32

Hanya kpd
4WI-lah org2 mu’min btawakal.. Dan hanya kpd 4WI-lah para ahli tawakal
btawakal.. Katakan padaku..!! Apa yg lebih baik daripada takdir 4WI???


From : <Yoga>
29-12-2005 20:47

Katakan pula
padaku..!!!Siapa yg lebih layak dcintai drpada 4WI..


From : <Yoga>
29-12-2005 20:48

Aktvs dakwah buknlah
tmbok kokoh yg tak bprasaan, mereka adlh manusia dgn hati yg lembut. Mnikmati
cinta, mnghadirkan cinta, mrangkai cinta, stiap hr..Merekalah ssungguhnya
klmpok mnusia yg pling sring jatuh cinta..


Lagi-lagi konjungtiva
di kedua mataku mengalir, menciptakan dua garis sejajar di kedua pipi, sama
seperti semalam. Kata-katanya bagai ribuan pedang yang menusuk jantungku,
mengalirkan darah penyesalan karena telah melakukan kekhilafan dengan melupakan
semua itu. Aku jadi teringat akan petikan kata-kata dari salah satu bagian
cerita buku Ayat-Ayat Cinta yang ditulis Habiburrahman El Shirazy. Tokoh
utamanya, Fahri Abdullah Shiddiq, menuliskan kalimat-kalimat ini sebagai
balasan dari surat cinta yang diterimanya dari Nurul Azkiya:

 
”Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Saat menulis ini hatiku gerimis. Tiada henti
kuberdoa semoga Allah menyejukkan hatimu, menerangkan pikiranmu, membersihkan
jiwamu, dan mengangkat dirimu dari segala jenis penderitaan dan kepiluan.

Aku sudah
membacanya dengan seksama dan aku memahami semua kata-kata yang kautulis. Dalam
hidup ini, cinta bukanlah segalanya. Masih ada yang lebih penting dari cinta.
Sebenarnya jikalau kita bercinta maka seharusnya itu menjadi salah satu pintu
menjalankan ibadah. Janganlah terlalu kauturutkan perasaanmu. Gunakanlah akal
sehatmu, karena akal sehat adalah termasuk bagian dari wahyu.

Cinta sejati
dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu
cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta
semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan.

Terkadang,
tanpa sengaja kita telah menyengsarakan orang lain. Itulah yang mungkin
kulakukan padamu. Maafkanlah aku. Semoga Allah masih terus berkenan memberikan
hidayah dan rahmat-Nya, juga maghfirah-Nya kepada kita semua. Wassalam.”

Aku pun teringat akan
sebuah lagu apik yang dilantunkan grup nasyid The Fikr berikut ini:

Mencintai,
dicintai, fitrah manusia / Setiap insan di dunia akan merasakannya / Indah
ceria kadang merana / Itulah rasa cinta / Berlindunglah pada Allah / dari cinta
palsu / Melalaikan manusia hingga berpaling dari-Nya / Menipu daya dan
melenakan / Sadarilah wahai kawan / Cinta adalah karunia-Nya / Bila dijaga
dengan sempurna / Resah menimpa, gundah menjelma / Jika cinta tak dipelihara /
Cinta pada Allah / Cinta yang hakiki / Cinta pada Allah / Cinta yang sejati /
Bersihkan diri, gapailah cinta / Cinta Illahi / Utamakanlah cinta pada-Nya /
Terjagalah amalan kita / Binalah slalu cinta Illahi / Hidup kita ’kan bahagia

Apakah makna cinta itu sendiri? Sampai sekarang aku belum mengerti.

Yang kutahu dan kuyakini, cinta adalah sebentuk
kerelaan untuk menerima apa pun dari Allah.

Cinta adalah kemerdekaan: untuk
memilih menjadi lebih baik tanpa ketergantungan, di mana kita tidak terpasung
dalam keinginan untuk dipuji dan ketakutan akan celaan.

Cinta adalah energi
untuk terus berusaha memerdekakan diri agar tetap ada dalam lingkungan
kebaikan.

Cinta bukan kekaguman yang menyiksa!

Dan jika cinta adalah sebentuk
kemerdekaan, maka kita pun tidak boleh memaksakan diri untuk meraih cinta yang
bukan milik kita.

Dan kita akan selalu berusaha untuk dicintai dengan sebuah
standar cinta yang sebenarnya.

Cinta yang hanya kita dan Allah yang
tahu…

Cinta yang melahirkan energi untuk terus berjuang.

Benarkah seperti itu?

Ya, itulah yang aku yakini.

Aku sudah tahu, para aktivis dakwah
itu…mereka bukanlah bidadari-bidadari dan malaikat-malaikat. Sepenuhnya
mereka adalah manusia biasa, yang dunia berada di genggaman mereka, dan akhirat
berada di hati mereka. Itulah yang membedakan mereka dengan aku, karena
kusadari dunia belum sepenuhnya berada dalam genggamanku, dan akhirat pun belum
sepenuhnya berada dalam hatiku. Merekalah yang di dalam hatinya terpatri tekad ini:

From : <Yoga>
04-08-2003 13:43

”Aku akan
muliakan diriku di hadapan 4JJI, mnjadi mujahid stiap saat, & takkan
brpaling dari jln dakwah ini sampai 4JJI mnjemputku dgn kmatian yg syahid di
jalanNya”

Lalu seperti apa cinta yang mereka
rasakan? Aku yakin, adalah cinta seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah:

”Cinta laksana pohon
yang tumbuh di dalam hati.
Akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang
dicintai.
Dahannya adalah mengetahui-Nya.
Rantingnya adalah rasa takut
kepada-Nya.
Daunnya adalah rasa malu.
Buahnya adalah ketaatan kepada-Nya,
dan
air yang menghidupinya adalah menyebut nama-Nya.”

Betapa indah, Ga. Aku ingin sekali bisa seperti mereka, yang senantiasa berhati damai karena mengingat Allah, yang bibir mereka selalu basah berzikir kepada Allah…. Ingin sekali, tapi aku masih belum yakin aku bisa seperti mereka.

Yoga, jika di benakmu kini muncul sebuah pertanyaan:

"Apakah kau telah jatuh cinta padaku, Suci?"

Apakah aku harus menjawabnya?

Ana asif
jiddan, akhi. Wallahi, ana asif jiddan!
Aku benar-benar tidak bisa menjawabnya.

Setidaknya untuk saat ini…

 ***

…kali pertama kutahu kesederhanaannya…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 7:52 pm on Thursday, December 29, 2005

19 Oktober 2001

sang waktu membantuku membuka lembar-lembar dirinya sedikit demi sedikit
menyingkap tetes demi tetes rahasia yang ada padanya
ternyata ia begitu sederhana…

Pagi ini aku nyaris saja terlambat. Gerbang sekolahku sudah tertutup 15 menit setelah bel berbunyi, atau tepatnya pukul 7 kurang 15 menit. Aku masih duduk di dalam angkot saat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit. Detak jantungku sudah tidak karuan. Maklumlah, ini pertama kalinya aku terlambat. Biasanya aku sudah duduk manis di dalam kelas pukul 6 lewat 15 menit.

Aku memang paling tidak suka datang ke sekolah menjelang bel berbunyi. Pedoman hidupku adalah lebih baik datang kepagian daripada datang kesiangan. Bertolak belakang sekali dengan pedoman hidup Nidia yaitu datang kesiangan setiap hari adalah kewajaran yang bisa disebut kebiasaan, hahaha…

Sahabatku yang doyan telat itu pernah bercerita bahwa tiap hari guru piket selalu berganti-ganti. Ada guru yang baik hati dan masih membukakan gerbang pukul 7, ada pula guru yang begitu disiplin yang menutup gerbang pukul 7 kurang 15 tepat. Namun, ada pula guru yang tidak eling-eling dan menutup gerbang 5 atau 10 menit setelah bel berbunyi. Wah, kejamnya…

Walaupun sering diceritakan Nidia tentang pengalaman telatnya setiap hari, tetap saja ketika aku mengalaminya kini aku masih merasakan kekhawatiran. Dalam hati aku berdoa semoga saja aku berhadapan dengan guru yang baik hati, yang masih membuka gerbang walaupun sudah pukul 7. Amin…

Sambil komat-kamit berdoa, aku memandangi lalu lintas sekitar yang macet. Bunyi klakson berbunyi nyaring bergantian dari mobil yang satu ke mobil yang lain. Motor-motor menyalip ke kanan dan ke kiri, semakin menambah sesaknya lalu lintas.

Tiba-tiba mataku menangkap kelebat sepeda yang berusaha menyalip melewati angkot yang kutumpangi. Aku mengamati sosok samping pengendaranya yang mengenakan seragam SMA, kemeja putih dan celana panjang abu-abu. Saat aku melihat wajahnya, mulutku berhenti berkomat-kamit.

Hey, itu kan Kang Yoga?

Ya, itu memang dia. Hanya beberapa detik aku melihatnya, karena dalam sekejap saja sepedanya berhasil menyusul angkot yang kutumpangi, dan kemudian lenyap terhalang kendaraan-kendaraan lainnya.

Lidahku berdecak kaget. Hm…, jadi selama ini dia berangkat ke sekolah dengan bersepeda? Kupikir ia seperti sebagian besar siswa sekolahku yang menggunakan mobil atau motor saat berangkat ke sekolah. Nyatanya ia bersepeda dengan cueknya. Sungguh bersahaja!

Akhirnya beberapa menit kemudian aku turun dari angkot. Saat berjalan melewati tempat parkir motor, aku melihat kembali sososknya yang sedang memarkirkan sepedanya di antara motor-motor yang penuh sesak di sana. Aku tersenyum simpul mendapati bahwa sepeda itu adalah satu-satunya sepeda yang ada di sana.

Yoga berbalik dan berlari kecil menuju ruang piket. Aku pun mempercepat langkahku sambil menahan napas mencoba meredakan debar jantung kecemasanku. Ya Allah, semoga yang menjaga ruang piket nanti bukan guru yang kejam itu…

***

REHAT: Sebuah Puisi Tentang Kegundahan

Filed under: corat-coret ga jelas — cherry-calosa at 11:18 pm on Tuesday, December 27, 2005

Ketika bayang itu muncul

gelisah segera menyergap…

jangankan teriak,

bicara saja gagu!

entah apa caranya…

iri terbersit saat melihat rumput

damai ikuti belaian angin

saat kucoba, angin malah menamparku!

menambah gundahku

menambah tanya dalam senyap

tanpa ada jawab!

< puisi sahabatku Putri: puisimu Oci banget untuk saat ini! >

…kali pertama kutahu sisi keunikannya…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 10:35 pm on Tuesday, December 27, 2005

29 September 2001

Ketika kita telah memilih untuk mengagumi seorang manusia, benarkah kita selalu mencari keberadaannya?

Benarkah keberadaannya membuat kita bisa tersenyum di suasana apa pun?

Benarkah keberadaannya membuat kita bersyukur?

Lalu apa guna semua itu?

Bayangkan saja seperti sedikit penghibur hati ketika lara.

Secercah cahaya saat kegelapan menyelimuti.

Setetes air sewaktu dahaga menyapa.

Seperti itulah rasanya.

Aku paling menyukai hujan. Kurasa hujan adalah rahasia alam terindah yang dihadirkan-Nya untuk membuatku tersenyum. Bagaimanapun muramnya suasana hatiku hari itu, jika hujan mulai turun membasahi bumi, muram itu seakan berganti cerah dan nyaris hilang sama sekali.

Jam tanganku menunjukkan pukul 2 siang. Aku sedang malas untuk buru-buru pulang. Lagi-lagi bangku di depan kelasku menjadi tempat ternyaman untuk melepaskan penat. Sekolah mulai sepi, hanya masih ada sejumlah orang lalu-lalang di hadapanku. Aku memandangi semburan air mancur yang terlihat begitu indah, sementara pikiranku mengembara entah kemana. Aku hanya letih. Itu saja.

Tiba-tiba pandanganku menangkap tetes-tetes air hujan yang jatuh dari langit. Aku mendongak. Wah, hujan! Betapa menyenangkannya…sepertinya aku akan terus berada di sini hingga hujan berhenti. Senyumku mulai mengembang. Terima kasih, Ya Allah…

Selama beberapa saat aku terhanyut dalam irama suara hujan yang terpantul-pantul menyentuh ubin. Tidak lebat memang, tetapi turun dengan butiran-butiran yang indah. Aroma tanah basah kuhirup dalam-dalam, terasa menggelitik saraf-saraf penciumanku. Ah, segarnya…Sesaat aku merasa hanya ada aku seorang di sana. Ya, aku, bersama hujan, air mancur, dan aroma tanah.

Tapi ternyata aku tidak sendiri.

Muncul sosok itu dari arah Ruang Guru. Suara langkah kakinya tidak terdengar, tahu-tahu saja sudut mataku menangkap sosoknya. Saat menoleh ke arahnya, aku terkesiap.

Kang Yoga.

Kurasa aku menahan napas, entah berapa lama, dan tidak melepaskan pandang darinya. Kuamati keseluruhan dirinya. Seakan tidak menyadari adanya aku, ia lewat begitu saja di hadapanku, menuju ke arah laboratorium. Yang mengherankan, ia tidak memakai alas kaki alias nyeker! Amazing! Awalnya aku terheran-heran, tetapi lama-lama aku terkikik geli. Ya ampun, Kang Yoga ngapain?

Tidak hanya itu saja. Aku nyaris tertawa geli karena dengan cueknya ia meloncat-loncat seperti menari menuruti langkah kakinya. Mulutnya melantunkan siulan pelan dan wajahnya terlihat begitu berseri. Hei, apa yang membuatmu bisa begitu terlihat berbahagia seperti itu, Kang Yoga?

Ia sama sekali tidak melihat ke arahku, seakan hanya ia, hujan, dan siulannya yang ada di sini. Ia dan dunianya, tidak termasuk aku. Aku tersenyum lebar mengiringi sosoknya yang lama-lama tidak terlihat lagi.

Kang Yoga yang unik. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sedikit tidak percaya bahwa yang kulihat tadi benar-benar Kang Yoga.

Penatku lenyap seketika. Sementara itu, langit masih saja mengucurkan air matanya.

***

…feeling blue…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 9:36 pm on Tuesday, December 27, 2005

Tiga hari menjelang tahun baru 2006

Mujahid dambaanku,

Apa kabarmu siang ini? Aku merindumu, sungguh. Entah kenapa pucuk-pucuk rindu itu hadir begitu saja dalam hati dan pikiranku. Ingatanku mengembara padamu, pada untaian kata-katamu yang selalu terasa bagai tetesan embun pagi yang menyejukkan rerumputan. Ya, aku rerumputan yang haus dahaga, dan kata-katamu adalah embun penyejuk dahagaku.

Mujahid dambaanku,

Aku tidak selalu bisa melihat wujudmu di setiap saat aku meniti hari. Cukuplah aku bersyukur saat Allah memperkenankan aku melihat wujudmu di suatu pagi, siang ataupun malam searah takdir yang telah digariskan-Nya. Aku lebih sering menjumpai kata-katamu sebagai perwakilan adamu. Sungguh satu huruf saja sudah cukup menggetarkan sarafku. Kata-katamu itu, ya, kata-katamu itu…

Mujahid dambaanku,

Engkau seakan menjelma malaikat yang terbang melintasi jalan hidupku. Dengan ikhlas hati kau menuntunku menjauhi kekelaman jiwa yang selama ini kupelihara sebelum kau datang. Lalu kau merengkuhku dengan hangat sayapmu, mengalirkan kehangatan tiada tara. Aku sempat berpikir bahwa kaulah perantara nur Illahi yang dihadirkan untukku. Indahmu memesonakan batinku begitu rupa.

Mujahid dambaanku,

Aku tahu aku tidak selayaknya memujamu, bahkan untuk sekadar menatap belakang sosokmu. Aku bukanlah seperti bidadari-bidadari yang selalu ada di sekelilingmu yang mengitarimu begitu dekat walau mereka pun takkuasa untuk menyentuhmu. Aku tidak lebih hanya seonggok debu yang nyaris dapat dikatakan bukan apa-apa dan sedang berusaha untuk menjadi sesuatu yang lebih berarti. Aku rendah diri di hadapanmu, di hadapan bidadari-bidadari itu.

Mujahid dambaanku,

Tolonglah aku, bawalah aku dari kubangan lumpur tempatku tersuruk kini. Aku sendirian, aku membutuhkanmu di sampingku untuk membantuku berjuang. Aku terlalu letih dan tidak sanggup menghadapi orang-orang ini sendirian. Mereka sedarah daging denganku, tetapi mereka tidak kaffah menjalani aturan Illahi. Mereka belum memahaminya dan aku merasa terlalu lemah untuk mampu membuat mereka memahami itu semua. Dampingilah aku…

Mujahid dambaanku,

“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan, ala manhaji kitabillah wa sunnati Rasulillah” adalah kalimat yang begitu ingin kudengar dari mulutmu suatu hari nanti, dengan lantunan suaramu yang terlembut yang pernah terdengar. Tapi tidakkah aku terlalu bermimpi? Kau serupa malaikat, dan sepantasnya bersanding dengan seorang bidadari yang tak jauh berbeda denganmu, yang salehah, bermata jeli, berparas elok…bukan sepertiku!

Mujahid dambaanku,

Tangis dalam hatiku bagai rinai hujan di kota yang tertumpah kala mengingatmu. Namamu senantiasa terucap di antara lantunan doaku. Biarlah rasa kasihku hanya terpendam dalam jiwa, karena aku tidak yakin kebahagiaaanku adalah kebahagiaanmu, harapanku juga harapanmu, dan rinduku juga rindumu. Tapi yang pasti, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, harapanmu adalah harapanku, dan rindumu adalah rinduku. Bukankah kita sama-sama mengharap dan merindu surga?

Mujahid dambaanku,

Maafkan aku, karena baru menyadari, betapa aku telah mengasihimu sedalam ini…

***

Aku berhenti menulis. Ya Allah, apa yang sudah kutulis ini? Astagfirullah…cepat-cepat aku melantunkan istighfar berkali-kali. Layakkah rindu itu merajai qolbu? Jika ini merupakan hal yang sia-sia, mengapa desakan jemariku tiada mampu kubendung saat menulis semua ini? Lantas apalagi skenario dari-Nya untukku?

Oh jiwaku, di manakah aku kini?

Kaubawa aku melintasi tempat yang tinggi

Oh tubuhku, mengapakah engkau kini?

Masih membisu tak kunjung bicara padaku

Ceritakanlah padaku,

Apa yang mengeruhkan hati dan jiwaku?

Tolonglah kautuntunkan aku lagi

Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Penuntun jiwaku, luruskanlah hatiku

Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi nanti

Aku masih terus melayang

Bersandingkan langit hitam

Masih melayang…terus melayang…

Ceritakanlah padaku,

Apa yang mengeruhkan hidup dan jiwaku?

Tolonglah kautuntunkan aku lagi

Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Tak perlu kutangisi

Kupasrahkan sekuat hati

Saat jiwa terlepas…saat jiwa terlepas…

(HITAM, lyrics by Piyu-Padi)

***

REHAT: Temukan Keindahan dalam Kesederhanaan

Filed under: kata-kata bermakna — cherry-calosa at 12:40 am on Saturday, December 24, 2005
"Di samping bersikap baik terhadap diri sendiri, kita juga perlu terbuka akan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Sepanjang hari, ada banyak orang yang memperhatikan kita lewat beberapa kata dorongan atau dengan cara sederhana lain. Namun, kita sering menganggapnya lumrah dan mengabaikan kekuatan dari dukungan mereka yang indah itu.

"Dukungan itu boleh jadi berupa keluarga dan teman yang mengucapkan kata-kata yang baik. Boleh jadi mereka menelepon kita hanya untuk mengatakan bahwa mereka sedang memikirkan kita. Atau, mereka melakukan hal-hal kecil bagi kita sehingga kita tak perlu melakukannya sendiri. Ini semua adalah rahmat yang sering tak diakui. Kita gagal mengenalinya karena kita demikian terbiasa dengannya, mungkin terlalu terbiasa. Lalu, kita merasa kehilangan ketika itu semua tidak ada lagi."

~ Robert J Wicks, "Riding The Dragon"

NB: thanks buat Mbak Bayik ^^ <http://bayik.blogdrive.com/>

…kali pertama kutahu namanya…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 3:07 am on Thursday, December 22, 2005

Namanya Yoga. Yoga Firdaus. Kelas II-4.

“Kenapa sih pake nyuruh nyari data soal dia segala?”

Tatapan penuh curiga Nidia kubalas dengan senyum simpul.

“Ngga. Cuma pengen tau aja kok. Tau ga Nid, ampe sekarang Suci selalu aja pengen ketawa kalo ga sengaja ngeliat makhluk yang satu itu. Masih keinget sama suaranya itu lho…hehehe…”

Nidia masih menatapku penuh curiga, tapi aku tak peduli. Aku duduk di atas bangku panjang di depan kelasku, I-1. Tepat di lahan depan kelasku ada kolam kecil dan tetumbuhan yang begitu asri dipandang mata. Sesekali air mancur di tengah kolam memancar indah. Di seberang sana terdapat gedung berlantai 3 yang diperuntukkan untuk murid-murid kelas II. Dari Nidia aku tahu bahwa kelas Yoga adalah di lantai 2 yang masih terjangkau oleh penglihatanku.

Diam-diam sejak saat itu aku sering duduk di atas bangku di depan kelasku, hanya untuk mendongak ke arah lantai 2 gedung itu, tepat ke arah kelasnya. Satu kali aku melihatnya bersandar ke tepian pagar tembok pembatas. Kali lain aku melihatnya sedang membaca sebuah buku dengan ekspresi wajah serius. Lalu terkadang kulihat dia sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya. Yang paling kusukai adalah saat memergokinya sedang termenung sendirian entah memikirkan apa sambil memandang ke bawah, ke arah kolam air mancur.

Nidia mulai mengikuti kebiasaanku mengamatinya, walaupun terkadang ia tidak habis pikir tentang alasanku sehingga bisa begitu memperhatikan makhluk bernama Yoga.

Hm…Kang Yoga Firdaus. Aku selalu tersenyum geli saat menyebut maupun mendengar namanya, teringat akan suaranya yang "menakjubkan" yang kudengar beberapa minggu yang lalu.

***

…kali pertama kudengar suaranya…

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 2:52 am on Thursday, December 22, 2005

Agustus 2001

Aku mencoba mencari posisi duduk yang senyaman mungkin di antara puluhan manusia yang sudah lebih duduk di sekelilingku. Tumben sekali hari ini ruangan ini penuh sesak. Nidia menepuk bahuku sambil tersenyum lebar.

"Hey, Ci, kemana aja? Kok dateng telat?" sapanya.

"Males…" jawabku sekenanya. "Sekarang acaranya apaan?"

"Ada grup nasyid mo nampil. Cowok-cowok kelas 2, smuanya anak DKM."

"Wah, serius? Untung aja pas banget. Duh, ga kliatan. Eh, buku curhat kita mana? Mo ngisi dong!"

Aku meraih buku mungil bergambar Winnie The Pooh yang diangsurkan Nidia. Memang sudah sejak kelas 1 SMP kami bersahabat. Takdir mempertemukan kami kembali di sekolah ini, salah satu SMA favorit di kota Bandung. Buku itu kami buat sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Isinya macam-macam. Yang jelas hanya ada kejujuran di dalamnya, karena kami saling terbuka dalam menceritakan berbagai hal.

Pembawa acara mulai memanggil grup nasyid ke atas panggung. Aku lebih tertarik membaca tulisan-tulisan Nidia di buku curhat kami. Sementara itu, musik mulai mengalun, mendamaikan hati. Lalu mulailah salah seorang diantaranya menyanyi. Aku masih tidak terlalu memperhatikan dan tetap menelusuri untaian huruf tulisan Nidia. Sebuah lagu mulai dilantunkan, hingga suara itu terdengar…

Hey, suara siapakah ini?

Aku berusaha mencari sang pemilik suara yang begitu menarik perhatianku itu. Namun, nihil hasilnya. Kepala manusia-manusia di depanku menghalangi penglihatanku. Lelah, aku pun menoleh ke arah Nidia.

"Nid, denger deh suara yang lagi nyanyi." bisikku.

Nidia menurut dan ia pun berusaha mencari sang pemilik suara yang sedang bernyanyi. Tiba-tiba ia terkikik.

"Ampun deh Ci. Pede banget yah? Apa dia ga nyadar kalo suaranya itu…"

"Sst…justru itu, Nid. Ini suara paling menakjubkan yang pernah Suci denger!"

Tawaku berderai begitu saja mengiringi cekikikan Nidia. Kualihkan pandanganku kembali ke arah panggung. Akhirnya mataku menangkap sosok itu, yang masih menyanyi dengan ekspresi wajah yang tampak begitu menghayati isi lagu.

"Eh liat, Nid. Matanya sampe peureum-peureum gitu. Lucu banget deh. Keliatan ga? Apa kamu kenal siapa dia?"

"Eh iya, keliatan. Hihihi…duh Ci, aku ga tau euy namanya siapa. Yang jelas dia temen Kang Pras. Duh Ci, dia mo nyanyi sampe kapan tuh?"

Aku menggeleng pelan dan kembali tertawa. Baru kali ini nemu orang yang begitu PD n ga nyadar kalo suaranya begitu "menakjubkan"…Lalu aku mulai menulis tentang sang pemilik suara itu di lembaran buku curhat yang masih ada di pangkuanku. Namanya siapa, ya? Oke, ini cerita tentang seorang cowok aneh anak DKM yang belom daku kenal tapi begitu menarik perhatian…

***

Serenade Sepenggal Kisah

Filed under: Uncategorized — cherry-calosa at 3:09 am on Tuesday, December 20, 2005

…jemari ini memang sudah tak sabar untuk menari samba, tango, ataupun  salsa di atas tuts-tuts keyboard komputer, mengalirkan sepenggal kisah di ambang mimpi dan kenyataan…dan jiwa ini haus untuk berbagi kata dengannya yang entah di mana…semoga kelak keseluruhan kisah ini bisa menjawab segala keingintahuanmu…mereka bilang ini novelet bersambung, aku bilang bukan…ini adalah pengejawantahan keinginanku untuk memenuhi pintanya…jadi cukup bacalah dan diamlah…tutup mulutmu dan bacalah dengan hatimu…tapi sayang sang waktu selalu saja sulit untuk kuajak berkompromi di meja perundingan untuk sekali saja membuatku merasa tidak dikejar-kejar…maafkan, tapi tunggulah aku dan kisahku…tidak sekarang, tapi nanti, nanti, nanti…entah kapan, tapi pasti ada…lalu mulut ini pun akan terkatup, mempercayakan segalanya pada tarian lincah jari-jemari ini…

< rosi rosmala dewi >

- kupersembahkan untuk ‘Yoga Firdaus’ : bersiap-siaplah untuk senyum, tawa, kerutan kening, helaan napas, pelototan mata, decakan lidah, dan reaksi-reaksi lainnya yang kuyakin akan kaualami saat matamu menelusuri setiap huruf dalam kisah ini…so, just read this until the story end!!! -

Next Page »